Connect with us

Ormas

Rakernas MA Usulkan KH Mas Abdurrahman Pahlawan Nasional

[MENES, MASJIDUNA]—Rakernas Mathlaul Anwar (MA) di Menes, Banten, yang berlangsung pada 30 Agustus-1 September sudah usai. Salah satu hasil dari rakernas tersebut adalah mengusulkan agar pendiri MA, KH Mas Abdurrahman dinobatkan sebagai pahlawan nasional. KH Mas Abdurrahman dinilai pantas menyandang gelar tersebut, selain sebagai ulama kharismatik yang mendorong pendidikan juga sebagai pejuang yang ikut mengusir penjajah.

Tentang tahun kelahiran ulama asal Pangdeglang ini, memang tidak ada yang pasti. Ada yang menyebut dia lahir pada 1882 di Kampung Janaka, Kacamatan Jiput, Pandeglang dan wafat pada 1943. Ada sumber lain menuliskan tahun 1875 dan wafat pada 16 Agustus 1943.

Dalam situs mathlaulanwar or.id, sejarah sang pendiri ini memang terbilang tidak lengkap. Misalnya sejarah pendidikan atau tempat dia mondok yang minim catatan, kecuali pernah belajar ke Mekah selama 10 tahun.

Meski demikian, KH Mas Abdurrahman yang berasal dari keluarga bangsawan Banten ini, telah menuliskan sejumlah karya, seperti “Aljawaiz fi Ahkam al-Janaiz”, kitab paling serius yang disusun oleh KH Abdurrahman. Bahkan, karya ini bisa disebut sebagai magnum opus-nya, baik dari tingkat ketebalan buku yang mencapai 76 halaman maupun dari kelengkapan persoalan yang dibahasnya. Kitab ini ditulis dalam huruf jawi berbahasa Sunda. Masing-masing halaman berisi 17 baris, kecuali halaman awal yang berisi 15 baris.

Kemudian kitab “Mandzumat fi Bayani Asbab al-Hifdzi wa al-Ghina”. Naskah ini merupakan hal yang unik dan satu-satunya yang ditulis dalam bentuk nadzam dan disiapkan untuk segmen pembaca dalam tiga bahasa sekaligus: Arab, Indonesia, dan Sunda sekaligus yang disusun secara bergantian.

Nadzam atau syair dalam ketiga bahasa yang dipakainya memiliki tingkat kualitas yang sama baiknya. Menarik bahwa naskah ini ditulis tidak sekedar untuk bimbingan keilmuan dan keagamaan, tetapi juga disusun sebagai media bagi pembangunan sebuah masjid. Dalam cover buku ini tertulis: “Inilah pemberian tahu, siapa yang beli ini Mandzumat akan didermakan separuh raganya untuk pendirian Masjid Kampung Soreang Menes…” Sesuai judulnya, nadzam ini berisi tentang kiat untuk menjadi pintar dan mudah menghafal serta doa dan usaha agar seseorang berhasil meraih kekayaan. Berukuran 17×12 cm, buku ini selesai ditulis pada 12 Jumadil Ula 1353 Hijriyah, atau sekitar 10 tahun sebelum wafatnya, dan diterbitkan oleh Toko Kitab Harun bin Ali Ibrahim, Pekojan, Betawi (Jakarta).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Ormas