Connect with us

Hikmah

Melihat Hukum Syari Menikahi Saudara Sepupu

[JAKARTA, MASJIDUNA] — Menikah, bagi seorang muslim menjadi keharusan. Sebab bagi setiap laki-laki dan perempuan yang telah mampu lahir dan batin agar melangsungkan sebah pernikahan secara sah. Apalagi manusia diciptakan saling berpasang-pasangan.

Hanya saja menikah pun terdapat aturan hukumnya secara syari. Menikah dengan saudara sepupu dalam Islam diperbolehkan dan halal. Sebab saudara sepupu bukanlah bagian dari orang yang harap dinikahi. Allah Subhanahu Watta Ala dalam  Al-Qur’an  telah menjelaskan dalam suurah Al-Ahzab.

Yakni tertuang dalam ayat 50 Allah berfirman: “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki dari apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu”.

Ulama fikih membagi tiga jenis hukum nikah bila kita kaitkan dengan siapa calon mempelai akan menikah. Pertama, hukum haram. Ini terjadi apabila kita menikahi seorang mahram, seperti ibu, adik kandung, anak perempuan, dan sebagainya. Kedua, hukum makruh. Ini terjadi bila kita menikah dengan famili yang sangat dekat seperti sepupu. Ketiga, hukum mubah. Ini terjadi bila kita menikah dengan famili jauh atau orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan kita.

Meskipun boleh dan halal menikah dengan sepupu, namun ulama Syafiiyah menyarankan agar menghindari menikah dengan sepupu. Karena itu mereka menghukuminya makruh. Dalam kitab Alwasith dan Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali mencantumkan perkataan Sayidina Umar:“Jangan kalian menikahi famili dekat karena akan menyebabkan lahir anak yang lemah.”

Sejalan dengan pendapat ulama fikih, situs Alodokter, (https://www.alodokter.com/risiko-kesehatan-menikah-dengan-sepupu-yang-perlu-dipertimbangkan), sebagaimana telah dibenarkan oleh dokter Allert Benedicto Ieuan Noya, memberi tahu risiko menikah dengan kerabat atau keluarga dekat, seperti cacat lahir, gangguan sistem kekebalan tubuh, lahir mati atau stillbirth, dan gangguan mental. Wallahu a‘lam

[Sumber: BimasIslam/ilustrasi:Islampos]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Hikmah