Ulama Salah Satu ‘Pemilik Saham’ di Indonesia

Merebut kemerdekaan Indonesia tak lepas dari campur tangan perjuangan para kiai dan pondok pesantren kala pra kemerdekaan.

[PURWOREJO, MASJIDUNA] —  Menyambangi pondok pesantren bagi kembanyakan keluarga santri menjadi bagian dalam sowan ke ulama. Tak terkecuali yang dilakukan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti  menyambangi Pondok Pesantren Daarut Tauhid di Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (26/1/2022) kemarin.

La Nyalla dalam kunjungannya ke pondok pesantren asuhan Abah KH Thoifur Mawardi itu berpandangan, alasan kerapkali menyambangi pondok pesantren seusai melakkan kunjungan kerjanya. Menurutnya bertandang ke pondok pesantren menjadi keharusan bertemu dengan kiai dan alim ulama. Sebab para kiai dan alim ulama menjadi sat dari sekian ‘pemilik  saham’ di Republik Indononesia.

Merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan para penjajah tak lepas dari campur tangan para alim ulama. Pondok pesantren pun kerap menjadi simpul-simpul perjuangan dalam melawan penjajah Belanda maupun Jepang.

“Tidak salah jika kita sebut kiai dan para alim ulama sebagai salah satu pemilik saham Republik ini. Kita tahu bagaimana perjuangan kiai dengan para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Republik ini,” katanya.

Baca juga: Begini 12 Poin yang Disepakati Ijtima Ulama VII MUI

Baca juga: Sejumlah Kiai Pesohor Tak Masuk dalam Kepengurusan PBNU

Senator asal Jawa Timur itu mengingatkan betapa legowonya para kiai dan alim ulama dalam mempertahankan persatuan Republik Indonesia. Salah satunya dengan sukarela menghapus kalimat “menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” dalam Piagam Jakarta kala itu. Lagipula, kata La Nyalla, pondok pesantren menjadi tempat menuntut ilmu agama.

“Sudah pasti kita akan mendapat keberkahan dari para santri yang tengah menuntut ilmu. Maka, salah satu keberkahan hidup ada di pondok pesantren,” katanya.

LaNyalla berharap, lembaga pendidikan pondok pesantren tetap terus menjadi solusi bagi masyarakat di sekitarnya. Serta terus memberi kontribusi bagi bangsa dan negara. Menurutnya, pondok pesantren merupakan prototipe dari masyarakat madani, atau civil society.  Sebab  sejak dahulu, acapkali bercirikan mandiri dan memberi solusi.

“Misalnya ada yang sakit, datang ke kiai minta doa, ada yang datang minta nasehat, bahkan ada yang datang ke kiai untuk minta beras dan lain-lain,” imbuhnya.

Sementara Bupati Purworejo, Agus Bastian yang hadir di Ponpes Daarut Tauhid mengaku merasakan keberkahan Pondok Pesantren tersebut. Dia mengaku terpilih sebagai bupati setelah bersilaturahmi dengan kiai di Pondok Pesantren Daarut Tauhid.

[AHR/Foto: istimewa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *