Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
Ya. Ini sarkasme bangsawan, yaitu bangsa yang biasa hidup di awan, yang biasa hidup melangit tanpa keprihatinan dan kerendahan hati.
Masih saja ada orang yang menyebut-nyebut kelas sosial leluhur dan keluarga untuk mem-backing aksi arogansinya. Petuah luhur mengajarkan bahwa “Kita tidak menjadi terhormat hanya dengan numpang kemuliaan pada orang lain. Jangan pernah minta dihormati, jika akhlakmu tidak terpuji. Ingat! perlakuan orang lain pada kita adalah buah dari kebaikan kita”.
Narasi berikut ini adalah tuturan tentang kemuliaan, dan kesopanan. Kalian pernah mendengar kata “bangsawan”? Bangsawan adalah diksi plesetan di dunia stand up comedy dengan makna “bangsa yang biasa hidup di awan, congkak, tengadah dengan kesombongan, tanpa melihat ke bawah untuk tetap eksis dalam kesederhanaan, kelaziman, dan kerendahan hati”.
Secara sosiolinguistik, “bangsawan” bermakna orang yang hidup di kasta atas karena jabatan atau keturunan. Pakem bangsawan ini sejatinya sebagai narasi sarkastik; yaitu sebagai kritik terhadap arogansi kelas atas pada rakyat jelata. “Bangsawan” mengidapkan dilema psikologis mabuk penghargaan, dan sering minta diistimewakan.
Ada banyak kasus viral yang memalukan tentang kelakuan buruk kaum “bangsawan”. Dulu, 13 Agustus 2020, ada kegaduhan perseteruan Mumtaz Rais (politisi PAN, putera Amin Rais) dengan Nawawi Pomolango (wakil ketua KPK, saaat itu) di pesawat Garuda. Kasus ini disorot media terkait etika sosok “bangsawan” yang arogan. Kasus Mumtaz vs Nawawi menjadi satu pembelajaran penting tentang etika menghormati seseorang tanpa embel-embel dalam kaitannya dengan diksi “bangsawan” di atas.
Mumtaz Rais (diberitakan), dengan HP, menelepon saat dia sudah berada di pesawat yang transit di Makassar. Saat itu, pesawat terbang yang ditumpanginya sedang mengisi bahan bakar. Tindakan Mumtaz menelepon ditegur oleh kru Garuda (sampai 3 kali).
Namun Mumtaz tidak langsung berhenti menelepon. Sikap bengalnya ini mendorong Nawawi ikut mengingatkan Mumtaz, karena, mereka berdua sama-sama duduk di kursi BISNIS, bahkan di barisan yang sejajar.
Response Mumtaz pada himbauan Nawawi menjadi pembelajaran kita. Mumtaz berucap lirih kepada Nawawi dengan dua potongan kalimat singkat: “KAMU SIAPA?” dan “PAHLAWAN KESIANGAN”. Secara psikolinguistik, dalam konteks artikulasinya di atas, dua kalimat itu tidak bermakna positif. Ia berpesan implisit bahwa Mumtaz tidak terima saat ditegur dan juga bersikap arogan.
Sungguh, pasca kejadian dan setelah mendapat kritikan, walaupun Mumtaz sudah menyadari keburukan perilakunya, dan sudah minta maaf ke sejumlah pihak, namun tindakannya tetap sebagai gambaran keburukan psikologi (konasi) kaum “bangsawan”.
Fenomena perangai buruk kaum “bangsawan” tidak hanya dipertontonkan di drama Mumtaz di pesawat. Masih banyak dan mudah contoh kasus lain untuk disebutkan. Ya, inilah realitas sosial kaum “bangsawan.”
Apapun alasan formal apalagi etisnya, mengabaikan orang lain, apalagi bernada melecehkan dengan nuansa kesombongan, adalah tidak BAIK. Terutama, dengan sikap dan perilaku yang dibangun atas dasar kasta kedudukan orang lain sebagai orang berstrata biasa. Seharusnya, penghargaan kita kepada orang lain, etik sosialnya, atas prinsip moral, keadaban, kemanusiaan, kebenaran, dan etika pergaulan. Penghargaan pada orang lain tidak boleh atas dasar jabatan dan status sosialnya.
Hargailah Orang Lain Sebagai Manusia, Bukan Karena Jabatan-Kasta-Status Sosialnya, Karena Jabatan-Status Sosial Tidak Abadi. [RAN]
