Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
“Apakah kepergiaan kita akan ditangisi, dan dirindui dalam kemuliaan?”
Ini hikayat seorang zāhid yang jenazahnya diurus oleh malaikat. Namanya tidak disebutkan oleh Ibn al-Jauzi dalam narasi di kitabnya ‘Uyūn al-Hikāyat min Qashash al-Shālihīn wa Nawādir al-Żāhidin. Tetapi, kandungan kisahnya mematrikan satu pesan yang sangat mendalam bagi qalbu yang merindu kemuliaan di mata Allah.
Kisah ini tentang ujung hayat yang indah dari sosok seorang zāhid. Menjelang kematiannya, secara kebetulan, seorang zāhid dijumpai oleh Abū ‘Utbah al-Khawwāsh di rantau gunung yang jauh dari pemukiman warga. Bahkan di wilayah itu tidak ada tempat untuk berteduh dari panas terik sinar matahari, dan dinginnya sengatan udara malam. Hanya jiwa yang berjuang atas nama “cinta mati” di jalan Allah yang siap dan berani menelusuri jalan berliku seperti ini untuk menapaki tangga kemuliaan.
Dalam keadaan lemah di napak tilas petualangan spiritualnya, sang zāhid akhirnya wafat dalam kesendirian, karena dia memilih menyendiri jauh dari keramaian duniawi dan euphoria hedonis syahwat. Ini adalah jalan lazim para sālik, sosok petualang sejati dalam penggumulan olah rohani ketika dia menempa diri. Baginya, tidak ada hal yang terasa berat untuk menempa diri untuk menjadi mulia di mata Allah.
Perjumpaan Abū ‘Utbah al-Khawwāsh dengan sang zāhid memang singkat, dan ini adalah perjumpaan pertama mereka. Namun, Abū ‘Utbah sangat mengenali tanda-tanda kezuhudan sosok salik yang menyendiri ini. Dalam perjumpaan yang singkat, Abū ‘Utbah bermohon pelajaran kepada sang zāhid ini. Beliau meminta wasiat padanya.
Abū ‘Utbah lalu bertutur pad sang zāhid: “Guru, saya menginginkan kebaikan dalam hidup ini. Semoga baginda guru berkenan memberi saya suatu pelajaran hikmah?”
Zāhid itu sesaat terdiam, dan terlihat dalam keadaan lemah dan tidak cukup sehat. Dia juga terkesan agak enggan, berhati-hati untuk berwasiat untuk kebaikan. Karena permintaan Abū ‘Utbah yang keukeuh, sang zāhid akhirnya berpesan singkatnya.
Katanya “Wahai saudaraku, tetaplah engkau konsisten, teguh menapaki jalan hidupmu di atas khiththah (garis lintasan) kebenaran di manapun engkau berada. Demi Allah, (dengan memberi wasiat ini), saya sungguh tidak memuji diriku sendiri. Saya tidak merasa diriku ini baik, hingga saya layak menyuruh saudaraku ini untuk meniru amal perbuatan yang saya lakukan”.
Aang zāhid begitu rendah hati. Kata-katanya bijak. Dia terkesan takut berwasiat. Qalbunya bergetar takut kalau wasiat hikmahnya keluar dari kesombongan hati. Dalam tutur singkatnya tadi, tidak terkandung diksi dan intonasi yang menyiratkan, apalagi menyuratkan jiwa ta’ajjub sang zāhid pada dirinya. Tidak ada indikasi psikologi kesombongan padanya, walaupun wajahnya memancarkan sinar aura kezuhudan kelas wali. Allahu akbar.
Sahabat!
Setelah berwasiat, sang zāhid terkulai lemah, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Abū ‘Utbah kebingungan menghadapi kematian mendadak ini. Saat itu, waktu sudah beranjak senja, dan temarang cahaya matahari sudah meredup. Abū ‘Utbah memilih untuk beristirahat dan berencana mengurus jenazah zāhid ini besok pagi.
Abū ‘Utbah kemudian beristirahat tidak jauh dari jenazah zāhid. Karena kelelahan, Abū ‘Utbah, malam itu, tertidur lelap. Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat 4 sosok malaikat turun dari langit mengurus semua keperluan jenazah sang zāhid, sampai mereka menguburkannya.
Di pagi buta, Abū ‘Utbah bergegas mendatangi jenazah sang zāhid. Namun, dia tidak menemukan jenazah tersebut. Setelah berkeliling di sekitar areal sang zāhid wafat, Abū ‘Utbah menemukan kuburan baru, seperti makam zāhid yang dia lihat dalam mimpi. Ternyata mimpi Abū ‘Utbah adalah nyata. Karena jenazah zāhid sudah diurus oleh empat sosok asing, gaib, seperti yang dilihatnya dalam mimpi. Semua terjadi atas kehendak Allah.
Sahabat!
Ada hikmah dari kisah ini. (a) Orang alim takut berwasiat, apalagi dengan nada menggurui orang lain. Ini, nampaknya, menjadi penjelasan kenapa para wali Allah tidak mudah mengobral nasihat kesalehan. Dalam keadaan ini, mereka tidak berarti pelit dan tidak mau berbagi ilmu. Tetapi, hatinya terkesan khawatir, dan qalbunya getir jika wasiatnya justru lahir dari rasa kesombongan. Dia takut jika nasihat itu mewujud dari letupan sporadis dari perasaan lebih baik, lebih alim, lebih saleh, lebih mengerti, dan lebih ahli dibandingkan orang lain.
(b) Allah tidak mengingkari janji-Nya. Dia selalu menunjukkan konsistensi pemenuhan janji bahwa kebaikan petualangan spiritual seorang hamba akan dihargai, bahkan dihormati, dimuliakan oleh-Nya. Jalan zuhud seperti dalam kisah hikmah ini menjadi pelajaran tentang pintu dan lintasan naik untuk kita menapaki tangga kesempurnaan, dengan predikat husnul khatimah.
(c) Pelajaran yang jauh lebih menyentuh qalbu orang beriman bahwa “orang hebat dengan status cumclude, mumtādz di mata Allah, di ujung dan pasca kematian, tidak identik dengan gelimang harta, glamour takziyah yang diliput ramai oleh media, dan dihiasi dengan semarak karangan bunga, dan taburan kembang di makam. Semua itu hanya indikasi sang mayit dihormati di mata manusia.
Ya Allah, biarlah kisah sederhana dari seorang zāhid yang terlupakan oleh sorot kemeriahan kamera dan glamour penghormatan terhadap jenazahnya menjadi pengingat kami bahwa sosok hamba-Mu yang mulia di mata-Mu adalah dia yang hanya menghadirkan nama-Mu dan kedirian-Mu di qalbunya. Kesadaran dan kerinduannya pada-Mu selalu lebur dalam setiap nafas kehidupannya. Dia lupakan pesona daya tarik dunia untuk penuh mencintai dan mengharap ridlo-Mu. Dia tidak silau dengan hirup-pikuk glamour hidup yang memuja keinginan duniawinya.
[RAN/Foto: Internet]
