Membangun kepercayaan melalui transparansi , akutabilitas dan pengawasan menjadi satu dari lima prioritas.
[JAKARTA, MASJIDUNA] — Kementerian dan lembaga acapkali pergantian tahun merumuskan sejumlah program. Satu diantaranya, Badan Wakaf Indonesia (BWI). Lembaga yang fokus pada bidang wakaf, setidaknya memiliki lima program yang berhasil dirumuskan setelah melakukan rapat kerja.
Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia Prof. Mohammad Nuh mengatakan kelima program tersebut menjadi unggulan dalam menjalankan roda organisasi secara kelembagaan. Lantas apa saja yang menjadi lima program tersebut?
- Membangun kepercayaan publik melalui transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan.
- Meningkatkan profesionalitas dan militansi nazhir dengan melakukan Upgrading Kompetensi, standard, dan sertifikasi nazhir.
- Menggecarkan literasi dan Edukasi Perwakafan Umat dalam bentuk Sosialisasi, dan edukasi publik secara terstruktur.
- Melakukan harmonisasi kelembagaa dan aspek hukum perwakafan yaitu dengan cara amandemen peraturan, koordinasi, dan kerjasama antar lembaga.
- Membuat Kepraktisan, dan inovasi produk wakaf dengan pemanfaatan teknologi, dan inovasi produk dan layanan wakaf.
Prof Nuh, begitu biasa disap berpandangan, betapa pentingnya meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam meningkatkan animo masyarakat terhadap wakaf. Dengan begitu nantinya aset wakaf bakal meningkat. Begitupula diversifikasinya pun terus meluas.
Sehingga dampak terhadap penerima manfaatnya atau Mauquf Alaih dapat terus bertambah banyak. Begitupula dengan dengan wakaf sifat pemberi dalam diri manusia bisa ditumbuhkan.
“Wakaf itu mulia, bisa menumbuhkan sifat pemberi bukan peminta-minta, mari kita tingkatkan public trust masyarakat untuk berwakaf agar aset wakaf semakin berkembang diversifikasinya dan cakupan penerima manfaatnya semakin luas,” ujarnya, Rabu (10/02) kemarin.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu pun berharap agar pengurus lembaga yang dipimpinnya yang baru ditetapkan menjaga kekompakan, semangat serta ikhlas dalam mengemban tugas perwakafan di Indonesia. “Yang banyak liku dan tantangannya,” pungkasnya.
[AHR/BWI]
