Kebutuhan versus Keinginan

Oleh Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

Saya beruntung pada tahun 2007 dan 2009 diajak menjadi anggota the Indonesian Delegates for Indonesian-Norwegian Dialog on Human Rights, di Oslo, Norwegia. Acara dialog bilateral ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Norwegia. 

Di sela-sela waktu padat dan sibuk kegiatan dialog bilateral ini, di tahun 2009, Prof Tore Lindholm, mitra kerjasama, mengajakku keliling kota Olso. Tore, begitu sapaan akrabnya, adalah seorang filusuf yang di ujung karir dedikasi pengabdiannya, bekerja di Norwegian Centre for Human Rights, University of Oslo. Dia sungguh mengasyikkan saat diajak ngobrol. Tore selalu nyambung dan antusias kalau diajak ngobrol membahas hal-hal yang ringan, terutama tentang pemuliaan manusia. Dia sosok gaul sejati dan menyenangkan.

Sepanjang tour kota (city tour) Oslo, tema obrolan kami liar, asal ingat, tentu disela gurauan ha ha hi hi. Tema obrolan kami sepanjang perjalanan berkisar gaya nyupir, traffic lights, sampai teknis pembayaran jalan tol. Obrolan kami terkadang bergeser ke tema sosial, dan gaya hidup. 

Ada satu hal yang menarik kuriositasku, yaitu mobil yang dia kendarai. Dengan statusnya sebagai seorang profesor senior, Tore tentu bukan orang miskin. Namun, dia setia menggunakan Daihatsu Taruna yang jadul. Tipe serial produknya sangat standar; bahkan terkesan berkelas bawah untuk ukuran orang Indonesia. 

Mungkin ada yang berkomentar bahwa Tore sejatinya punya mobil lain yang terparkir di rumah. Ah itu pikiran nakal. Untungnya, saat itu, Tore mengajakku mampir ke rumahnya, sampai diajak naik sampai ke akar “lotengnya.” Ternyata, Tore memang tidak memiliki kendaraan lain.

Sosok Tore sungguh bersahaja. Dengan kesederhanaannya, pada tahun 2027, dia pernah memenuhi undangan makan malamku untuk menikmati menu sederhana di rumah kami di Pamulang, Tangerang Selatan. Wajahnya sumringah saat menyantap hidangan kami. Bahkan saat dijemput dengan mobil Kijang “butut” tua produk tahun 1980an, Tore tetap menampilkan profil hakikinya, yang sangat bersahaja. Dia nampak asyik dengan raungan mobil tua tanpa AC.

Kebiasaan dan kepribadiaan Tore selalu ceria. Sikap dan perilaku sosialnya yang apa adanya saat berkunjung ke rumah kami di Pamulang, tidak berubah saat kami tour kota di Oslo. Dia adalah tetap Tore seperti yang saya kenal di Jakarta. Saat saya tanya Daihatsu Tarunanya yang sederhana: “Kok mobilmu tidak seperti mobil orang Indonesia; mewah yang identik dengan jabatan dan kelas sosial?” 

Tore berujar singkat. Katanya: “Noryamin, kebutuhanku cukup dengan mobil seperti itu untuk pergi-pulang kerja. Untuk apa saya harus membeli tipe mobil mewah yang tidak dibutuhkan.”

Jawaban Tore terasa seperti menyasar dan mengiris dalam urat nadi marwah gaya hidup bangsaku. Banyak orang Indonesia yang penghasilannya pas-pasan, tetapi, gaya hidupnya selangit. Pinjam, ngutang sana sini, untuk memanjakan daftar keinginan dan gaya hidup, demi memuaskan hedonic treadmill. Dan di akhir bulan, sisa gaji yang dibawa pulang untuk keluarga tersunat dalam. Apakah tuhanmu nafsumu?

Tore bukan orang miskin. Status jabatan akademiknya adalah profesor dengan gaji di level standar maksimal. Istrinya seorang psikolog senior. Kata Tore, tarif jasa konsultasinya per jam dihargai di kisaran US$ 90-100 per jam, bahkan bisa lebih. Saya mengerti (setelah diberitahu) bahwa gaji Tore sebagai profesor mampu memanjakannya untuk mudah membeli mobil dengan merek dan seri yang lebih baik. Bahkan dia sejatinya mampu membeli beberapa mobil mewah untuk dikoleksi. “Tetapi, kata Tore “untuk apa dengan mobil-mobil itu? padahal dengan mobil Taruna, saya bisa bergerak leluasa dari satu sudut kota, ke pojok kota lainnya.”

Celotehan Tore menyadarkanku tentang basis perangai dan psiko-etis dan moral kebutuhan dan keinginan. Jawaban spontan Tore ini juga membawaku untuk merenungi petuah Gus Baha yang tenar (KH Ahmad Bahauddin Nursalim) dari Rembang. Gus Baha adalah seorang kiyai yang berilmu agama mumpuni, terutama ilmu tafsir, hadits dan fiqh. Gaya penampilan berbusanya sungguh tidak modestik! Gaya berpakaiannya sederhana.

Sungguh luar biasa! Gaya penampilan gus Baha sangat bersahaja. Dia kemana-mana merasa nyaman hanya memakai peci hitam, sarung, dan baju kemeja putih, terkadang terlihat lusuh, dan kurang tertata rapi. Dia tidak mengenakan embel-embel atribut aksesoris yang terkesan mewah. Tetapi Gus Baha, di setiap kesempatan dan kegiatan, selalu dan tetap dielu-elukan dan dihormati oleh pengagumnya, karena kesederhanaannya.

Gaya dan profil Gus Baha yang tidak neko-neko membuatku, juga pengagumnya, menyukai setiap materi kajiannya. Ada satu nasihat gus Baha yang melekat dalam pikiran dan qalbuku. Katanya: “Sebetulnya, hidup ini sederhana. Kita, sejatinya, tidak membutuhkan macam-macam. Namun bisik dan dorongan hasrat keinginan membuat kita memperbudak diri untuk memuaskan nafsu.” 

Begitu petuah sederhana Gus Baha. Dalam bahasa orang awam, “kita hanya butuh makan 2-3 kali dalam sehari, dan tidak harus dengan menu yang mewah dan mahal untuk menjalani kehidupan ini.” Kata temanku, Prof Amsal Bakhtiar, “kita sebetulnya hanya membutuhkan beberapa potong pakaian, alas kaki, dan alat kebutuhan lainnya. Keinginan telag membuat hidup kitamenjadi ruwet dan sembrawut” 

Coba diingat bahwa faktanya, gaya hidup sering membuat hidup kita susah. Ketika hasrat dan keinginan menjadi penguasi jiwa dan ikon jati diri, jumlah banyak terasa tidak cukup. Kegagalan memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan, membuat hidup seseorang menjadi menyedihkan. Standar dasar kebutuhan objektif, sangat jelas dan standar. Sebaliknya, keinginan sangat subjektif, tidak terukur. Ia terus membesar, melambung melangit seiring dengan hedonictreadmill.

Kata orang orang bijak bahwa keinginan adalah khayalan, utopia. Mimpi utopis, melangit untuk memuaskan dahaga nafsu, dan akan mudah membuat semuanya menjadi susah. Ia menjadi sumber kegelisahan dan kesedihan. Ya Allah, melambung tinggi dalam imaji angan dan keinginan, saat terjatuh, rasanya sungguh sakit. Ahmad ibn Muhammad Ibn Atha’illah As-Sakandari, sufi yang wafat 709 H, berwasiat “Cobalah sedikit, dan kurangi suatu hal yang diperlukan dan diinginkan, kamu pasti tidak mudah sedih”, karena kamu tidak memiliki alasan untuk sedih. Di kesempatan lain, beliau mengingatkan:

لِيِقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ

“Saat jumlah kebutuhan yang membuatmu bahagia ternyata berkurang, maka akan berkurang pula kuantitas hal-hal yang membuatmu sedih”. Kalau jumlah sedikit ternyata cukup, lalu kenapa jumlah banyak, bahkan berlebih, terus diburu, sampai kita menjadi budak gaya hidup dan nafsu keinginan, sampai-sampai kita tidak dapat menikmati indah dan bahagianya hidup.

Kutipan di atas menunjukkan bahwa kebahagiaan seseorang ditentukan oleh sedikit atau banyaknya citra obsesif seseorang pada isi dunia yang dimanjakan dengan gaya hidup dan keinginan. Petitih ini menjadi semakin menyentuh dalam kerangka narasi syair berikut.

وَمَنْ سَرُّهُ أَنْ لَايَرَى مَا يَسُوْؤُهُ * فَلَا يَتَّخِذْ شَيْئًا يَخَافُ لَهُ فَقْدًا

فَإِنَّ صَلَاحَ الْمَرْءِ يَرْجِعُ كُلُّهُ * فَسَادًا إِذِا الْإِنْسَانُ جَازَ بِهِ اِلْحَدًا

“Siapa bahagia jika dia tidak melihat sesuatu yang membuatnya susah, maka, janganlah dia mengambil benda-benda itu (apalagi dalam jumlah berlebih), jika dia khawatir kehilangannya. Karena, sesungguhnya seluruh kepantasan (kelaziman kebutuhan) seseorang akan rusak jika dia telah melampaui batas”.

Pesan etis dari tulisan ini adalah begini. Eskalasi keinginan sering menyeret kita melampaui batas kebutuhan. Karenanya, lambungan melangit hasrat keinginan sangat potensial menjadi akar kegelisahan hidup kita. Alhasil, coba dan teruslah hidup bergaya normal dan sederhana, serta kejarlah sesuatu sebatas kebutuhan, maka sesederhana itu proses kebahagiaan dapat kita rengkuh dalam keabadian. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *