Sepak Terjang Muhammadiyah di Bumi Cenderawasih Jadi Pertaruhan

Ketika orang meragukan, maka Muhammadiyah hadir sebagai bukti. Litakuna syuhada’ alan nas wa yakunu rasulu alaikum syahida.

[JAKARTA, MASJIDUNA] — Stigmatisasi terhadap Islam sebagai agama yang keras tidaklah benar. Apalagi beragam narasi yang dibuat di negeri barat tidaklah berdasarkan fakta empiris yang acapkali dilempar ke publik. Terlebih di Indonesia pun yang notabene mayoritas berpenduduk muslim terjadi  arus Islamophobia.

Ketua Majelis  Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal prihatin dengan kondisi tersebut. Dia pun mengimbau agar warga Muhammadiyah tak terkecok oleh beragam kebisingan di ruang publik. Sebaliknya, warga Muhammadiyah tetap fokus bekerja, mengamalkan ilmu dan beramaliyah sepertihalnya di tanah Papua.

Bagi Fathurrahman, beramaliyah di bumi  Cenderawasih  menjadi pertaruhan besar ketika banyak orang meragukan komitmen umat Islam daam mendukung kebhinekaan mapun  keragaman di Indonesia.

“Saya kira Muhammadiyah kita di Papua, di Sorong menjadi pertaruhan kita, dan kita menjadi pemangku amanah fardhu kifayah atas berbagai macam stigmatisasi yang negatif terhadap Islam dan umat Islam di negeri ini,” ujarnya dalam pengajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) sebagaimana dikutip dari laman Muhammadiyah.

Menurunya sebagai warga Muhammadiyah mesti berbaga ketika organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu berkiprah di tanah Papua,  Sorong dan wilayah lainnya dengan perguruan tingginya. Bahkan tak kurang dari 90 amal usaha menjawab secara otentik bahwa Islam tak seperti yang distigma banyak kalangan.

“Islam tidak seperti yang diungkap dalam arus keras Islamophobia baik di Indonesia maupun di negeri-negeri yang lain,” katanya.

Fathurrahman berpendapat, kemanfaatan perguruan tinggi dan amal usaha Muhammadiyah di tanah Papua amatlah dirasakan mayoritass umat non muslim secara adil. Kendati senyap pemberitaan, Muhammadiyah terus bergerak sebagai bukti beramaliyah dalam beragama secara benar.

Baginya, Muhammadiyah ingin menegakan kesaksian di hadapan Allah Subhananu Watta Ala tentang adanya muslim Indonesia dalam arus keras Islamophobia yang memberi jawaban otensi, bukan sebaliknya narasi semata.

“Ini pertaruhan dan kita akan menjadi jawaban. Ketika orang meragukan, maka Muhammadiyah hadir sebagai bukti. Litakuna syuhada’ alan nas wa yakunu rasulu alaikum syahida,” pungkasnya.

[KHA/Muhammadiyah/Foto:Inet]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *