Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
Ada kalimat bijak yang layak untuk direnungkan. Petuah leluhur mengingatkan bahwa “manusia tersesat dari jalan ilahi bukan karena dosa besar. Tetapi karena dia kehilangan kesadaran hakiki tentang siapa dirinya.
Ketika seorang hamba lupa tentang hakikat dirinya sebagai “hamba”, dia ingin dan berambisi menjadi “raja-penguasa” di singgasana keangkuhan. Saat terobsesi memburu kekuasaan, dia sering mengabaikan kebenaran, kesopanan, bahkan kewajaran.
Akhirnya, di jiwa yang penuh ambisi kekuasaan, Tuhan (Allāh) sering dipaksa-paksa, diperlakukan seperti layaknya jongos. Di sini, Tuhan diinstrumentasi, diperalat, didikte dalam doa, atau minimal dalam “curhatan” hati yang galau untuk memenuhi hasratnya. Dalam gejolak rasa egoisme dan ambisi sebagai raja, Tuhan sering diperlakukan sebagai “sosok” yang hanya dijadikan alat pemuas hasrat.
Dalam etos ambisius di batin calon penguasa, Tuhan, juga akhirnya, lazim dicari, didekati, bahkan dirayu untuk kepentingan pemenuhan hasrat kebutuhan. Tuhan layaknya seperti kloset kotor yang dicari saat sipemburu mules dan kebelet mau buang air besar (BAB). Setelah hajat BAB terlaksana, kloset di jiwa yang jorok dan egois, sering ditinggal begitu saja, tanpa disiram, apalagi dibersihkan sebagai ungkapan terimasih dan syukur.
Ketika seorang hamba lupa bahwa dirinya adalah milik Tuhan (Allāh), dengan ego posesif, dia akan sibuk dan berisik untuk menaklukkan dan menguasai dunia. Efek psikologisnya, Tuhan akan dia tinggalkan atas nama obsesi mengejar dunia.
Ketika lupa terhadap keberadaannya di dunia ini hanya sementara, seorang hamba akan terus memburu dan membanggakan hal-hal yang fana (segala yang bersifat serba sementara). Harta, pangkat, jabatan, status sosial, dan citra kehormatan diburu dan terus diperjuangkan. Si hamba berisik dan terus sibuk memburu validasi (pengakuan) orang lain tentang citra dirinya. Padahal, Tuhab (Allāh) adalah entitas keabadian (Baqā).
Camkanlah! Bukankah segala hal yang fana tidak layak untuk dijadikan ikon teras singgasana tujuan hidup kita. Segala hal yang fana sungguh tidak pernah, dan tidak kuasa membersamai kita saat kita meninggalkan panggung kehidupan dunia.
Segala hal yang fana akan kita tinggalkan saat kita dalam kesendirian menghadap Sang Pemilik keabadian. Di kematian, segala yang fana dilucuti dari identitas kita. Pasca kematian, tubuh dengan wajah yang elok berubah menjadi sebutan mayat. Nama yang indah berubah menjadi sebutan almarhum. Itupun jika kita betul-betul menjadi sosok hamba yang dikasihi Allāh.
Alhasil, jika hal-hal yang fana (sementara) akan kita tinggalkan pasca kematian, maka, apa hal-hal yang abadi yang telah kita persiapkan dan perjuangkan. [RAN]
