Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
“Langit tidak perlu menjelaskan ketinggian dan keistimewaannya, karena semuanya nyata dan hakiki”
Ini kisah tentang sosok John Patrick McEnroe, Jr. Ia adalah salah satu legenda tenis profesional USA, terutama di tahun 1980-an. Dia sukses meraih banyak tropi juara; (1) tujuh tropi tunggal putera tenis Grand Slam, (2) sembilan tropi ganda putera Grand Slam, (3) lima tropi WCT (World Championship Tennis) Master, dan (4) tiga tropi Grand Prix tenis.
Dalam sebuah sesi interview, saat ditanya kelebihannya, McEnroe menjawab “Kelebihanku tidak mempunyai kekurangan.” Apakah ini ekspresi keunggulan, superioritas, atau takabbur (arogansi) untuk menakut-nakuti lawan tandingnya, atau tipuan diri?
Takabbur akrab dalam kamus psikologi, dan khazanah wacana akhlak islami. Secara sederhana, takabbur adalah euphoria letupan ideologis arogansi qalbu yang merasa lebih besar daripada keadaan yang sesungguhnya. Secara psikologis, takabbur adalah ekspresi buruk dari entitas supervisial kejiwaan. Takabbur, sejatinya, adalah kejiwaan yang sakit, yaitu jiwa yang merasa terancam (insecure) dalam ketidakberdayaan.
Takabbur adalah ekspresi jiwa yang menipu diri. Ia menutupi bahkan mengingkari kekurangan untuk kiat penyelamatan diri dalam keterancaman, seperti hal yang lazim di perangai hewan. Setiap binatang memiliki sifat alamiah. Hewan mangsa selalu berreproduksi lebih massal. Postur tubuhnya kecil dan lemah, tetapi, mereka memiliki “senjata” kamuflase untuk membela diri saat terancam, walaupun dengan intrik tipuan. Ubur-ubur akan menyemburkan cairan hitam untuk mengelabui dan membuat predator mengalami hambatan penglihatan saat mau memangsanya.
Ayam jantan yang biasa sok jagoan punya cara mengintimidasi lawan. Bulu leher atas dekat kepala ayam jantan akan mekar sebagai kiat menakut-nakuti musuh saat berkelahi. Tujuannya, agar ia terlihat garang dan menyeramkan, walaupun, ujungnya, ia menjadi pecundang. Hi hi hi. Nampaknya bagi sijantan, hal yang penting adalah penampilannya bergaya elegan terlebih dahulu, walaupun akhirnya memalukan.
Apakah kita juga pernah mengamati perilaku tipuan binatang lain saat merasa terancam oleh predator? seperti ikan buntal? landak? dan kadal berjumbai jenis Frill Necked Lizard? Saat terrancam, buntal mengelembungkan rongga perutnya, lalu terlihat jauh lebih besar dibanding keadaan sesungguhnya. Landak akan memekarkan bulu duri tubuhnya yang tajam. Dalam keadaan ketakutan dan lemah, tampilan landak terlihat menakutkan, lebih besar dibandingkan dengan keadaan sesungguhnya.
Perilaku naluriah seperti gaya tipuan intimidatif ayam, landak dan buntal, juga, dilakukan oleh kadal berjumbai. Jumbai (fringe) dan perisai di sekitar leher kadal frill necked lizard akan mekar, dan terurai lebar sebagai ekspresi intimidatif kepada musuh, dan sekaligus sebagai alat pertahanan diri.
Sikap naluriah penyelamatan hewan adalah gaya berkamuflase membesarkan diri untuk terlihat lebih seram, lebih menakutkan, dan lebih besar daripada keadaan. Penampakan diri ini sesungguhnya adalah “ekspresi insekuritas diri dari rasa keterancaman dalam ketidak-berdayaan. Ini adalah ekspresi naluriah hewani yang lemah dan terancam, menggunakan kiat picik dan tipuan untuk bertahan.”
Perilaku ikan buntal, ayam, landak, dan kadal seperti digambarkan di atas mengindikasikan kondisi lemah, lalu mereka mengeluarkan jurus tipuan “membesarkan diri” (takabbur). Semua ekspresi itu sebagai bentuk aksi penyelamatan diri dari ancaman luar, walaupun sebatas kamulfase dan tipuan
Penghadiran rasa terancam sesungguhnya adalah jiwa yang terintimidasi karena kepicikan dan kelicikan. Padahal, tidak semua hal yang datang dari luar adalah ancaman. Di sini, rasa insecure justru menjadi hulu dari psikologi kejiwaan yang sakit, lalu bermanuver tipuan.
Apa relevansi takabbur dengan kejiwaan manusia? Sama seperti naluri hewan, manusia juga bisa merasa terancam. Dia takut dikalahkan; takut tergusur; takut tersisih dan kalah dari pesaing. Saat seseorang tidak menemukan kelebihan jati diri di depan pesaingnya, ini adalah momentum perasaan picik yang takut terkalahkan. Di sini, perasaan tersudutkan mulai menyeruak.
Untuk memanipulasi kekurangan dan ketidakmampuan diri menghadapi kelebihan kompetitor, seseorang akan menghadirkan rasa, sikap, dan perilaku “takabbur” untuk menutupi kekurangan dan sekaligus dijadikan sinyal intimidatif pada mitra kontestualnya.
Dengan kata lain, psikologi takabbur adalah ekspresi jiwa yang takut terancam kalah, sebagai sinyal jiwa yang lemah, jiwa yang tidak siap, tidak rela menerima kenyataan. Hati yang takabbur adalah wujud jiwa yang sakit, yang mengingkari kekurangan.
Masih ingat kisah pembangkangan iblis (dengan spirit takabbur terhadap titih Allah) saat dia disuruh mengakui keunggulan Adam? Dalam satu sesi “cerdas-cermat”, iblis gagal untuk memperlihatkan keunggulannya atas Adam (QS. 3:31-34). Saat iblis kalah beradu prestasi dengan Adam dalam menjawab sejumlah pertanyaan yang Allah ajukan kepadanya, Iblis ternyata tidak siap, tidak rela kalah, dan enggan mengakui kelemahannya. Iblis tidak legowo mengapresiasi keunggulan Adam. Jiwa takabbur iblis meninggi, karena dia menilai Adam akan menjadi kompetitornya di surga. Iblis merasa tinggi hati karena berasal dari api, dan merendahkan kualitas Adam yang tercipta dari tanah.
Rasulullah saw menegaskan hakikat kesombongan. Beliau bersabda الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. HR. Muslim, No. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd).
Takabbur adalah kondisi batin para pecundang; orang-orang pengecut. Takabbur adalah ekspresi ketidak-jujuran, tipuan diri. Qalbu takabbur adalah kejiwaan orang lemah yang picik untuk membela diri dengan menutupi dan mengingkari kekurangannya di depan pesaing. Orang takabbur adalah ibarat sosok arogan yang berdiri di atas menara gading. Dia mudah terpleset, lalu jatuh tersungkur. Dia melihat orang lain begitu kecil saat tatapan matanya gagal atau tertipu oleh batas penglihatan hakikinya. Sebaliknya, dia tidak menyadari bahwa orang lain juga melihatnya begitu kecil.” Alhasil, takabbur adalah kegagalan penghadiran kesadaran entitas keterbatasan diri di depan orang lain.
Kita sungguh tidak menjadi besar hanya karena perasaan lebih besar (takabbur) daripada orang lain. Kita juga tidak menjadi unggul hanya karena mengklaim sepihak atas keunggulan. Kebesaran dan keunggulan sesungguhnya adalah pengakuan orang lain terhadap kelebihan dan prestasi kita. [RAN]
