Kopi Beneran Versus Kopi Darat

Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

PAGI ini, saya mendapat kiriman video tentang manfaat minum kopi. Narasi narasumber dikemas dengan ilustrasi kepulan uap membayang dari secangkir kopi panas yang menggoda untuk seruput. Isi narasinya mencerahkan, dan ilustrasinya bikin nafsu mau mencicipi kopi sejati.

Jujur, saya memang tidak penyuka kopi. Belum tentu setahun sekali, saya minum kopi. Ini adalah konstruksi sosial kisah masa kecilku di kampung udik yang tidak akrab dengan tradisi kopi. Tetapi, kisah kopi tetap penuh inspirasi untuk kita renungi.

Sahabat!

Walaupun saya bukan penikmat kopi, video tentang kopi tetap kusimak dengan cermat. Saya memang menganut aliran kepercayaan bahwa “pasti selalu ada pelajaran, hikmah bijak, dari setiap peristiwa”, termasuk kisah dan peristiwa sedih. Ia mengajarkan empati dan strategi religius, psikologis, juga sosial, untuk kita tidak terjebak lagi dalam kesedihan-keburukan yang sama. 

Dengan teliti, dan perasaan ingin paham, kusimak kisah dan pesan indah tentang kopi. Saya mencoba menghadirkan nalar di luar (out of) dan di atas (beyond) bingkai filosofis tradisional kopi. Saya berharap mendapat inspirasi out of the box dari makna kopi (coffee) yang sejati. 

Ya ya ya. Inilah celotehku yang mengepul dari uap artifisial dan visual yang meninggi dari seduhan secangkir kopi panas dalam video itu. Di sini, saya tersadarkan oleh ide Kopi Darat, yaitu media pertemuan di dunia nyata. Ya, ini tentang dunia kenangan, kisah indah masa lalu dan dunia silaturahim.

Sahabat!

Media sosial (seperti WA, IG, FB, Youtube, Twitter, Tik-tok, Line, Tumbir, Pinterest, Telegram, Reddit, Snapchat, dan Linkedln) melayani banyak kebutuhan bersama kita. Kita terhubung mudah dengan kisah masa lalu di dan melalui media sosial. Tetapi, ia juga telah memenjarakan dunia sosial kita menjadi serba semu. Dalam senyum yang hadir melalui media sosial, ternyata masih tersisa ketidak-tahuan kita tentang wujud wajah keriput yang hakiki dari orang-orang yang dulu telah membuat kita tersenyum dan bahagia di waktu kecil. 

Dalam jebakan media sosial, tidak ada lagi sentuhan fisikal yang membuat salam dalam wujud ekspresi jabat tangan, rangkulan dan pelukan yang membuat batin kita merasa lebih hangat dan akrab. Di sinilah kisah Kopi Darat dapat meretas kebisuan dan menerobos batas kuasa media sosial.

Dari video yang kutonton tersebut, kopi sejati sungguh memanjakan nafsu dengan aromanya. Lalu, bagaimana dengan Kopi Darat? Walaupun “uap” Kopi Darat tidak ngepul dan tidak eksentrik, tetapi wangi dan kehangatan perekat sosialnya luar biasa. Kopi Darat menuntun kita turun ke dunia nyata; melantai bersama dunia sentuhan fisikal, dunia pembauran, dan ranah cubitan yang mengingatkan bahwa kita masih hidup, dan tidak sendiri terpenjara dalam sekat artifisial. Kopi Darat juga mengingatkan bahwa kita membutuhkan teman untuk berbagi banyak kisah, guna melepas rindu, membuang beban psikologis yang menggelayut di qalbu, juga untuk melupakan sesaat kepenatan kerja. 

Kopi Darat adalah dermaga kebersamaan untuk kita bersandar sesaat dari lelah petualangan entah-berantah di “dunia maya”. Wow, dunia maya, ranah semu, telah sukses memanjakan, dan memenjarakan kita dalam kesendirian, walaupun sejatinya, kita sudah dan masih tersambung dengan kawan dan masa lalu di ingatan seberang. Dalam kesendirian di dunia maya, kita terbiasa senyum dan sedih sendiri. Ini adalah wujud artikulasi kegembiraan dan kesedihan yang sering kita tidak tahu secara persis lokus ranah batinnya di petualangan hati yang menginginkan semuanya menjadi nyata.

Sahabat!

Dalam Kopi Darat terbangun interaksi (silaturahim). Beyond kopi asli, dan kemudahan media sosial, saya merenungkan makna Kopi Darat. 

(1)   Kopi Darat mengurangi kerutan, sirosis, penyempitan dunia sosial. Spektrum dunia sosial kita meluas dengan silaturahim. Ia membuat dunia menjadi semakin mekar, meluas dalam kesadaran hati yang tidak kesepian.

(2)   Kopi Darat mengurangi demensia sosial. Ia mengingatkan, dan menghubungkan kita pada kisah-kisah, kenangan indah masa lalu yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Karenanya, kita tidak mudah pikun terhadap orang-orang yang begitu bermakna dalam perjalanan karir profesional kita, dulu dan sekarang.

Akhirnya:

(3)   Kopi Darat juga sungguh akan mengakrabkan kita dalam dunia relasional, dunia berjamaah (kebersamaan) yang pada saatnya membuat hidup menjadi sangat indah dalam warna-warni tawa canda ria masa lalu, dan optimisme masa depan. 

Yuk kita perbanyak Kopi Darat, agar silaturahim kita menjadi tersambung. Petuah bijak dari Rasulullah mengatakan bahwa “Siapa yang menginginkan jejak kebaikannya terus tersambung untuk fungsi kebaikan psikologis, sosial dan materialnya, maka hendaklah dia selalu mewujudkan dan merawat Kopi Darat, silaturahim di dunia nyata (HR. Bukhari). (RAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *