Connect with us

Sosok

Ketika Gus Baha’ Menangis Haru Berebut Cium Tangan KH Masbuhin Faqih

[JAKARTA, MASJIDUNA] – Peristiwa mengharukan terjadi saat KH Bahauidin Nursalim, Pengasuh Pondok Pesantren di Kragan Narukan, Rembang ini berebut cium tangan KH Masbuhin Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik, Minggu (19/1/2020) akhir pekan lalu.

Mulanya, kegiatan perkuliahan umum di kampus Institute Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) di Suci, Gresik berjalan seperti biasa. Kuliah umum yang khusus menghadirkan KH Bahaudin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha itu seperti reuni antara KH Masbuhin Faqih dengan Gus Baha’.

Ayahanda Gus Baha, almarhum KH Nursalim merupakan teman akrab KH Masbuhin Faqih, tuan rumah kegiatan. Pertemuan itu seperti mengobati kerinduan KH Masbuhin Faqih dengan almarhum KH Nursalim yang telah wafat pada tahun 2005 lalu itu.

Sesaat Gus Baha’ hendak berpamitan dengan KH Masbuhin Faqih, tangis Gus Baha’ tidak tertahan. Pemicunya selain KH Masbuhin merupakan teman akrab ayahandanya, rupanya dipicu oleh sikap tawdu’nya Kiai Masbuhin yang tiba-tiba membungkukan badannya untuk dapat mencium Gus Baha’. Sayangnya, persitiwa haru ini terabaikan oleh fotografer. Cerita ini diunggah melalui akun instagram @ulama.nusantara.

Di awal ceramah, Gus Baha’ memang menyebutkan kehadiran dirinya dalam kuliah umum di INKAFA itu lantaran yang mengundang adalah teman ayahanya yakni KH Masbuhin Faqih. “Saya sering memaklumatkan diri, yang ngundang saya ga pernah sepuh itu dosa, karena menggugurkan kewajiban yang lebih besar. kayaknya tidak pernah terjadi kecuali temannya bapak saya atau guru guru saya,” kata Gus Baha’ sebagaimana MASJIDUNA lihat di akun Youtube Fikrah Channel, Rabu (22/1/2020).

Ia menyebutkan di rumah dirinya memiliki pesantren dan ibu yang sudah lanjut usia yang membutuhkan perhatian. Menurut pria kelahiran tahun 1970 ini, wajib baginya untuk mengajar di pesantren dan menjaga ibunya. “Saya punya kewajiban (di rumah), kewajiban itu bisa digugurkan oleh kewajiban yang lebih besar (wajibun a’dhomu minhu),” sebut Gus Baha’.

Ia juga mengoreksi moderator yang saat memberi pengantar menyebutkan kehadiran Gus Baha’ di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin di antaranya karena ayahanda Gus Baha’ teman dekat KH Masbuhin Faqih. “Yang memang karena itu (teman ayah saya), kalau di antaranya, itu namanya sembrono,” sebut Gus Baha disambut tertawa hadirin.

Cerita rendah hati (tawadu‘) antarulama kerap ditampilkan oleh ulama kita. Sikap ini tentu menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Akhlak yang mulia merupakan hal esensial dalam beragama. Para ulama telah memberi teladan yang luhur untuk diikuti oleh umatnya.

[RAN/Foto: Alfikrah Media Mambaus Sholihin]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok