Ngopi Bareng; Romantisme Abadi

Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

REFLEKSIKU kemarin, Rabu, “Kopi Beneren vs Kopi Darat-Silaturahim” mendapat response inspiratif. Banyak kawan dan kenalan lama mengajakku “Ngopi Darat” sambil menyeruput seduhan kopi panas.

Suhbanallah! Itu ajakan yang sulit saya abaikan. Ngopi bareng akan menghadirkan obrolan tanpa judul dan tema. Tetapi ia, dijamin, akan menerbangkan kita mengembara dan menerawang horizon sosial yang tidak berbatas; membuana seperti gerak monitor drone yang lincah memotret jagat raya.

Harus kita sadara bahwa ngopi bareng, saatnya nanti, pasti berakhir. Namun, perpisahan di ujung canda rianya akan mengikat kita dalam ingatan bersama bahwa kita tidak sendiri mengarungi badai, dan pasang-surut kehidupan. Faktanya, ada sahabat, kawan yang terikat batin dengan kita dan siap menjadi jembatan penghubung dan solusi duka kita. Mereka adalah kita dalam wujud lain yang akan merawat batin empati untuk mengisi ruang bersama di qalbu kita.

Sahabat!

Ngopi bareng sahabat, kawan lama, pasti membawa kita ke ingatan masa lalu, asyik, dan pasti indah. Psikologi ngopi ini tentu tidak akan melupakan filosofi asasinya bahwa “pertemuan reuni hanya akan membawa kita ke kisah manis masa lalu”. Isinya tentang kisah indah di sekolah, kisah keusilan remaja yang rindu kehangatan; kisah petualangan anak muda yang mencari jati diri. Isinya pasti menyenangkan, dan tentu juga indah untuk dikenang.

Pra menulis refleksi ini, jauh sebelum janjiku ngopi bareng terlaksana, imajinasiku sudah lebih dahulu membawaku ke ingatan masa lalu, ke bilik-bilik kenangan indah. Ia adalah noktah di mana kita mulai beranjak meniti awal kisah masa kini. Kisah indah itu adalah titik asal-usul, di saat persahabatan belum didistorsi oleh kepentigan personal-komunal. Juga, semua itu terbentuk saat persahabatan tulus belum direduksi dan tercemar oleh siasat licik memburu hajat pragmatis.

Tanpa kusadari, aku tiba di oase pemuas dahaga kerinduanku pada masa lalu. Aku tersadarkan untuk mengilas balik rekam jejak lama yang menjadi bahan baku keadaanku saat ini.

Sahabat!

Kondisi kekinian-kedisinian adalah rangkaian kisah masa lalu. Doktrin narasi besar (grand narratives) sejarah menegaskan “kita adalah produk masa lalu”. Keadaan kita sekarang bermula dari kisah masa lalu. Ia tidak terpisahkan dari titik beranjak dan jembatan kecil yang sempit, saat kita merintis kisah awal masa sekarang.

Dalam kisah masa lalu, banyak orang dan keadaan yang berjasa membentuk dunia kita. Mereka adalah pahlawan hidup kita. Tidak etis jika mereka dihapus dari daftar memori sejarah. Kisah manis kita bermula dari sentuhan moral, sosial, dan psikologi orang-orang ini.

Pertama adalah orangtua. Mereka adalah peletak awal kesadaran moral hidup. Kasih-sayang mereka tidak terhenti oleh kendala masa, dan tidak tersekat oleh ruang di batas jarak kejauhan. Kasih-sayang mereka tidak berkurang sedikitpun oleh hambatan yang menyusahkan mereka.  Semuanya ada, karena cinta-kasih mereka tidak terhingga, abadi sepanjang masa. Mereka tidak pernah meminta kembali apa-apa yang pernah mereka berikan dan lakukan untuk kita. 

Kedua adalah kisah kehangatan sanak saudara. Dulu, dengan kesederhanaan, susah dan sering serba terbatas, juga kurang, semua tetap indah dalam kenangan bersama. Dulu, kita sering hanya miliki sedikit materi, dan terkadang sedih-kecewa saat berebut jatah makanan. 

Namun kesulitan dan kekurangan indah kita jalani bersama. Dalam keterbatasan kuasa yang dipunya, kita dapat mencicipi kenikmatan dalam berkah kebersamaan, saat kita “kaya” dengan qalbu berbagi yang tidak memuja, dan memanjakan ego pribadi. Batin kebersamaan selalu membisikan pesan empati dan rangkulan kasih bahwa “kamu dan aku adalah kita, yang disatukan oleh kepedulian bersama. Kesedihanmu adalah dukaku”.

Ketiga adalah kisah keriangan dunia anak sebaya di kampung asal-usul. “Ia adalah kisah anak-anak tanpa kebencian dan dendam”. Kisah mereka adalah tentang pengalaman bersama dalam perbedaan bahkan perseteruan. Ia merekam jejak keriangan hati dan kehangatan sosial bahwa “kemarin ribut, bahkan sampai berkelahi, tetapi, sehari setelahnya, kita sudah kembali akur, dan lebur di keceriaan bersama dalam permainan yang menyenangkan”. Semuanya berbeda dari siasat gesekan di dunia politik yang hanya mengerti kemenangan.

Terakhir adalah konteks sosial petualangan awal saat kita meniti karir. Titik ini menghadirkan jasa banyak kawan sebaya. Saat sekolah-kuliah, kawan sekelas telah meringankan beban tugas akademik. Tetangga ikut memberi warna lain dari kemudahan perjalanan karir kita. Sapaan ramah mereka membuat kita merasa dihargai sebagai manusia. Supir angkot setia mengantar kita ke sekolah-kampus. Mereka semua berjasa mengantarkan kita ke dunia kekinian yang indah. Jasa mereka terlalu naif untuk dilupakan.

Sahabat!

Jangan hapus kisah indah masa lalu dari memori personal di kehidupan saat ini. Orang dan bangsa yang hebat tidak akan pernah melupakan jejak sejarahnya. Cobalah kita lebih sering mengingat kisah indah masa lalu agar warna-warni kehidupan kita tidak dibatasi oleh euphoria dan kesedihan masa kini. 

Kisah masa lalu adalah aset sejarah, dan entitas psikologis yang menjadi wadah paling awal dari kebahagiaan masa kini. Romantisisme masa lalu akan terus menghadirkan sejuta kenangan yang akan dan terus membuat hidup kita begitu indah dan menyenangkan.

Betul. Masa lalu yang indah sungguh menyenangkan untuk dikenang. Tetapi, pasti ada sisi kelam yang menyedihkan dari kisah masa lalu. Biarlah sisi sedih itu diabaikan dengan asa kita tetap berusaha untuk mengambil pesan hikmah darinya. 

Di atas itu semua, semoga kita tidak terjebak dalam penjara narasi besar “determinisme historis Marxian” yang menghakimi dan menghukum masa kini terbentuk tunggal oleh takdir di masa lalu. Menurutku, masa kini adalah rangkumuan pengalaman dan kisah indah masa lalu yang kita pilih untuk merangkai kegembiraan dan kebahagiaan sekarang. Tidak etis kita menghujat masa lalu, sebagai takdir buruk, dan kambing hitam untuk kisah sedih masa kini.

Sahabat!

Coba ingatlah petuah orang yang pernah terkaya di dunia, Bill Gates. “Jika anda terlahir miskin (susah, sedih di asal-usul), itu bukan kesalahan anda. Tetapi, jika anda mati dalam keadaan miskin (terpuruk dalam sedih dan kecewa), itu kesalahan anda” karena anda gagal memilih kisah-kisah masa lalu untuk merangkai episode indah masa kini.

Hidup ini ada rumusnya. Kita tidak bisa memilih asal-usul. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di tempat yang baik dengan keluarga yang harmonis, berlimpah kekayaan, atau di keluarga dengan tradisi pendidikan tinggi. Namun, kita dapat milih bagian kisah indah masa lalu untuk merangkai kegembiraan dan kebahagiaan kekinian dan kedisinian. 

Ngopi bareng di akhir pekan akan mengingatkan kita pada filosofis optimisme masa depan, yaitu kisah tentang indah masa lalu untuk dihadirkan dalam kebahagiaan masa kita. Ingat! Kehadiran kawan lama mengingatkan ulang bahwa kita tidak sendiri. Banyak orang baik untuk kita berbagi kisah lama dan sekarang, guna meneruskan petualangan menuju, dan menaiki setiap tangga kebahagiaan dan kemuliaan, untuk sampai ke titik husnul khatimah.

Ya Allah, Engkaulah simpul abadi yang kutuju. Ridlo dan berkah-Mu menjadi target di ujung obralanku pada sesi ngopi bareng. Dalam penutup doaku di hari Jumat ini, Engkau pasti malu membiarkan kisah indah masa laluku terhenti di titik kehidupanku masa kini, karena, Engkau adalah Zat yang tidak akan pernah mengingkari janji.

Sahabat! Teruslah berdoa untuk kita tidak kehilangan optimisme meneruskan kisah lama yang begitu indah. (RAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *