Ketaatan Beruk dan Kenakalan Manusia

Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

Kisah beruk dan renungan di tulisan sebelumnya menjadi sindiran keras untuk watak buruk (fujūr) manusia. Kecenderungan fujūr menggeliat ke arah yang licik, penuh kepura-puraan.

Istaghfirullah. Ini adalah perangai dan kelakuan banyak manusia. Mereka sering berpikir semua bisa diatur, termasuk mengatur halal-haram; “memutihkan hal-hal yang hitam, terutama abu-abu”. Ada manusia juga dengan liciknya merekayasa kematian dengan scenario tembak-menembak. Mereka mungkin berpikir bahwa hidup ini masih panjang untuk bertaubat, untuk memperbaiki diri. Padahal, semua sudah ada ketentuannya dalam catatan Allah. 

Hari esok belum tentu ada untuk kita memperbaiki diri. Tunggu kapan lagi untuk kembali ke jalan kebenaran dan kebaikan? Kalau hari esok tidak ada, karena kita terlancur wafat pada hari ini, maka semua media dan kesempatan untuk menjadi orang baik, otomatis, berakhir. Jangan tunda waktu untuk menjadi baik!

Pas pagi tadi salat Dhuha, saya tiba-tiba saja membaca surat al-Anbiya. Ayat ini (1) sangat mengingatkan kecerobohan manusia yang tidak teliti dan abai memahami tanda-tanda zaman.

اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ

Telah semakin dekat kepada manusia saat-saat audit (hisab) terhadap amal-perbuatannya. (Uniknya), mereka selalu saja lalai dan ceroboh (terhadapnya) (QS. al-Anbiya : 1). 

Manusia selalu berfokus pada keinginannya, pada egonya. Bahkan, sampai-sampai, keinginan (hawa-nafsu) menjadi tuan yang menjajah kesadarannya. Saat keinginan, hawa nafsu menjadi tuhan, maka keinginan-hawa nafsu akan mendikte cara pandangnya (mindset), dan menggiring serta membingkai perilakunya. Saat itu, manusia terpuruk menjadi budak keinginan dan nafsu. Akibatnya, di qalbu sosok pemuja nafsu, tidak akan hadir teguran Allah yang menyadarkan jalan hidupnya. 

Apakah kalian berkenan menjadi orang yang egois-berfokus pada kinginan-kepentingan menjadi wakil, wali kepentingan kalian? Penyadaran ini diungkapkan al-Quran dalam bahasa kritik di surat al-Furqan ayat 43-44.

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ

Apakah engkau (wahai Muhammad) telah melihat (dengan kasat mata) orang yang telah memuja hawa nafsu, keinganannya sebagai tuhan? Apakah engkau akan menjadikannya sebagai pelindung, penjamin (wakil, wali amanah kepentingan kalian)? (QS. al-Furqan : 43)

اَمْ تَحْسَبُ اَنَّ اَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ اَوْ يَعْقِلُوْنَۗ اِنْ هُمْ اِلَّا كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ سَبِيْلًا

Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan dari mereka itu mendengar atau memahami (kritik nalar ketuhanan ini)? Mereka itu hanya seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat di jalannya (karena gerak hidup mereka hanya memuja dan memanjakan dorongan nafsu yang menyesatkan). (QS. al-Furqan : 44). [RAN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *