Connect with us

Ekonomi Islam

4 Poin Penting Mengembangkan Wakaf

Mulai bersyukur, hingga mentransformasikan aset wakaf.

[LAMPUNG, MASJIDUNA] —  Kesadaran pentingnya wakaf di tanah air terus mengalami perkembangan. Berbagai literasi soal wakaf menjadi pemicu dan pemacu bagi pengetahuan tentang wakaf. Setidaknya terdapat empat poin penting dalam mengembangkan sektor wakaf di tanah air.

Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof  Mohammad Nuh mengatakan empat poin penting pengembangan wakaf perlu diimplementasikan. Pertama, terus bersyukur  lantaran dipertautkan dengan wakaf yang memiliki nama lain dari sedekah jariyah. Wakaf, mrupakan bisnis abadi yang menghasilkan keuntungan berupa pahala di kehidupan akhirat kelak.

Sebab dengan begitu bakal bermafaat  saat manusia memasuki alam barzah akibat dari pahala wakaf yang terus mengalir. Dia menganalogikan wakaf menjadi mesih penghasil sedekah jariyah kendati wakifnya telah wafat.

“Hidup di dunia tidak abadi, tapi ada yang abadi dan menghasilkan pahala yang mengalir terus saat sudah masuk alam barzah. Dan setidaknya dengan berkecimpung di dunia wakaf kita punya satu mesin sedekah jariyah,” ujarnya saat bersilaturahim dengan BWI Lampung, akhir pekan lalu.

Kedua,  dalam memperbesar aset wakaf, nazhir perlu memiliki strategi dalam memperbanyak jumlah wakif dan harta benda wakaf yang dikelola. Dampaknya,  out-put dan out-come yang diperuntukan mauquf alaih terus meningkat dalam bentuk bantuan pembangunan fasilitas umum, pendidikan, hingga kesehatan.

Karena itulah, kemampuan nazhir dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf perlu diuji. Dengan begitu tingkat kepercayaan masyarakat bakal meningkat. Dampaknya,  para wakif berminat mewakafkan hartanya. Selain itu, transparan mengelola  harta benda wakaf, agar para wakif merasa aman mempercayakan harta yang diwakafakn dikelola nazhir.

Menurutnya, langkah kongkrit  BWI dengan lahirnya Lembaga Sertifikasi Profesi Badan Wakaf Indonesia. Lembaga tesebut memiliki tugas utama menguji kompetensi nazhir dalam mengelola wakaf. Dengan begitu dapat memiliki standar pengelolaan wakaf serta memberikan pelatihan peningkatan kapasitas Nazhir dalam mengelola wakaf.

Ketiga, model bisnis monopoli mulai  meredup. Sebaliknya, model bisnis ekosistem yang capital mengalami peningkatan. Sebab manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Seperti membangun dan mengembangkan sebuah perusahaan. Sementara hasil  keuntungannya digunakan membangun fasilitas pendidikan dari tingkat paling bawah sampai Perguruan Tinggi. Ujungnya,  menghasilkan sumber daya manusia dari berbagai indisipliner ilmu dari berabagai macam keahlian pasca lulus.

Keempat,  BWI Provinsi bertugas menstransformasikan aset wakaf. Menurutnya aset wakaf jumlahnya amat banyak, serta memiliki potensi sampai ribuan trilliun. Karena itulah, kata Prof Nuh, perlu ditransformasikan menjadikan aset tengible dan riil, serta menjadi real power. Menurutnya, menjadi real power berupa aset wakaf yang diproduktifkan dan hasilnya disalurkan ke Dhuafa.  

Dia menilai, agar dapat mencapai hal tersebut,  perlu melakukan langkah nyata. Dia optimis,  BWI Provinsi dapat melakukan hal tersebut  hingga berhasil. Dengan begitu,  nantinya BWI Provinsi disegani lantaran mampu membesarkan aset wakaf beserta manfaatnya.

[AHR/BWI/ilustrasi:net]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Ekonomi Islam