Connect with us

Khazanah

Begini Tuntunan Islam Ketika Menghadapi Musibah

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Musibah seringkali dimaknai sebagai sebuah ujian atau penderitaan yang tidak menyenangkan bagi manusia. Musibah juga dekat artinya dengan bencana, seperti gempa bumi, banjir atau kecelakaan.

Secara bahasa, musibah terambil dari bahasa Arab (asaba) yang artinya mengenai, menimpa atau membinasakan). Menurut Muhammad Husin Tabataba’i (1310H-1401H/1882-1981 M) dalam tafsinya, “Al Mizan fi Tafsir Al-Quran,” menjelaskan bahwa musibah apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendakinya. Kata musibah dalam pengertian tersebut, tercantum dalam Surat al-Baqarah ayat 156, Ali Imran ayat 156, An Nisa ayat 62 dan 72, Al-Maidah ayat 49, At-Taubah ayat 50, Al-Qasas ayat 47, As-Syura ayat 30, Al Hadid ayat 22 dan At-Tagabun ayat 11.

Musibah datang atas ketentuan Allah dan tidak bisa ditolak. Tapi manusia diwajibkan untuk menghindarinya. Misalnya, kalau sakit wajib berobat, wajib menghindar dari bencana banjir atau tanah longsor.

Walaupun musibah tidak menyenangkan, namun bagi mukmin dianggap sebagai saran untuk meningkatkan derajat keimanan di sisi Allah.

Islam telah memberikan tuntutan tentang musibah, seperti dijelaskan dalam beberapa hadits. Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Majah, Malik dan Ahmad bin Hanbal. “Jika kalian terkena musibah, maka ucapkanlah Innalilahi wa innailaihi rojiun.Kedua, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar. “Tidak ada satu musibah pun menimpa seorang muslim, melainkan Allah akan menahannya meski sebentuk duri yang menusuknya.” Dan ketiga, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Tirmizi, “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seorang hamba, kemudian ia ucapkan istirja’ (mengucapkan innalilahi wa innailaihi rojiun) melainkan Allah menetapkan pahala baginya.” (IMF)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah