Masjid Perahu, Menganut Filosofi Nabi Nuh

Yakni membangun bahtera atau perahu besar untuk menyelamatkan umat yang beriman kepada Allah SWT.

Masjiduna.com, Jakarta – Bangunan pencakar langit berdiri kokoh di tanah Jakarta. Perkampungan penduduk pun kerap tergusur akibat kemajuan zaman. Berganti menjadi bangunan tinggal yang menjulang tinggi. Apartemen, begitu orang menyebutnya. Seperti halnya  di bilangan Tebet, Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Siapa sangka, di balik dua apartemen yang berdiri kokoh, terdapat masjid.

Menjadi biasa bagi sebagian kalangan ketika keberadaan masjid di balik bangunan menjulang tinggi. Namun, terdapat hal menarik di bandingkan kebanyakan masjid pada umumnya. Ya, masjid tersebut terdapat perahu. Moda transportasi di laut itu biasa menepi di pelabuhan. Namun perahu kali ini justru menepi di halaman Masjid.

Adalah Masjid Agung Al-Munada Baiturrohman. Masjid yang terletak di bilangan Jalan Menteng Dalam, Rt 003/RW 005, Tebet, Jakarta Selatan. Untuk menjangkau ini masjid, meski berliku. Yakni dapat melalui Jalan Pandawa atau Jalan Menteng Pulo, setelah itu melewati satu gang kecil bertuliskan kaligrafi Alquran yang mengarah kea rah Apartemen Casablanka.

Masjid yang berlokasi di tengah pemukiman penduduk itu memiliki sejarah cukup unik. Berdiri pada 1962 silam, masjid tersebut didirikan oleh Kyai Haji Massum. Masjid tersebut dibangun bersamaan dengan perahu yang hingga kini masih bertengger di depan masjid. Ide pembuatan perahu lantaran terinsipirasi dengan kisah Nabi Nuh Alaihisalam.

Sebagaimana diketahui, Nabi Nuh membuat perahu besar lantaran bakal datang banjir besar atau air bah. Itu sebabnya perahu yang dibuat mengajak orang yang beriman kepada Allah agar menaiki perahu sehingga terhindar dari bencana banjir besar tersebut di jamannya. Sedangkan orang yang kuffur pun hilang diterjang banjir besar,  akibat membangkang dakwah Nabi Nuh. Temasuk sang anak Nabi Nuh.

Nah,  sekilas kisah Nabi Nuh itulah menjadi inspirasi berdirinya Masjid Agung Al-Munada Baiturrohman. Inspirasi tersebut yakni membangun bahtera atau perahu besar untuk menyelamatkan umat yang beriman kepada Allah SWT. Hingga kini, keaslian “Masjid Perahu’ masih tertap terjaga.  Sekalipun direnovasi, hanya pada bagian tetentu saja yang mengalami kerusakan.

Sebutan Masjid Perahu pun baru dikenal beberapa tahun belakangan terakhir. Itu pun lantaran terdapat perahu yang terparkir di depan Masjid. Kini, perahu tersebut digunakan sebagai tempat berwudhu dan terdapat kamar mandi. Sedangkan di bagian ‘dek kapal’ ternyata menjadi tempat jamaah taklim berdzikir.

Itu pun tidak menampung banyak, hanya sekitar lima sampai enam orang saja. Bagian menarik lainnya dari perahu itu yakni terdapat ruang rapat bagi pengurus masjid. Di ruang itulah pengurus mengatur kegiatan masjid melalui rapat-rapat.

Masjid Perahu layak menjadi wisata religi bagi masyarakat Jakarta. Nah, bagi anda yang hendak melakukan wisata religi, Masjid perahu layak anda sambangi sembari mengetahui seluk beluk sejarah berdirinya Masjid Perahu. [hdt]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *