Nuansa Ramadan di Negeri Bekas Komunis

Foto Interior Masjid Pasha Kasim, di Pecs, Hungaria

Oleh: Saru Arifin [PhD Candidate, Fakultas Hukum, Universitas Pecs, Hungary]

[PECS, MASJIDUNA] – Ramadhan bagi kebanyakan muslim di Asia dan Timur Tengah tidak hanya bernilai ibadah mahdhah, yakni kewajiban yang harus dijalankan, melainkan juga lekat dengan ritus budaya. Lihat saja bagaimana kegembiraan menyambut bulan suci ini begitu beragam, mulai dari tradisi padusan di tanah air, menyalakkan ‘meriam’di London, semarak lentera di Mesir dan nyanyian diiringi musik nan ceria di Turki dan lain sebagainya. Ketika ramadhan dimulai, semarak ibadah puasa, tarawih dan tadarus juga begitu terasa atmosfirnya. Nuansa ramadhan yang begitu semarak dan hikmat tersebut terasa lebih mendalam lagi tentunya di tanah air yang memiliki traidisi ramadhan yang warna-warni dalam ritus budayanya. 

Namun, bagi muslimin perantau di negeri barat, terlebih lagi di negeri bekas komunis seperti Hungary, nuansa ramadhan tersebut tidak bisa sepenuhnya didapatkan, terutama di kota yang tidak memiliki Masjid. Alhasil, nuasa ramadhan tersebut diciptakan oleh masing-masing individu atau keluarga di tempat tinggal masing-masing. Itulah setidaknya gambaran bagaimana kami di Kota Pecs, selama dua tahun berlalu dalam menjalani ibadah ramadhan tanpa nuansa khasnya. 

Namun kini, ramadhan di Kota Pecs sudah sedikit terasa nuansanya dengan adanya Masjid baru, Al Furqan, yang dibeli dan dikonversi dari sebuah gedung galeri seni persis di belakang Masjid Pasha Kasim peninggalan Ottoman pada abad ke-15an–yang saat ini diubah statusnya menjadi museum. Di dalam masjid Pasha Kasim ini simbol-simbol Islam masih terpajang dengan rapi, seperti kaligrafi basmalah dan mihrab yang ‘berbagi’ dengan salib, serta artefak-artefak sejarah Turki Ustmani. 

Para pelajar muslim yang notabene berasal dari Asia, Timur Tengah dan Afrika begitu antusias menghadirkan nuansa ramadhan tahun ini dengan mulai menggelar ifthar bersama (bukber) dan shalat tarawih. Sementara di WA group Muslim Pecs juga gayeng postingan doá, cermah, khitabah dan advertise makanan halal. Tentu ini semua berdampak positif bagi tersemainya semangat beribadah ramadhan bagi kaum muslimin Pecs yang sudah cukup lama dirindukan.

Dibukanya masjid atas jasa para sodagar Timur Tengah yang membeli gedung galeri untuk Islamic Center Pecs nantinya secara tidak langsung ‘menebar’ syiar Islam bagi penduduk lokal yang tadinya tidak mengetahui bagaimana ritus ibadah kaum muslimin dilakukan, seperti azdan dikumandangkan dan shalat ditegakkan. Selama satu bulan alih fungsi galeri seni ke masjid berlangsung, sebagian pegawai galeri tersebut masih bekerja hingga akhir bulan ini. Dalam setiap shalat Jumát berlangsung mereka melihat dan mendengar secara langsung bagaimana prosesi Jumátan ini dilakukan.

Sementara itu, di kehidupan sosial masyarakat Pecs, kehadiran ratusan pelajar Muslim di kota ini memberikan warna tersendiri. Cukup banyak ditemui Muslimah berjilbab di berbagai tempat seperti kampus, pusat-pusat perbelanjaan, transportasi publik dan kedai-kedai halal. Bahkan pengalaman keluarga kami, tiga dari dua putri kami yang bersekolah di sekolah lokal tetap mengenakan jilbab. Awalnya, pihak sekolah canggung untuk menerima mereka sebagai siswa karena berjilbab–tentu kami paham suasana kebathinan mereka–walau sebelumnya sudah ada tiga siswa Muslim lainnya dari Kurdi-Iraq, namun ketiga bersaudara dengan dua diantaranya putri itu tidak mengenakan jilbab. 

Alhasil, setelah kedua putri kami masuk sekolah tersebut (kini menjelang akhir semester kedua) mereka diberondong dengan beragam pertanyaan dari kawan-kawannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang jamak ingin diketahui orang-orang barat. Soal jilbab, soal makanan, soal hubungan sosial dengan lawan jenis, ibadah dan lain sebagainya. Setiap hari atau kerapkali kedua putri kami tersebut pulang sekolah menceritakan berbagai pengalaman ditanya soal-soal mendasar tersebut. Dan mereka, terutama si sulung mampu menjawab ‘to the point‘–sebatas memberitahukan hal-hal yang ditanyakan tersebut. 

Poinnya dari pengalaman mereka tersebut setidaknya ‘Islam’ sudah diperkenalkan secara simbolik kepada pelajar dan pihak sekolah melalui simbol-simbol pakaian khususnya dan percakapan secara umum. Ini sederhana tetapi memiliki ‘nilai positif’ dalam ‘mensyiarkan’ Islam agar bisa dipahami melalui interaksi secara langsung. Alhasil, kehadiran pelajar muslim tersebut secara perlahan mengikis persepsi Islamophobia yang kuat tertanam dan ditanamkan oleh para politisi dan media selama puluhan tahun lamanya terutama di kalangan generasi tua di Hungary dan tentunya juga di Kota Pecs. 

Dengan keramahan dan keterbukaan para pelajar muslim tersebut terhadap penduduk lokal, persepsi positif terhadap Islam terus terbangun dan melebur dalam akulturasi budaya yang saling hormat dan menghormati.

Bagi pelajar muslim Indonesia, setidaknya nuansa ramadhan alakadarnya ini tentu memberikan dahaga tersendiri. Masjid sebagai pusat peribadatan kini hadir di tengah kota, sehingga ada tempat untuk ibadah shalat jika sedang di tengah kota. Sebab sebelumnya, jika jalan-jalan santai ke çentrum atau pusat kota perlu selalu mencocokkan dengan waktu shalat yang sempit, seperti maghrib, sehingga harus segera kembali ke flat masing-masing. Namun kini, tak perlu lagi kuatir ketinggalan waktu shalat karena ada masjid di tengah kota. Apalagi pada hari Jumát-Sabtu di bulan ramadhan ini digelar buka bersama (bukber) yang dilanjutkan dengan tarawih. Selain itu, kehadiran masjid tersebut melengkapi kebutuhan kaum muslimin akan fasilitas keagamaan seperti kedai halal yang sudah ada sebelumnya di centrum, yakni DZ Food Street yang dikelola oleh Muslim Aljazair, Best Food Grill dan Kebab OASIS. 

Kini tantangan kedepannya, bagaimana memakmurkan masjid yang sudah ada tersebut agar terus berkembang dan tidak saja memberikan keberkahan bagi kaum muslimin di Kota Pecs tetapi juga bagi masyarakat setempat secara umum, utamanya dalam pembangunan persaudaraan kemanusiaan yang saling toleran satu dengan lainnya. Ini penting sekali ditengah masih munculnya Islamophobia di negeri-negeri Eropa Barat yang selalu menjadi komoditas politik dalam setiap kontestasi pemilihan umum.  

[RAN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *