Adab Imam Malik Memuliakan Para Tamunya

Ilustrasi Imam Malik (sumber: al-tsaqfah.id)

[JAKARTA, MASJIDUNA]– Salah seorang imam mazhab yang diakui dalam ilmu fiqih di dunia Islam adalah Imam Malik.

Salah satu karyanya yang masyhur sampai saat ini adalah kitab Al Muwaththa, yang dia susun menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah.

Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadis, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah.

Baca Juga: Bagaimana Hukumnya Minum Pil Penunda Haid Supaya Puasa Full

Lahir di Madinah pada 93 Hijriyah (712 Masehi), dengan nama lengkap Malin bin Anas bin Malik bin Abi Amir al Ashbahy.

Selain kepandaian dalam ilmu agama, Imam Malik juga dikenal karena ahlak dan perangainya. Salah satunya adalah adab atau perangai dalam menerima dan memperlakukan tamu,

Sebagaimana dalam ajaran Islam ada kewajiban memuliakan tamu, demikian pulalah yang dipraktekan olah Imam Malik.

Mengutip buku “Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab” karya KH. Moenawar Chalil (terbitan Bulan Bintang, 1955) termaktub adab sang imam dalam memperlakukan para tamunya.

Bila ada tamu yang tidak dikenal datang ke rumahnya, ada seorang asisten yang akan bertanya kepada tamu tersebut mengenai tujuan bertamu. “Apakah maksud tuan datang menemui Imam Malik, akan menayakan urusan hadits atau menanyakan urusan masalah?” begitu asisten baisanya bertanya kepada tamu.

Pertanyaan itu diajukan dengan sopan, dan tidak ada kesan untuk menghalangi sang tamu.

Pernah pada satu ketika, Imam Malik mengundang para muridnya ke rumahnya. Setelah masuk Imam Malik kemudian menunjukan kepada para tamunya kamar-kamar tempat mereka istirahat sekaligus memberi tahu tempat kamar mandi. Sementara sang Imam tidak ikut masuk sehingga membuat para muridnya heran. “Mengapa tuan tidak ikut masuk?” tanya para muridnya.

Baca Juga: Kisah Abu Hasan Al-Asy’ari Berdebat dengan Orang Awam

Sang Imam menjelaskan bahwa ia ingin memberi tahu terlebih dahulu kepada semua tamunya kamar dan kamar mandi. Hal itu agar tidak ada kesalahpahaman, siapa tahu ada muridnya yang merasa tidak disebut namanya karena kelupaan, sehingga bisa saja menimbulkan kebencian.

“Karena itu saya meninggalkan kamu sampai sekalian dapat tempat, baru saya masuk,”kata Imam Malik.

Begitulah adab Imam Malik dalam memuliakan tamu.

Imam Malik meninggal Ahad, tanggal 10 Rabi’ul Awwal 179 Hijriyah atau 800 Masehi.

(IMF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *