Connect with us

Sosok

Sekelumit Cerita Ketertarikan Bung Karno dengan Muhammadiyah

Sejak menimba ilmu dan mengajar di rumah Hos Cokroaminoto, ada ketertarikan dengan pemikiran-pemikiran Kyai Dahlan yang menghadirkan kemajuan.

[YOGYAKARTA, MASJIDUNA] — Nama Soekarno sebagai orang nomor satu di Indonesia pada eranya menjadi sorotan bagi banyak kalangan. Tak saja menjadi sorotan penjajah kompeni, namun juga seantero dunia. Dalam kesehariannya, Soekarno memiliki kedekatan mendalam dengan organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan, Muhammadiyah.

Ormas keagamaan besutan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu memiliki daya tarik tersendiri bagi seorang Soekarno. Orator  ulung itu pun tercatat menjadi kader Muhammadiyah sejak era perang kemerdekaan. Bahkan turut serta menjadi pengajar pada lembaga pendidikan Muhammadiyah.

“Sejak menimba ilmu dan mengajar di rumah Hos Cokroaminoto, Bung Karno tertarik pada pikiran-pikiran Kyai Dahlan yang menghadirkan kemajuan. Setelah itu, Bung Karno resmi menjadi anggota Muhammadiyah,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Ahad (16/05) sebagaimana dikutip dari laman Muhammadiyah.

Sekamir 1938, Bung Besar itu diasingkan ke Bengkulu oleh kolonial belanda. Haedar menuturkan, pria yang dikenal dengan julukan Putra Sang Fajar itu resmi menjadi anggota dan pengurus pendidikan Muhammadiyah. Selepas pengasingan di Bengkulu, Bung Besar  menjadi presiden. Meski begitu, Bung Karno tetap merawat identitas kemuhammadiyahannya.

Haedar mengisahkan, di Ende, Bung Karno memperkenalkan pemikiran-pemikiran Islam yang progresif dan mengutarakan alasannya bergabung Muhammadiyah. Bagi Bung Karno, pemikiran dan gagasan Muhammadiyah sejalan dengan alam pikirin dirinya. Yakni menghadirkan Islam yang progresif.

“Bung Karno mengatakan kenapa saya masuk menjadi anggota Muhammadiyah karena Muhammadiyah bagi dia sesuai dengan alam pikirannya, yakni menghadirkan Islam yang progresif, dan Kyai Dahlan menghadirkan regeneration dan redifination atau peremajaan dan pemudaan pemikiran Islam dan gerakan Islam,” ujar Haedar.

Boleh dibilang, Bung Karno dengan Muhammadiyah dipertemukan dengan visi keislaman yang sama. Yaitu Islam berkemajuan. Pada tahun 1962 ketika Muktamar Muhammadiyah untuk usianya yang ke-50 tahun, Bung Karno meminta namanya tetap dicatat sebagai kader Muhammadiyah. Serta ketika meninggal dikafani bendera Muhammadiyah.

[AHR/Muhammadiyah/Foto:RmolBanten.com]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok