Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
“Kebahagiaan dan ketenangan batin adalah buah dari pergumulan dan pengelolaan qalbu”
SATU percobaan sosial telah dilakukan. Hasilnya menarik untuk disimak. Ada pelajaran penting untuk renungan hikmah dan kebaikan.
Dalam suasana yang tidak nyaman (kacau, bising, gduh, anarkis, berbau dan …), terlihat ekspresi wajah-wajah yang berbeda. Ada rawut wajah yang sedih, stres, teriak, histeris, tenggelam dalam duka. Ada juga wajah dengan ekspresi yang datar, seolah-olah tanpa ada beban traumatik peristiwa. Uniknya, dalam keadaan yang serba terbatas, dan bagi banyak orang justru menjengkelkan, ternyata masih ada wajah-wajah yang penuh keceriaan walaupun dengan tekanan keadaan. Pertanyaan yang menarik untuk dicermati adalah apa faktor pembeda variasi ekspresi wajah-wajah ini?
Sahabat! Suatu saat seorang guru SD memberi tugas PR sebagai percobaan sosial pada siswa kelas 4 yang berusia 9-10 tahun. Pemilihan kelompok usia siswa cukup beralasan. Di usia ini, kejiwaan anak sudah mulai menginternalisasi dan mengendapkan perasaan suka, dan benci. Perasaan ini akan menjadi bingkai model anak memperlakukan orang lain. Perasaan benci, minimal tidak suka pada sosok tertentu, menyebabkan dia menjauhi bahkan membenci orang lain. Begitu sebaliknya.
Tugas PR yang diberikan memang tidak lazim; agak unik, tetapi sederhana. Setiap siswa diminta mengidentifikasi dan mendata jumlah orang yang dia tidak sukai dalam hidupnya. Hasil rekapitulasinya menarik. Ternyata, jumlah orang yang tidak disukai berbeda dari satu siswa, ke siswa lainnya. Data jumlah orang yang tidak disukai dilaporkan dan dicatat oleh guru. Walaupun ada banyak orang yang tidak disukai, siswa dengan antusias, dan berwajah ceria mencatat dan melaporkan jumlah tersebut.
Pada hari berikutnya, sang guru meminta setiap siswa membawa tomat segar sesuai jumlah orang yang tidak disukai. Tomat-tomat tersebut diminta disimpan dalam sebuah wadah tertutup. Setiap wadah tersebut dilabeli nama siswa yang memiliki. Wadah yang berisi tomat tersebut disimpan di sekolah beberapa hari, sampai tomat membusuk, dan mengeluarkan aroma tidak sedap, menyengat.
Pada hari tomat-tomat tersebut sudah membusuk, para siswa diminta mengambil wadah tomat masing-masing, dan meletakkannya di meja sendiri. Setiap siswa diminta membuka wadah yang berisi tomat yang telah membusuk dan tentu mengeluarkan aroma tidak sedap.
Semua siswa diminta untuk mencium bau tomat yang membusuk. Baunya tentu sangat menjengkelkan. Ada ekspresi marah, stres yang terlihat di wajah beberapa orang siswa. Siswa dengan jumlah tomat PR yang banyak, pasti lebih tersiksa, menampakkan gestur murka. Bau tumpukan tomat busuk membuatnya mual, tersiksa, bahkan pusing, emosional, sampai pikirannya terganggu.
Ada siswa yang tertawa, dan tersenyum melihat ekspresi wajah kawan-kawannya yang stres, tersiksa akibat bau busuk tomat. Ternyata, dalam wadahnya tidak ada tomat PR-nya. Ini tandanya bahwa dia tidak mengidentifikasi satu orangpun sosok yang dia tidak sukai.
Sahabat! Tugas PR di atas adalah media ilustratif guru untuk mengajarkan makna dari qalbu yang penuh kebencian. Sang guru berujar pada siswa-siswanya: “Jika jumlah tomat yang kalian bawa adalah sebanyak jumlah orang yang kalian benci, maka kalian begitu tersiksa dengan kehadiran mereka dalam episode panjang kehidupan kalian”. Artinya, “semakin banyak orang yang dibenci, dan dipendam di qalbu, kalian semakin terbebani dan dibuat gelisah, tersiksa”.
Sahabat! Qalbu kita adalah jendela kebahagiaan diri, dan bingkai keceriaan sosial, atau sebaliknya. Kita adalah penentu siapa dan berapa jumlah orang yang kita benci atau sukai. Pada saatnya, orang yang dibenci dan disenangi akan menjadi sumber kegembiraan atau kesedihan kita. Suasana qalbu (kejiwaan) kita menjadi bingkai dasarnya, dan kita sendiri yang akan menghadirkan nuansa kegembiraan dan kesedihan itu. Ilustrasi eksperimental ini mengingatkan kita akan pitutur indah bahwa “Seribu teman terasa tidak cukup, karena semua menyenangkan; tetapi satu orang musuh, orang yang kita benci, dia akan menjadi duri dalam daging, petaka di ranah sosial, dan kehidupan personal kita”.
Opsi memilih siapa dan jumlah orang yang kita sukai dan benci adalah pilihan bebas kita. Kita bebas mempersepsikan citra positif dan negatif setiap orang di qalbu. “Qalbun saliim” (qalbu dengan segala kualitas kebaikan, seperti tulus, tenang, penuh cinta, empati) (QS. Al-Syu‘ara : 89) adalah hati yang sehat, terbebas dari penyakit kejiwaan. Ia tentu menghadirkan sosok orang yang menyenangkan dan dirindukan. Hidupnya pasti indah dan menyenangkan.
Sebaliknya, “qalbun maridh” (QS. al-Baqarah : 10)) adalah hati yang menderita berbagai penyakit kejiwaan (seperti munafik, benci, dengki, dendam, culas, marah). Ciri utama dari qalbun maridh adalah tidak pernah tenteram, galau, waswas, cemas, sedih, dan pastinya, tidak menikmati hidup.
Sahabat! Dengan ilustrasi tomat-tomat yang membusuk, kita diajarkan tentang manajemen qalbu. Cinta, kasih-sayang, empati, dendam, kebencian adalah rasa yang kita hadirkan di qalbu. Ingatlah, qalbu yang dipenuhi dengan jumlah orang yang dibenci, ia menjadi sumber kegelisahan, dan akan menjadi petaka sepanjang hidup kita. Semakin banyak orang yang dibenci, minimal tidak disukai, maka kehadiran dan keberadaannya dalam hidup kita akan menjadi mata batin sumber keresahan dan kesedihan yang abadi di qalbu kita.
Bukalah keluasan dan kelembutan qalbumu untuk menerima setiap orang apa adanya. Hasilnya, qalbumu akan menghadirkan banyak kawan dalam keceriaan, dan hidup menjadi indah dan menyenangkan. Cobalah maafkan orang-orang di sekitarmu yang pernah menyakiti, engkau sejatinya telah menebar bibit persahabatan yang lebih tulus dan abadi. Carilah kebaikan dan kelebihan setiap orang, kamu akan menemukan banyak alasan untuk menghargai, menerima, bahkan menyayangi mereka.
Perbanyaklah mengenal dan mengingat kebaikan orang lain, kalian tidak akan merasa rugi dan tidak menyesal bersahabat dengan mereka. Lupakanlah perilaku buruknya yang mungkin pernah menyakitkan perasaanmu, kalian akan menemukan banyak kawan yang kalian ajarkan makna persahabatan walaupun dalam perbedaan yang tidak selamanya menyenangkan.
Mari kita bayangkan dan kita tatap masa depan bersama orang-orang yang menyenangkan, maka, mereka akan hadir mengelilingmu dengan senyum, empati, dan ceria. Pasti ada keindahan dalam keseharian kita. “Tidak ada ganti kebaikan, selain kebaikan itu sendiri”.
Sahabat! Senyum di wajahmu menjadi pemikat qalbu saliim yang menghadirkan rasa bahagia. Ruang batin maaf di qalbumu membuat kebencian menghilang dengan sendirinya. Empatimu pada mereka yang telah menanamkan kebaikan akan membuahkan turunan kebaikan, Memang, tidak selamanya kita menikmati langsung buah kebaikan yang kita tanam. Tetapi, ia menjadi modal etis, moral dan sosial, serta kekuatan bersama dalam keceriaan dan kebahagiaan. Mungkin, besok atau kapan, kebaikan itu akan berbuah kebaikan.
Sahabat! Kalau kita belum mampu memulai dengan sesuatu yang dahsyat, marilah kita memulainya dalam batas kuasamu yang maksimal untuk menebar dan merawat kebaikan. Yakinlah bahwa kebaikan pasti akan berbuah kebaikan. Satu kebaikan yang kita semai, ia akan menghasilkan buah kebaikan yang berlipat. Bukankah “balasan kebaikan adalah kebaikan itu sendiri” (QS. al-Rahman : 60), dan ia akan kembali kepada siapa yang menanamnya” (QS: al-Isra : 7)
Siapa menanam kebaikan, dia akan memanennya, dan dia telah mewariskannya pada generasi berikutnya. Mari mulailah hari ini kita untuk menyemai dan merawat kebaikan. Siapa tahu tidak ada lagi kesempatan untuk kita melakukannya di kemudian hari.
Kalau hari esok tidak ada, maka hari ini adalah momentum terakhir kita berbuat kebaikan. Bravo kebaikan! (RAN)
