Mau Masuk Surga, Tapi Takut Mati

Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta)

GILANG Dirga adalah pembawa acara yang lucu. Dia adalah sosok dengan multi talenta. Gilang Dirga dikenal sebagai sosok yang memiliki keahlian impersonate, yaitu ketrampilan meniru suara dan gaya bicara orang terkenal. Saat ditantang berceramah, Gilang Dirga mampu memukau banyak pendengarnya, termasuk Mama Dedeh, ust Wijayanto dan tim juri lomba ketrampilan ceramah di satu stasiun TV swasta. 

Dengan gaya yang lucu-konyol, juga materi ceramahnya yang sangat menyentuh qablu, Gilang Dirga, tidak hanya, membuat pemirsa terpingkal-pingkal, tetapi juga mampu menyentil hadirin sesaat terdiam menyimak ceramahnya, seperti terrekam dalam video youtube berikut. Berikut link videonya https://www.youtube.com/watch?v=Z6YdQl_iL9A yang mengabadikan momen kocak ceramah Gilang Dirga. Di menit kedua, detik 33, Gilang bertanya pada hadirin “Siapa yang mau masuk surga?” 

Spontanitas, terdengar jawaban kompak dari hadirin “Mau”. Jawaban ini diiringi dengan riuh tawa, termasuk senyum malu Mama Dedeh dan tokoh agama yang tampak berusaha menahan tawa ha ha ha (terbahak-bahak).

Sahabat! Jawaban kompak hadirin ini menjadi ikon memori kolektif orang beriman yang abadi merindukan surga. Fiksi surga dengan glamor dan keindahan kehidupan di dalamnya telah menghadirkan kerinduan, dan obsesi setiap orang beriman merindukan mencicipinya. Tetapi, ironi rindu surga justru muncul saat Gilang bertanya “Siapa yang mau masuk surga sekarang?”

Semua hadirin terdiam, hening sesaat, walaupun akhirnya mereka tertawa. Saat itu, tidak ada satu orang pun dari hadirin yang menjawab “Ya”. Semua diam sesaat dalam keheningan, termasuk tokoh agama, dan para ustadz yang hadir. Apakah realitas di ruang siaran live ini sebatas settingan atau ekspresi hakiki tentang pendirian iman kita? Semoga tidak, atau untuk apa itu kita permasalahkan?

Betul, secara teologis, surga itu adalah tempat indah bagi orang-orang saleh yang bertaqwa. Ia baru akan mewujud saat kiamat sudah terjadi. Dari sisi ini, pertanyaan “siapa yang mau masuk sekarang” tentunya tidak dalam arti kepastian masuk surga sebelum kiamat. Arah yang disasar dan dapat kita renungi dari pertanyaan ini adalah psikologi alam bawah sadar umat beriman.

Bagiku, kelakar Gilang Dirga dalam atraksi impersonate kali ini menjadi sebuah momen casting eksprementasi (percobaan) sosial tentang kesadaran hakiki, konsistensi pendirian qalbu orang beriman. Pertanyaan Gilang Dirga menjadi ilustrasi kedalaman dan konsistensi pendirian orang beriman, pendirian kita juga. Jika kita merindukan surga, kenapa kita tidak berani atau tidak mau menjemput surga itu sedini mungkin?

Sahabat! Semua orang beriman, termasuk kita, mendambakan surga, seperti tuturan harapan yang lazim dalam bait doa-doa kita. Berapa kali dalam sehari kita berdoa meminta surga? Tetapi, ketika ditantang untuk masuk surga sekarang, kerancuan hati orang beriman mulai teruji, yaitu kelatahan yang membongkar alam bawah sadar mereka.

Kalau semua umat beragama sungguh mendambakan surga, lalu kenapa (?) tidak ada hadirin (mungkin juga kita) yang bersemangat masuk surga sekarang? Jika surga adalah mimpi super kenikmatan di atas nalar dan kemampuan jelajah pengalaman manusia, lalu kenapa kita tidak mau masuk surga sekarang?

Fenomena percobaan sosial Gilang Dirga menjadi satu penunjuk alam bawah sadar kita tentang hakikat dan konsistensi imam, juga sebagai pengingat bahwa ikatan cinta duniawi kita masih begitu kuat menjerat kelatahan kita dalam beriman. Qalbu kita sungguh masih belum terbebas dari ilusi cinta pesona dunia.

Pertanyaan lain, jika kita mau masuk surga sekarang, apa kebaikan-kebaikan dan ibadah kita yang akan menjadi modal akhirat kita ke surga? Bagi para pendosa tanpa taubat, kematian adalah momentum dan fase menakutkan. Hukuman-azab kubur dan siksa di akhirat pasti mengerikan. 

Tetapi, bagi para kekasih Allāh, kematian adalah impian indah yang terus diburu. Ia menjadi medium percepatan bertemu dengan sang Idola yang mengundangkan untuk kembali ke pangkuannya. Di surah al-Fajr ayat 27-3, Allah mengundang jiwa-jiwa yang tenang (al-nafs al- muthmainnah) untuk kembali kepada-Nya dengan jiwa meridho dan diridoi. Dengan cumbu romantisnya, Allah akan masuk mereka ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh, dan surga-Nya.

Kita pasti memiliki jawaban sendiri, jawaban dan apologi yang sangat pribadi. Jawaban yang jujur akan menunjukkan hakikat konsistensi iman kita. Dalam percobaan ini, ada pelajaran bagi orang yang berhati kebaikan.

Sahabat! Lidah memang sering latah berucap kata dan kalimat yang diyakini sebagai ekspresi kedalaman iman dan Islam kita. Tetapi, kemunafikan, ambivalensi, minimal ironi iman dan Islam kita teruji saat kita harus mengorbankan dunia untuk perjuangan menggapai janji-janji surgawi.

Mau masuk surga, kok takut mati? Ini sebuah ironi beragama. Ingat, syarat masuk surga, ya kita harus mati terlebih dahulu.[RAN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *