Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
Rasulullah saw pernah bersabda “Demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya (Allah), (kesempurnaan) keimanan seorang hamba tidak bermakna sampai dia mendukung penuh obsesi (asa) saudaranya seperti dia mendambakan harapan itu untuk dirinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kisah ilustratif ini tentang pengalaman pribadiku; bukan kisah imajinatif. Ini cerita nyata dari sepenggal hikmah yang terlupakan. Di tahun 1994, saya dan istri, saat akhir pekan, sering diajak teman kelas kuliahku (Zane Ma Rhea or Zane M. Diamond) untuk jalan-jalan ke Meadows, pinggiran kota di Australia Selatan. Zane sekarang sudah menjadi profesor di Monash University, Melbourne. Suatu hari, Zane mengajak saya dan istri menginap di peternakan (ranch) tempat tinggalnya. Arealnya sangat luas dengan hewan ternak yang keliaran bebas tanpa kandang.
Semua kisah kami di ranch sungguh menyenangkan. Keramahan Zane dan teman hidupnya, Helen, membuat kami betah di “gubuk” kecil dan terpencil. Udara peternakan sangat segar, karena saat itu lagi musim gugur (fall). Bermain dengan hewan-hewan ternak yang lucu dan imut menambah kenangan lain. Malam harinya, obrolan kami ditemani dengan seduhan coklat hangat, sambil ha ha hi hi, yang membuat kami tenggelam dalam keceriaan. Kenangan manis ini selalu kami ingat, dan rugi untuk dilupakan.
Dalam perjalanan pulang dari ranch, Zane mengajak kami berhenti di sebuah kedai kecil (stall) tempat petani menjual komoditas hasil pertanian-perkebunan. Unik! Tidak ada penunggu stall untuk berjualan. Barang jualan ditata berjejer, dan rapi di keranjang. Orang Australia (Aussie) terbiasa berbelanja sekali sepekan untuk kebutuhan bahan pangan. Kami juga ikut berbelanja agak banyak untuk kebutuhan sepekan. Selain karena harganya yang relatif murah, kondisi sayuran dan buahannya juga masih sangat segar, saya tergoda “memborong” buah-sayuran lebih banyak.
Setelah memilih sembako kebutuhanku (kentang, wortel, sayuran lainnya, serta tidak lupa juga membeli buah-buahan), dengan lugu, saya bertanya ke Zane tentang penjualnya yang tidak terlihat. Pertanyaanku sederhana, namun tidak ditertangkap sederhana oleh Zane.
Zane nampak mengerti arah pertanyaan luguku. Katanya, “Noryamin, kamu mau membeli apa?” Lalu, saya menunjukkan padanya tumpukan bungkusan buah-buahan, sayuran, dan kentang pilihanku”. Zane melanjutkan ocehannya “Barang-barang yang kamu mau dibeli, silahkan kamu timbang sendiri. Daftar harganya tertera di lembaran yang tergantung di dinding stall.”
Selesai menimbang buah dan sayuran yang mau dibeli, saya kembali bertanya ke Zane. “Bagaimana, dan kepada siapa saya membayar?” Zane menunjuk kotak uang yang terkunci di saru pojok stall. Katanya “Kamu hitung sendiri berat komoditas belanjaanmu, dan please, kamu jumlahkan total harganya sesuai kuantitas barang yang dibeli! Uang belanjaanmu, silakan, dimasukkan ke kotak yang terletak di pojok stall.”
Karena saat itu, tidak ada uang receh sesuai dengan harga sembako yang dibeli, saya kembali bertanya kepada Zane “Bagaimana saya meminta kembalian uangku?”
Zane menunjuk anak kunci yang tergantung di dinding stall. “Silakan kamu buka kotak uang itu; dan ambillah sendiri uang kembalianmu. Setelah itu, please kamu kunci kembali kotaknya, dan gantung kembali anak kunci di tempat semua!”
Subhanallah. Saya bengong; tertegun sejenak; mematung sesaat setelah mendengar tuturan Zane. Banyak hal yang acak-kadut, campur-aduk di benak dan hatiku, dan gemas mau saya tanyakan. Saya bergumam singkat pada Zane “Apakah uang yang ada di dalam kotak TIDAK hilang?”…. “Apakah pembeli menimbang barang dan membayar dengan jujur?” Ini dua pertanyaan MORAL yang terucap dari mulutku.
Zane tidak menjawab langsung pertanyaanku. Dia justru dengan retorikanya balik bertanya padaku:
“Noryamin, apakah kamu kecewa, sedih, marah, atau malah murka, jika kamu dikhianati, disakiti, atau barang miliki kesayanganmu dicuri orang?” Dengan jujur, saya menjawab “Tentu, saya sangat kecewa, sedih, marah, bahkan murka.”
Zane terus berbisik padaku:
“Noryamin, kalau kamu kecewa, sedih, marah, bahkan murka jika dikhianati, disakiti, atau miliki kesayanganmu dicuri orang, maka, perasaan yang sama juga menyiksa qalbu dan batin penjual sembako ini kalau barang dagangan dan uangnya hilang. Oleh sebab itu, JANGAN KAMU LAKUKAN SEGALA HAL YANG KAMU TIDAK SUKAI (dikhianati, disakiti, atau milik kesayanganmu dicuri) pada orang lain. Sebaliknya, lakukanlah untuk dirimu dan orang lain segala hal yang kamu senangi; membahagiakanmu dan orang lain”.
Kisah ini tidak rekayasa. Ia nyata, dan inspiratif. Ini adalah contoh praktik spirit empati sejati yang menyejukkan di saat kejujuran terasa mahal, terutama, di negeri kita yang penduduknya selalu mengaku umat beragama dan beradab.
Dalam spirit kesejatian empati, kamu adalah aku. Kamu, dia, dan mereka adalah aku dan kita dalam wujud dan eksistensi lain. Aku, kamu dan mereka adalah kita dalam ikatan kasih. Rasa empati kita terhadap kesedihan-penderitaan orang lain, dan dukungan pada obsesi mereka, seharusnya membuat kita melakukan segala hal yang positif untuk diri kita dan orang lain.
Jangan timpakan segala hal yang tidak baik pada orang lain, sebagaimana kita juga tidak berkenan diperlakukan seperti itu! Jangan alihkan kesedihan, kekecewaan, penderitaan, penindasan, kedzoliman kita pada orang lain! Kesedihanmu, dan keresehan mereka adalah dukaku, juga duka kita. The power of Emphaty melebur kesadaran dan kepentingan aku, kami, kamu, dia, dan mereka dalam entitas kita.
Empati adalah hulu aliran kasih-sayang, jiwa kepedulian. Kalau kita belum mampu memberi sesuatu pada orang lain, maka janganlah kita mengambil hak mereka. Jika belum dapat membahagiakan orang lain, minimal, janganlah kita menyakiti perasaan orang.” [RAN]
