Sarikat Tani Islam Indonesia Gelar Muktamar di Pesantren Darul Fallah

[BOGOR, MASJIDUNA] — Hajatan besar Sarikat Tani Islam Indonesia (STII) berupa muktamar kelima digelar di Pesantren Darul Fallah, Bogor, Jawa Barat. Acara akbar itu digelar selama dua hari, Sabtu (23/11) dan Ahad (24/11). Sekretaris Jenderal STII, Fathurrahman Mahfudz menuturkan, alasan pemilihan lokasi Pesantren Darul Fallah lantaran menjadi salah satu penggagas lahirnya STII.

Menurutnya, Pesantren yang diinisiasi oleh KH Soleh Iskandar, Mohammad Natsir dan mantan Menteri Pertanian Mohammad Sarjan. Dia menilai Darul Fallah menjadi Pesantren terintegrasi yang memadukan antara materi keislaman dan budidaya pangan.

“Kita ingin mengembalikan spirit teman-teman supaya memberikan komitmen yang penuh dan menyeluruh terhadap dunia pertanian,” ujarnya melalui keterangan  tertulis, Sabtu (23/11).

Menurutnya, generasi muda STII perlu melihat kembali kerja para pendahulu yang telah terbukti dalam mengembangkan pesantren pertanian. Fathurrahman bilang, Kiai Soleh Iskandar adalah mantan ketua umum STII dua periode dari tahun 1952 sampai 1970 dan pengurus Masyumi.

Dia menjelaskan, tema Muktamar ‘Kedaulatan Pangan Menuju Petani Sejahtera’, STII ingin membuat gerakan pangan nasional yang selaras dengan program Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yakni mempertahankan kedaulatan pangan merupakan suatu kewajiban.

“Maka, nanti di antara program Muktamar, hari Ahad kita ada pelatihan pangan dengan mikroba google untuk meningkatkan kualitas pangan,” katanya.

Rencananya, Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), Soetrisno Bachir akan membuka kegiatan Muktamar STII kelima ini. Dalam dua hari ke depan, akan dilakukan berbagai sidang pleno hingga pemilihan umum dan diakhiri dengan pelatihan teknologi pangan serta penandatangan kerjasama dengan PT OASE yang disaksikan oleh Bank BRI, Bulog dan Asuransi Jasindo.

“STII akan menggerakkan setiap kabupaten untuk menanam padi sebanyak 100 hektar, jika kita punya 100 kabupaten, berarti secara nasional kita menanam 10 ribu hektare. Dengan begitu kita bisa meningkatkan produktivitas dengan target delapan ton per hektar,” ujarnya.

Melalui teknologi mikroba google ini, nantinya para petani dalam waktu singkat. Sehingga dalam setahun petani dapat melakukan tiga hingga empat kali panen.  Setidaknya, kerja-kerja yang dilakukan secara serius, bakal berdampak besar. Maklum, masalah petani kita rata-rata pascapanen.

Sementara, ketua pelaksanan Muktamar, Nu’man Iskandar mengapresiasi kerja keras panitia dan seluruh stake holder, sehingga kegiatan ini dapat terealisasi dengan baik.   Dikatakan Nu’man, selain kaya dengan sumber lIndonesia merupakan negara agraris. Dengan begitu, menjadikan sebagian bahan makanan dapat tumbuh dengan baik di Indonesia.

.“Tentu potensi ini harus kita kelola dengan baik,” pungkasnya.

[AHR/Foto:laduni.id]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *