Urgensi Sinergisitas Pengembangan Ekosistem Halal di Tanah Air

Diskusi bertajuk Mendorong Ekosistem Halal melalui Perbankan Syariah’ di Bandung, Kamis (13/2). Foto: ayobandung.com

Terdapat banyak tantangan yang dihadapi dalam memperkuat ekosistem halal. Yakni penguatan literasi, sinergi, dan kolaborasi yang dilakukan berbagai pihak, diharapkan akan memperkuat keuangan syariah.

[BANDUNG, MASJIDUNA] — Dalam mengembangkan ekosistem halal di tanah air, dipastikan membutuhkan dukungan dari berbagai para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas. Setidaknya dalam mengoptimalkan postensi halal yang belum terkelola secara maksimal.

Demikian disampaikan Ketua Program Studi Ekonomi Islam Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung  Cupian  dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Mendorong Ekosistem Halal melalui Perbankan Syariah’ di Kota Bandung, Kamis (13/2)

Dia berpendapat, ekosistem halal di Indonesia memiliki potensi yang besar. Sayangnya industri keuangan syariah dan industri halal  berjalan tanpa beriringan. Walhasil, kedua sektor itu pun belum memiliki kontribusi terhadap pendapat negara. Padahal, pertumbuhan ekosistem halal pun bakal mendongkrak pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah.

Dia mengakui perbankan syariah belum optimal menggarap peluang penyaluran pembiayaan ke industri halal. Termasuk para pelaku usaha berbasis syariah yang bergerak di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Karenanya, diperlukan sinergisitas dalam ekosistem halal yang terintegrasi.

“Sehingga dapat menggerakkan lebih banyak pihak,” ujarnya.

Direktur Utama Bank BJB Syariah Indra Falatehan berpandangan,  industri keuangan syariah yang dikembangkan dalam  berbagai produk dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. Seperti perbankan syariah, asuransi dan bentuk-bentuk layanan keuangan syariah non-bank lainnya.

Indra bilang,  Industri jasa keuangan syariah dengan volume usaha dan kekuatan permodalan kecil memiliki keterbatasan. Oleh karenanya diperlukan upaya dalam meningkatkan daya saing dalam bentuk berinvestasi pada teknologi serta memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Terlebih, persaingan yang sedemikian ketat dengan dominasi sistem keuangan konvensional yang sudah mapan.

Strategi pengembangan industri halal

Di tempat yang sama, Pemimpin Divisi Penyelamatan dan Penyelesaian Pembiayaan Bank BJB Syariah, Asep Syarifudin mengatakan bank tempatnya bernaung memiliki strategi dalam mengembangkan industri halal. Antara lain berupa inovasi produk, mempermudah akses produk dan layanan, serta meningkatkan promosi dan literasi industri halal.

Meski demikian, Asep mengakui  masih terdapat banyak tantangan yang dihadapi untuk memperkuat ekosistem halal tersebut. Yakni penguatan literasi, sinergi, dan kolaborasi yang dilakukan dengan berbagai pihak diharapkan akan memperkuat keuangan syariah.

Kepala Bagian Pengawasan Nonbank OJK Kantor Regional 2 Jawa Barat, Noviyanto Utomo mengatakan bahwa pemerintah akan senantiasa mendukung optimalisasi ekosistem ekonomi syariah. Tujuan utama tentunya membentuk lembaga perbankan syariah di Indonesia yang stabil, kontributif dan inklusif.

Menurutnya, sinergi dan semangat berjamaah antar pemangku kepentingan harus ditingkatkan untuk menciptakan industri keuangan syariah yang semakin mewarnai perekonomian nasional.

“Serta menjadi instrumen keuangan yang dipercaya masyarakat Indonesia,” pungkas Noviyanto.

[AHR/Antara]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *