Sebelum Belanda Datang, Orang Tionghoa Lebih Banyak Memeluk Islam

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, etnis Tionghoa biasanya dilekatkan dengan penguasan kolonial Belanda, ketimbang dengan pribumi. Padahal, sebelum Belanda masuk ke nusantara, etnis Tionghoa sudah bermukim di sini baik sebagai pedagang, kuli bahkan ada juga yang menjadi penyebar agama Islam.

Catatan sejarah tentang etnis Tionghoa muslim yang eksis sejak dulu, bukan kabar angin. Leo Suryadinata, ahli dalam soal masyarakat Tionghoa di Indonesia menulis buku berjudul “Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia” pada 1988. Dalam buku tersebut ada satu bab khusus yang diberi judul “Gerakan Dakwah di Kalangan Orang Tionghoa Indonesia”.

Menurut Leo, sebelum Belanda datang memang banyak etnis Tionghoa memeluk agama Islam. Namun, kecenderungan ini kemudian memudar setelah Belanda masuk. Sebabnya, Belanda berhasil melakukan provokasi dengan mengaitkan agama Islam dengan kemiskinan dan kebodohan. ‘Hal ini disebabkan oleh kebijakan yang berdasarkan ras dari orang Belanda dan karena direndahkannya Islam. Dalam masyarakat kolonial, Islam dikaitkan dengan suatu kelompok sosial-ekonomi yang lebih rendah dan karenanya tidak menarik banyak orang Tionghoa”.

Sementara menurut sejarawan Ong Hok Ham, Tionghoa muslim adalah pemandangan wajar pada masa sekitar tahun 1700-an. Apalagi sesudah peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh Belanda pada 1774. “Pada 1776, jumlah orang Tionghoa yang beragama Islam sedemikian banyaknya, sehingga mereka yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Bumiputera, mulai tahun itu berada di bawah kekuasaan seorang kapitein Tionghoa muslim tersendiri,” tulis Ong.

Kapitein Tionghoa muslim terakhir adalah Kapitein Mohammad Japar yang meninggal pada 1827.

(IMF/netralnews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *