Connect with us

Sosok

Kisah Mantan Teroris Ali Fauzi Tak Tega Melihat Penderitaan Korban

[JAKARTA, MASJIDUNA]- Ali Fauzi adalah sosok orang penting di lingkungan Jamaah Islamiyah (JI), organisasi yang beberapa kali mendalangi aksi teror di tanah air. Dia adalah adik dari trio pelaku Bom Bali 2002, Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron.

Meski Ali Fauzi tidak terlibat langsung dalam peristiwa di Bali, Namun sosok dan perannya dalan jaringan Jamaah Islamiyah sangat vital. Dialah salah seorang perakit bom. Menurut Ali Fauzi, ketika menjadi bagian dari kelompok teroris, sikapnya kepada yang berbeda pandangan agama sangatlah keras.

Keterlibatan Ali dalam jaringan JI membuatnya melanglang buana hingga ke wilayah konflik seperti Afganistan dan Filipina selatan. Namun, sepandai-pandai melompat, Ali terkena juga.

Pada 2004 Ali ditangkap pihak keamanan Filipina, kemudian dideportasi ke Indonesia dan menjalani hukuman selama tiga tahun di sini.

Usai menjalani masa hukuman, Ali dipertemukan dengan dengan para korban aksi terorisme. Mereka rata-rata mengalami cacat fisik dan tekanan mental.

Salah satunya seorang lelaki yang kakinya harus diamputasi karena terkena serpihan bom JW Marriot pada 2009 silam. Korban bom bernama Max Boon itu adalah warga negara Belanda, yang waktu kejadian menginap di hotel yang berada di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

“Mas Ali Fauzi, saya sudah memaafkan Anda,” kata Max. Pernyataan memaafkan dari para korban membuat Ali remuk hatinya. “Hati saya hancur. Kalau saya jadi mereka, saya belum tentu bisa memaafkan,” katanya dalam kesaksiannya, dalam acara “Bincang Siang & Diskusi Bersama Pimpinan Redaksi Media “Terorisme, Korban, dan Media” Aliansi Indonesia Damai dari (AIDA) di Jakarta, Kamis (9/12/2021).

Ali Fauzi tersadarkan bahwa korban benar-benar menderita karena ulahnya yang tidak berperikemanusiaan. Dia pun mendekati para korban dan meminta maaf. Bukan hanya itu, Ali kemudian mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian, di kampungnya di Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, yang yang salah satu programnya mengajak para mantan napi teroris untuk kembali ke jalan kemanusiaan.

Ada 112 para mantan napi teroris yang kini dalam binaanya untuk bisa menatap masa depan yang lebih berguna dan meninggalkan paham kekerasannya.

Selain mendirikan yayasan, Ali juga sedang membangun cafe dan camping ground di Bukit Kendil Lamongan. Hal itu dia lakukan, untuk mengajak para mantan napi teroris agar kembali menjadi manusia yang mau bekerja dengan cara halal dan tidak saling menyakiti. “Tahun depan cafenya buka,” kata dia.

(IMF/foto:TEMPO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok