Pernah Galau? Ini Jalan Indah Tuhan

Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta)

HIDUP penuh misteri. Jibaku mengejarnya melelahkan, tanpa ujung, karena ia godaan tanpa batas kepuasan. Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), ulama era skolastik, mengingatkan bahwa “Pesona dunia ibarat bayangan tubuh. Kalau engkau kejar, dan berusaha menangkapnya, ia akan lari, terus menjauh meninggalkanmu. Tetapi jika engkau bergerak maju, meninggalkannya, sambil membelakangi, ia tidak memiliki pilihan selain loyal mengikutimu”; ia setia menemanimu dalam suka-duka, tanpa harus kamu kejar dan miliki.

Refleksi ini tentang psikologi kepasrahan dan ketenangan batin, saat misteri hidup tidak mampu kita kontrol dan bongkar; saat kita menyerah di batas kemampuan. Memang, manusia mampu memprediksi banyak hal secara ilmiah. Tetapi hidup tidak selalu tentang keniscayaan, kepastian dan akurasi. Ada ranah sempit dalam kehidupan yang belum dapat kita jelajahi dan kuasai. Itulah takdir, misteri, rahasia Tuhan.

Sahabat! Sungguh banyak hal yang sukses manusia prediksi secara apik, bahkan dengan standar akurasi signifikansi (istilah statistik) yang super presisi, sampai ke tahap p.< 0,00001, atau satu kemungkinan penyimpangan dari seratus ribu kasus. Namun, hasilnya, sering tidak sesuai dengan prediksi. Fakta kegagalan teknologi super canggih, hasil kerja kolektif manusia super brilian, tidak bisa mengingkarinya. Manusia berencana, tetapi Tuhan mengeksekusinya dengan kewenangan dan kekuasaan mutlak-Nya. Ini satu bukti tentang batas kemampuan manusia.

Masih ingat peristiwa bencana peluncuran roket pembawa pesawat Ulang Alik Challenger pada 28 Januari 1986? Agak terkesan demonstratif kepada rival negara pesaing dan perusahaan raksasa pembuat roket peluncur pesawat antariksa, peristiwa peluncuran Challenger disiarkan live. Saat itu, teknologi robotik tentu tidak secanggih sekarang. Puluhan juta pasang mata seantero jagat raya menyaksikan momen yang digadang-gadang sebagai icon kecanggihan teknologi ruang angkasa Amerika Serikat.

Namun, alam (bagi penganut paham nihilisme), atau Tuhan (menurut umat beragama) berkehendak lain. Setelah 73 detik diluncurkan, space shuttle Challenger meledak di udara. Ia hancur berkeping-keping, dan tenggelam di dasar Samudera Atlantik, di lepas pantai Florida. Selain kerugian material-finansial, 7 orang astronot tewas. Tragis, mengerikan! Sungguh, alam dan kehidupan penuh misteri, di atas batas kuasa manusia.

Namun, tidak selamanya misteri dan ketidakpastian, membawa sengsara. Tidak semua musibah, dan petaka adalah azab. Beberapa di antaranya adalah karena rahmat Allah untuk membawa kita kembali kepada-Nya. Di dalam misteri, tidak jarang ada kejutan “rezki anak saleh”. Tahun 1929, novel Sengsara Membawa Nikmat karya Sutan Sati pertama kali terbit. TVRI, bekerjasama dengan sebuah rumah produksi, tahun 1991, sukses menggubah alur cerita novel ini menjadi sinetron serial yang selalu ditunggu pemirsa. Dari judulnya, akhir dari kisah sedih adalah kebahagiaan, kenikmatan. Dalam kesedihan ada misteri bahagia. Inilah keajaiban.

Apa pengalamanmu tentang misteri hidup? Apakah semua hal terjadi, dan beroperasi sesuai rencana dan logika prediksimu? Terlalu berlebihan jika ada yang menjawab semuanya sesuai prediksi dan perencanaan; apalagi sesuai dengan apa yang dikehendaki. Terlalu sombong berjiwa seperti itu. Minimal, pengalamanku mengajarkan keyakinan bahwa di balik hal yang kita rencanakan dan ketahui, banyak misteri yang menyimpan tanya, dan kejutan.

Banyak pengalamanku, dan mungkin juga pengalaman misterius kalian, dan mengajarkan hikmah bahwa dalam kepasrahan di titik nadir batas kuasa manusia, ada akhir yang menyenangkan. Saat mau bepergian keluar kota, saya hanya mampu membeli tiket pesawat kelas ekonomi. Sedih awalnya. Karena kendala kemacetan, saya 2 kali mengalami keterlambatan check in untuk penerbangan ke Manado dan Banjarmasin.

Saat itu, teknik check in on line belum semudah sekarang. Allah maha berkehendak. Walaupun telat, bahkan penumpang lain sudah boarding, alhamdulillah, check in-ku di 2 perjalanan itu masih diterima. “Subhanallah, saya diberi fasilitas kursi kelas bisnis” tanpa biaya tambahan, dan tentu juga dengan layanan standar kelas bisnis. Sungguh ending yang tidak terduga, menyenangkan, melebihi standar yang menjadi hakku. Inilah keajaiban kuasa Allah.

Kisah unikku masih ada. Suatu saat, hari Jumat, saya harus mengejar waktu guna menyajikan hasil penelitian di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Allah berkehendak lain. Berangkat dari Ciputat, selatan Jakarta, saya terjebak macet di sepanjang jalan Sultan Iskandar Muda, Jakarta Selatan. Pas waktu salat Jumat, bahkan khutbah telah usai, saya berhenti di masjid kecil pinggir jalan sebelum fly-over Kabayoran Lama, seberang Mall Gandaria City. 

Karena terlambat, saya dan anakku yang menemani tidak mendapat tempat salat di dalam masjid. Akhirnya, kami menggelar sajadah di pinggir jalan yang sangat ramai. Saat itu, saya membawa tas yang berisi laptop, external harddisk, dan banyak dokumen penting yang biasanya tidak saya bawa. Karena dikhawatirkan tas dalam mobil bisa mengundang pencuri merusak kaca mobil, tas saya bawa dan kuletakkan di sela-sela motor yang diparkir dadakan di depan saya salat. 

Karena tergesa-gesa mengejar lokasi seminar, dengan wirid, zikir dan doa singkat, saya langsung bergegas menuju hotel. Oh my God, setelah sampai di parkiran hotel, saya baru menyadari jika tas tertinggal di tempat salat Jumat, yang posisinya hanya berjarak beberapa ratus meter dari pasar loak (second) Kebayoran Lama, tempat barang second diperjual-belikan. Jujur, tasku dengan mudah dapat dicuri dan isinya pasti laku dijual di pasar loak.

Saya hanya pasrah untuk kehilangan tas. Keresahan akan kehilangan tas tidak bisa saya ingkari, karena di dalam external harddisk dan laptop tersimpan data penelitianku yang saya kumpulkan hampir 20 tahun, selain juga bahan presentasi seminar. Namun, entah kenapa, jujur, hatiku juga lega, tenang, bahkan saya sambil tertawa lepas bercerita kepada panitia dan peserta seminar tentang musibah tasku. Saya sangat yakin tas itu pasti hilang dengan kondisi obyektif seperti gambaran di atas. 

Dengan keyakinan berbasis logika common sense kehilangan, saya hanya memiliki modal kepasrahan untuk keajaiban kuasa Allah. Saat meletakkan tas itu di sela-sela motor, saya sudah berpesan pada anakku untuk mengingat dan mengambilnya. Semua rencana gagal, di luar skenarioku. Apa boleh buat. Inilah titik nadir batas kemampuanku menjaga tas.

Sahabat! Allah maha besar. Tasku tidak hilang. Seorang tukang ojek pangkalan menyerahkan tas itu ke takmir masjid. Saat saya bertemu seorang takmir, dia memperlihatkan raut wajah ketakutan jika ada benda dalam tas yang hilang. Tasku tersimpan dan terjaga rapi, bahkan tidak ada tanda-tanda dibuka, apalagi ada barang yang diambil.

Pengalaman sengsaraku yang berujung gembira mengajarkan arti kepasrahan. Saat menyadari keterbatasanku untuk menyelamatkan tas, saya hanya menyisakan qalbu yang berserah diri, pasrah total pada kemaha-kuasaan Tuhan. Jika Allah berkehendak lain, tidak ada hal yang mustahil. Ini ternyata menjadi hulu alir dari rambatan keresahan yang hilang saat saya menyadari keterbatasan kuasa diri untuk menyelamatkan tas.

Sahabat! Psikologi kepasrahan menjadi ruang dan wadah batin ketenanganku. Akhirnya, saya semakin mengakui bahwa dalam batas obyektif kuasa manusia, kepasrahan adalah perjalanan keluar dari kekacauan luar, letupan emosi, menuju kedamaian hati. Bukankah, kedamaian terbesar justru datang dari pemasrahan dan keberserahan diri pada kuasa Tuhan. Kenapa? Karena jiwa yang pasrah total seolah mendengar Tuhan berbisik “Sekarang saatnya kamu rehat, biar Aku yang akan menuntaskan semuanya”.

Ada kisah hikmah kepasrahan dalam jejak hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah. Kalian masih ingat titik kritis Nabi saw saat bersembunyi di gua Tsur, untuk menepi dari kejaran orang musyrik Mekkah? Tubuh Abu Bakar yang saat menemani baginda Nabi saw, berkeringat dingin, dan gemetar, ketakutan, di puncak keresahan. Nabi saw dengan kalem menenangkannya, dan mengajaknya pasrah, tawakkal, berserah diri total saat dalam ketidak-kuasaan. Dalam ketidak-berdayaan, hanya kepasrahan menjadi opsi yang sangat berarti, sebagai remedial keresahan-ketakutan.

Sahabat! Ketika kita pasrah dalam pengakuan jujur terhadap keterbatasan kuasa diri, psikologi kepasrahan memberi batin kita kesempatan untuk melepaskan semua rasa galau, ketegangan, keresahan, dan stres. Wujud pasrah, sejatinya, adalah ekspresi qalbu melepas argonsi keakuan manusia yang merasa perkasa, lalu mengingkari kuasa Allah. Pasrah adalah ekspresi psikologi kejujuran dan ketulusan yang mengakui keterbatasan kuasa manusia, lalu menyerahkan sisa kemungkinan di luar batas kemumpuan itu, pada kuasa Tuhan. Jiwa-jiwa yang pasrah adalah keyakinan tanpa keraguan yang mewakilkan harapan pada kuasa Tuhan menentukan segala hal yang terbaik.

Ya Allah, terlalu sombong jika hamba merasa mampu merencanakan semua hal dan kuasa mengeksekusinya. Dalam kuasa dan kasih-Mu, hamba tidak akan pernah kehilangan asa, karena harapan obsesif yang positif pada keajaiban kuasa-Mu menjadi sumber ketenangan batin hamba. Dalam kepasrahan, dalam kegelapan hati, dan temaramnya cahaya dan jalan kehidupan, hamba tidak akan pernah khawatir mengharapkan keajaiban kuasa-Mu. 

Dalam kejujuran pada kuasa dan kasih-Mu, dan keterbatasan kemampuan, hamba berserah diri, dan pasrahkan hal-hal yang hamba tidak kuasa menyelesaikan. Dalam kepasrahan, hamba yakin kuasa-Mu dapat mengubah petaka-sengsara menjadi bahagia, karena Engkau tidak akan membiarkan hamba kecewa dalam doa dan hati yang hampa. Amin. (RAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *