Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta)
KASUS mega korupsi proyek Hambalang mengajarkan kepada kita kisah tentang loyalitas, kesetiaan para pendosa. Kasus korupsi besar, atau kasus konspirasi jahat lain, selalu menyeret banyak orang. Orang-orang jahat, saat mereka terpojok, saat harus mempertanggungjawabkan dosa kejahatannya, lazim tidak rela harus sendirian menanggung akibat dosa bersamanya.
Refleksi ini diinspirasi oleh pitutur, mahfudzat (kata Mutiara), yang mengingatkan bahwa “kualitas sahabat sejatimu akan nampak saat kamu terpuruk”, yaitu sahabat sejati dalam suka-duka; bahkan affirmatif membela-menyelamatkan kita.
Sahabatku yang baik hati! Dalam banyak tragedi, keserakahan lazim menuai kesedihan seperti kasus “suka kaya (serakah, korupsi), yang berujung penjara di Sukamiskin” di Bandung. Kawan-kawan dekat dalam aksi keserakahan yang pragmatis-oportunis, justru tidak jarang “cuci tangan”. Mereka melupakan ikatan moral persahabatan. Mereka menjaga jarak, menjauh, terus tidak segan meninggalkan kawan-kawannya sendiri harus menanggung hukuman “dosa” kolektif.
Namun, juga benar bahwa di saat terjerat dan terjepit masalah pelik dan delik, orang jahat, para pendosa tidak jarang menyeret teman-temannya ke dalam spektrum pusaran kasus yang menjeratnya. Seorang narapidana, mantan bendahara umum sebuah partai yang berkuasa saat itu, tidak terima mendekam sendirian di hotel prodeo Sukamiskin. Ocehannya, akhirnya, menyeret beberapa pembesar partai tempat dia meniti karir politiknya.
Sahabatku! Apakah pernah terbesit di benak dan qalbu kita tentang kesetiaan sahabat-sahabat yang akan menyelamatkan kita, terutama saat kita justru terpuruk dalam duka dan siksa, saat kita tidak berdaya?
Hidup ini terasa seperti teka-teki yang susah untuk ditebak, bahkan nyaris tidak bisa dikontrol. Manusia hanya mampu berencana, namun, nasib dan takdir Tuhan yang pasti akan menentukannya. Kita tidak tahu nasib kita di kemudian hari, bahkan di hari saat tumpukan materi menjadi tidak berarti untuk membela dan menyelamatkan diri dari siksa.
Adalah suatu kepastian bahwa tempat dan kondisi obyektif kita nanti hanya di antara kebaikan-pahala-bahagia, dan keburukan-dosa-derita. Saat kita terpuruk dan tercampak dalam derita, lalu siapa yang akan turun tangan menyelamatkan kita?
Saudaraku! Coba kita ingat ulang, kisah tragis persahabatan orang-orang jahat penuh dosa di lingkaran korupsi di atas. Saat susah, loyalitas, kesetiaan di antara mereka teruji, dan terbukti. Faktanya, tidak ada kesetiaan dalam persahabatan para pendosa.
Bahkan al-Quran telah membocorkan ideologi culas para pendosa, seperti difirmankan dalam Surat al-Ma’arij, ayat 10-14. Ingatlah, pada saat langit bagaikan cairan tembaga yang mendidih; gunung-gunung bagaikan partikel atomik yang beterbangan; saat itu, tidak ada seorang karib menanyakan kondisi koleganya. Mereka saling menatap datar tanpa peduli, karena dia sibuk, obsesif ingin mencari jalan selamat.
Pada hari itu, sosok pendosa, sungguh biadab. Dia akan mengorbankan siapa dan apa saja untuk keselamatannya. Anak akan dia “jadikan tumbal” keselamatannya, juga pasangan dan saudaranya; bahkan semua anggota keluarga yang dulu setia melindungi dan menyayanginya; lebih tragis lagi, dia tidak keberatan harus mengorbankan semua warga bumi untuk keselamatan pribadinya.
Sahabatku! Sejatinya, tidak ada kesetiaan dari teman-teman jahat kita yang berlumuran dosa. Saat susah, mereka akan sibuk menyelamatkan dirinya; melupakan kita yang juga terjebak dalam petaka. Sebaliknya, loyalitas, kesetiaan sahabat dalam Iman dan Islam mengajarkan arti kesetiaan sejati dalam duka dan bahagia.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menjelaskan loyalitas, kesetiaan sesama orang beriman. Dikisahkan, warga surga “curhat” kepada Tuhannya. “’Ya Robb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia mereka sholat bersama kami, berpuasa bersama kami, dan berjuang bersama kami”. Allah berpesan pada mereka “Pergilah kalian ke neraka, lalu bela, dan keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarah”.’ (HR Ibn al-Mubarak, dalam kitab al-Zuhd). Ini wujud kesetiaan abadi dalam Iman-Islam.
Kawan, janganlah mencari sahabat berdasarkan kepentingan praktis-pragmatis semata, yang akan menyisakan duka-petaka. Carilah sahabat untuk kemaslahatan bersama yang abadi, maslahat dunia, dan manfaat-syafaat (grasi) di akhirat.
Merenungi hakikat kesetiaan dalam Islam, Ibn al-Jauzi (w. 597 H), seorang alim era klasik, berpesan sendu pada sahabat-sahabatnya “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, kumohon, kalian tanyakan tentang aku kepada Allah”. Ucapkan “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan (aku), dulu dia pernah menyadarkan kami untuk mengingat Engkau, ….” Sesaat, beliau terdiam sedih, lalu menangis, dan terus berbisik “temui dan carilah aku di neraka, dan selamatkanlah aku”.
Hasan Al- Bashri (w. 110 H), seorang sufi mumpuni, pernah berwasiat “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, orang-orang saleh, karena mereka memiliki kartu AS, syafaat pada hari kiamat nanti” untuk membela dan menyelamatkanmu. (Kitab Ma‘alim al-Tanzil, Vol. 4, h. 268).
Sahabat! Hidup ini adalah pilihan (ikhtiar, bhs Arab); kita penentunya, dan kita juga sosok yang harus mempertanggungjawabkan semua. Kalau kesetiaan sejati yang akan menjadi “juru selamat” (saat kita tidak mampu menyelamatkan diri, saat mulut terkunci mati, saat tangan dan kaki jujur dan bebas bersaksi), kalian dapat jumpai dalam persahabatan dalam bingkai iman dan islam, dari mereka yang kita dapati di majelis agama seperti paguyuban dzikir, taklim, tausiyah, dan empati dalam bingkai iman, *“masihkah kita berharap sesuatu dari persahabatan dengan para pendosa?”*
Ya Tuhan kami, tunjukkan kepada kami jalan keselamatan, jalan yang menuntun dan mengantar kami ke pangkuan ridlo-Mu, dan hadirkanlah sahabat-sahabat sejati kami dalam iman-islam yang akan memberi syafaat pada kami dalam keadaan kami tidak mampu menyelamatkan diri!
Ya Allah, jika kami masih berlumuran dosa, jangan Engkau hukum kami, karena kami adalah hamba-hamba-Mu yang tidak pernah putus untuk terus berharap ampunan-Mu. Engkau maha perkasa dan bijaksana (QS. Al-Maidah :118). [RAN]
