Connect with us

Khazanah

Kisah Barzanjie dan Perayaan Maulid Nabi

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Nama “Barzanjie” di kalangan umat Islam Indonesia sudah sangat terkenal. Biasanya dikaitkan dengan puisi pengagungan kepada Nabi Muhammad yang dibacakan dalam waktu-waktu tertentu (bukan hanya kelahiran Nabi Muhammad saja). Di beberapa wilayah bahkan dibacakan ketika seorang anak lahir atau disunat.

Siapa penulis karya masyhur tersebur? Tidak lain adalah Syekh Ja’far Al Barzanjie yang nama lengkapnya adalah Sayyid Ja’far Ibn Husain Ibn Abdul Karim ibn Muhammad Ibn Rasul Al-Barzanjie, ulama yang masih keturunan Nabi Muhammad yang berasal dari Barzanj (Irak). Dia hidup pada abad XII masehi.

Kisah penulisan karya sastra tersebut berkaitan dengan peristiwa perang salib ketika Salahuddin Al Ayubi bertindak sebagai komandan perang kaum muslimin. Salahuddin yang berkuasa pada 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijiriyah, ingin membangkitkan semangat juang kaum muslimin kala itu. Salahuddin meminta persetujuan kepada Khalifah di Baghdad yaitu An-Nashir, yang ternyata disetujui. Maka padaa musim haji tahun 1183 masehi atau 579 Hijriyah, Salahuddin yang kala itu penguasa dua kota suci (Makah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada para jamaah yang usai berhaji agar ketika kembali ke kampung halaman agar menyosialisasikan bahwa pada 12 Rabiul Awwl dirayakan sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad.

Salah satu kegiatan untuk menyemarakkan hari lahir tersebut adalah diadakan lomba penulisan riwayat Nabi Muhammad dengan bahasa sastra yang indah. Maka para ulama dan sastrawan pun diundang untuk mengikuti lomba ini. Dan pemenang pertamanya adalah Syekh Ja’far Al-Barzanjie melalui karya yang oleh para ulama disebut “Iqd Al-Jawahir fi Maulid an-Nabiyyil Azhar” atau disingkat ‘Iqd Al-Jawahir” (Kalung permata).

Inilah kitab sejarah hidup Nabi Muhammad yang paling terkenal di dunia muslim hingga sekarang. Pembacaannya sering disebut “barzanjie” dengan aneka acara yang menyertainya. Salah satu petikan puisinya menjelaskan saat sebelum Nabi Muhammad lahir.”

Bumi setelah lama mengalami tandus tidak menumbuhkan tanam-tanaman seakan-akan berhias dengan sutera halus menjadi subur. Dan buah-buahan pun segera menjadi masak dengan dahan-dahan kayu yang melengkung memudahkan pemetik buah memetiknya”.

(IMF/foto: antara)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah