Maghrib Mengaji, Kearifan Lokal yang Jadi Unggulan Daerah

Anak-anak sedang mengaji (sumber: kemenag)

[JAKARTA, MASJIDUNA]- Tradisi mengaji alias membaca Al-quran setiap habis maghrib merupakan kearifan lokal di hampir semua wilayah di tanah air. Meski tergerus zaman, namun tradisi ini tetap dipertahankan. Bahkan, beberapa kepala daerah pernah menjadikannya sebagai unggulan. Provinsi DKI Jakarta, misalnya, pernah menggelorakan maghrib mengaji dalam beberapa tahun lalu.

Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Selatan Timur pun pernah me-launching program ini yang dikaitkan dengan hari besar keagamaan dan liburan puasa.

Baca Juga: Gus Ubed dari Jember Gelar Ngaji Bersama Musisi Selama Ramadan

Dan sekarang, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman Barat, Sumatera Barat, menjadikan Gerakan Magrib Mengaji menjadi program unggulan sampai ke tingkat kecamatan di pada 2023 guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat.

Bupati Pasaman Barat Hamsuardi di Simpang Empat, Minggu, mengatakan gemar mengaji merupakan salah satu pendukung visi dan misi bupati dan wakil bupati di bidang keagamaan.

“Budaya mengaji saat magrib harus terus digalakkan dan dibudayakan di masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan Gerakan Magrib Mengaji itu berupa kegiatan membaca, mempelajari, dan mengkaji Al Quran yang waktunya antara selesai shalat Magrib hingga menjelang Shalat Isya. Selain dilakukan pada waktu shalat lima waktu setiap harinya.

Ia berharap para orang tua mengarahkan anak-anak mereka untuk melaksanakan Gerakan Magrib Mengaji dan memakmurkan masjid, mushala, dan surau, di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Hamsuardi mengimbau kepada seluruh masyarakat agar mematikan tayangan televisi di setiap rumah pada pukul 17.30 WIB sampai 20.00 WIB.

“Camat, wali nagari, atau kepala desa, agar terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar terus menggalakkan magrib mengaji,” katanya.

Pihaknya pada 2036 menargetkan kemauan dan tingkat kemampuan warga Pasaman Barat untuk membaca, mengerti, dan memahami, Al Quran mencapai 30 persen.

Jika harapan ini tercapai dan jadi kenyataan di tengah masyarakat, kata dia, berarti Pasaman Barat dengan 11 kecamatan di dalamnya akan melahirkan generasi Qurani.

Baca Juga: Afkaaruna Global Madrasah, Solusi Ngaji Khazanah Klasik dari Penjuru Dunia

“Tentu target ini tidak mudah dan diperlukan kemauan kita bersama. Mudah-mudahan masyarakat bisa memberikan pendidikan agama kepada anak-anak,” harapnya.

(IMF/Antara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *