Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
Tidak ada rekam jejak hidup seseorang yang serba sempurna, perfect. Adalah kodrati bahwa setiap orang memiliki kekurangan. Inilah rumus kehidupan. Tetapi, kekurangan tidak untuk disesali, apalagi dibenci. Duka kita tidak boleh terlilit petaka dan dosa masa lalu. Biarlah kekurangan menjadi bagian hidup yang sejatinya dapat menginspirasi hikmah untuk kita terus bangkit, demi masa depan yang menjadi lebih baik.
Sebaik apapun kita, keberadaan kita pasti saja ada cacat-kekurangan di mana orang yang melihatnya dari sudut pandangan yang berbeda. Manusia adalah wujud makhluk yang biasa salah dan kurang. Maka, kita tidak usah apriori, tidak usah sakit hati terhadap sikap kritis orang lain kepada kita. Ingatlah, kritik yang paling jujur dan objektif, justru sering datang dari musuh-musuh kita, atau datang dari mereka yang membenci kita.
Tidak semua orang dapat dengan lapang hati menerima kritik. Jujur, mungkin juga kita, tanpa menunjuk kesalahan orang lain. Kritik bisa saja membuat kita gelap mata, atau tenggelam dalam sedih dan duka. Tetapi, jangan sampai kita membenci orang yang mengkritik kita. Walaupun pahit dan gelap dalam batin yang tidak siap, kritik justru mengingatkan kita tentang banyak hal yang sering tidak kita sadari.
Kritik adalah diagnosa etis dan sosial yang gratis untuk kita menyadari kekurangan. Kita sepatutnya bersyukur terhadap kritik. Bukankah kritik itu laksana cermin yang mengingatkan kondisi objektif tubuh kita, terutama tentang kekurangannya. Kekurangan dan ketidak-sempurnaan tidak perlu disesali. Masih ada hari esok untuk kita memperbaiki diri. Teruslah berjuang untuk menjadi lebih baik! Tetapi, jangan tunda keinginan untuk menjadi lebih baik.
Kesadaran terhadap kekurangan, sejatinya, dapat menjadi energi postif untuk perbaikan dan kemajuan. Orang yang selalu merasa bernasib lebih, beruntung, tanpa cacat, minimal dalam psikologi “zona nyaman”, sering terjebak dalam stagnasi dan kejumudan. Jebakan perasaan di zona nyaman seperti ini membuat kita gampang terlena, terhenti untuk menaiki tangga kesempurnaan.
Para sufi selalu menanamkan perasaan kekurangan dalam hal kualitas kebaikan, seperti wasiat al-Murta’isy. Dia seorang sufi zuhud dengan nama aslinya Abdullah bin Muhammad al-Murta’isy al-Naisaburi (wafat 328 H). Ini mutiara renungannya:
مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّهُ بِعَمَلِهِ يَدْخُلُ الجَنَّةَ وَيَنْجُو عَنِ النَّارِ، فَقَدْ أَوْقَعَ نَفْسَهُ فِي خَطَرٍ عَظِيْمٍ، وَمَنْ اِعْتَمَدَ عَلَى فَضْلِ اللهِ بَعْدَ عَمَلِ الصَّالِحِ وَالِإجْتِهَادِ، فَاللهُ تَعَالَى يُوْصِلُهُ إِلَى الجَنَّةِ بِفَضْلِهِ
Siapa yang merasa percaya diri dengan kesempurnaan kinerja ibadahnya bahwa dia akan masuk surga, dan selamat dari (siksa) neraka, maka jiwanya sungguh dalam bahaya. Siapa yang bertumpu pasrah pada rahmat, kasih-sayang Allah setelah berusaha maksimal melakukan amal saleh (untuk meng-up-grade kekurangan), maka Allah akan menuntunnya ke surga dengan rahmat-Nya.
Bravo perasaan kekurangan, yaitu jiwa yang terbuka-lapang terhadap kritik. Alangkah beruntung qalbu-qalbu yang masih menemukan kekurangan dalam dirinya. Tumbuhkanlah perasaan kekurangan, karena perasaan seperti ini akan menuntun kita menjadi lebih kreatif, inovatif, dan tangguh untuk meniti naik tangga kesempurnaan hidup.
Semoga husnul khatimah atas izin Allah. Amin. [RAN]
