Kesejatian Diri Kita: Di Antara Harapan


Foto: mursal buyung

Oleh: Noryamin Aini (Dosen di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta)

Petuah bijak mengingatkan bahwa kesejatian diri kita akan terlihat pada 2 (dua) keadaan ini:

  1. Saat kita terpuruk hancur, luluh lantah, terbenam di kedalaman dasar musibah, lalu kita menjadi bukan siapa-siapa, dan tidak memiliki apa-apa; atau
  2. Saat kita sukses berada di puncak karir dan singgasana kekuasaan-kemuliaan; saat kita memiliki segalanya, dan kuasa melakukan apa saja sesuka keinginan kita.

Sahabat!
Keaslian-kesejatian diri kita yang tanpa polesan, tanpa topeng kepalsuan, dan tanpa kepura-puraan, akan mudah tampak gamblang di dua keadaan itu.

  1. Keadaan pertama akan memperlihatkan kualitas dan hakikat kesabaran atau keputusasaan jiwa kita untuk keluar dari cobaan-musibah;
  2. Keadaan kedua akan memperlihatkan kesederhanaan-kerendahan hati kita, atau ia akan memperlihatkan alam bawah sadar kesombongan-arogansi-otoritarianisme kita.

Sahabat!
Di atas langit kekuasaan-kemuliaan, masih ada langit yang super berkuasa-super mulia; dan di dasar cobaan selalu hikmah terpendam yang gagal dijangkau dan dinikmati oleh qalbu yang selalu resah dan berisik protes terhadap segala kehendak dan ketentuan Allah.

Baca:

Melelahkan, Aku Ingin Rehat

“Aku Ingin Tenang dan Bahagia”

Keanehan Manusia dalam Gelimang Kasih Sayang Allah

Selamat lebih mendekatkan diri di malam 23 Ramadhan 1444 H, semoga Allah memberikan semua hasil yang terbaik untuk kita dalam gelimang karunia, berkah, dan ridho-Nya, serta agar kita menjadi lebih mulia dengan kerumitan “karunia” cobaan, dan kita tetap menjadi sederhana dan membumi di saat ‘arasy kesuksesan kita melangit di puncak kekuasaan dan kemuliaan.

[RAN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *