Connect with us

Hikmah

Nalar Berbalik ke Belakang: Narasi Penumbalan

Oleh: Noryamin Aini (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)

“Pilihan itu sulit; selalu ada risiko buruk di kemudian hari. Tetapi dalam hidup ini, kita harus memilih (berikhtiar, bahasa arab)”.

Tragedi hilang, tenggelamnya Emmeril Khan Mumtadz (Eril), di Sungai Aare, Bern, Swiss, terus memicu nalar spekulatif, terkadang mistis, dan kebablasan. Dalam sebuah video hasil editan podcast, tragedi hilangnya Eril dikaitkan dengan potongan akhir ucapan Ridwan Kamil, ayah Eril, dalam obrolan santai dengan Denny Sumargo, 9 September 2019. https://www.youtube.com/watch?v=MWrlU_RKr1A

Dalam obrolan itu, Denny memancing pilihan “tunggal” Ridwan Kamil dalam satu keadaan sulit, namun tetap hipotetikal. Denny bertanya “Pilih anak atau istri di masa tua?”. Ridwan Kamil lantas dengan mantap menjawab bahwa dia akan memilih istri.

Apapun pilihan Ridwan Kamil terhadap kondisi hipotetikal yang sulit ini, opsi tersebut sangat sulit, seperti opsi buah simalakama (jika dimakan, ayah mati, dan jika dibuang, ibu mati; tetapi kalau dijual-diberikan, pelakunya mati). 

Opsi hipotetikal seperti ini mudah dipelintir di kemudian hari. Ridwan Kamil sejatinya telah memberi alasan terhadap pilihannya itu. Tetapi, nalar spekulatif dan skeptis, miring, pejoratif, terus mengaitkan narasi Ridwan Kamil dengan kasus tragedi anaknya. 

Sahabat!

Ada beragam judul dan isi yang disematkan pada narasi opsional Ridwan Kamil di atas. Satu judul viral yang tidak etis, menurutku, adalah “Ucapanmu adalah doa”. Kesimpulan dari video hasil editan tersebut bahwa “Tragedi Eril adalah jawaban Tuhan terhadap doa Ridwan Kamil”. Bullying keterlaluan; tendensius. Kemana arahnya? Silahkan ditebak!

Kesimpulan yang tendensius, misleading, dan pejoratif ini menarik untuk dicermati dalam bingkai “Nalar Berbalik ke Belakang”. Nalar ini, secara spekulatif, menghubungkan peristiwa “mutaakhir” dengan kasus “lawas”, tanpa meletakkannya pada bingkai relasi kausalistik yang valid-reliabel.

Sebaliknya, kalau Ridwan Kamil memilih anak, lalu di kemudian hari, istrinya mengalami musibah tragis, orang yang suka nyinyir pasti akan mengatakan “hal itu adalah “Jawaban Allah terhadap ucapan Ridwan Kamil. Inilah titik nadir absurditas penalaran berbalik ke belakang.

Apa hubungan kasus hilangnya Eril di sungai Aare dengan ucapan Ridwan Kamil di atas? atau sebaliknya, “apa kaitan (seandinya) nasib buruk istrinya, jika Ridwan Kamil memilih anak?” Tidak jelas, absurd, dan tidak teruji. Ia sebatas nalar spekulatif. Ini model nalar usil; nalar orang nyinyir.

Dalam diskursus hukum dikenal istilah “norma, aturan tidak berlaku surut; hukum tidak berlaku mundur”. Nasib Eril adalah eksekusi (qadha) takdir (ketentuan normatif-primordial) Allah untuknya. Dalam kerangka ini, tragedi (empiris) Eril tidak etis dikaitkan dengan narasi ayahnya. Antara keduanya terpisah secara eksklusif (tanāqud dalam istilah ilmu mantiq). Hanya nalar skeptis yang usil menghubungkannya.

Sahabat!

“Nalar berbalik ke belakang adalah narasi orang yang suka mencari peristiwa lama, juga orang lain, untuk “ditumbalkan” (dikambing-hitamkan), seperti narasi dan artikulasi yang menyeret-nyeret ucapan Ridwan Kamil ke tragedi Eril. Ini adalah narasi “talbis iblis”, yang menjurus ke arah sikap menghakimi buruk pengalaman seseorang.

Menurutku, hilir-muara pusaran dari “nalar berbalik ke belakang” akan menuntun seseorang untuk mengatakan “seandainya tidak begini dan tidak begitu, maka hasilnya tidak akan buruh seperti itu”. Postulasi ini adalah ekspresi kelatahan jiwa, talbis iblis, yang suka memelintir misteri tragedi. 

Dalam makna di atas, ada hal yang perlu direnungkan. Kenapa Nabi dalam sebuah hadits sahīh, dari Abu Hurairah ra, mengingatkan kita tentang “nalar seandainya; nalar berbalik ke belakang?”

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Artinya

“Teruslah optimis! Kalian harus bersungguh-sungguh dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu; dan bermohonlah pertolongan kepada Allah. Janganlah sekali-kali kalian bersikap lemah (bersikap pesimis). Jika kalian tertimpa suatu musibah (terutama bencana-tragedi), maka janganlah pernah kalian mengatakan, “seandainya aku berbuat begini-begitu, pastilah tidak terjadi tragedi-musibah seperti ini”.

Katakanlah bahwa “Semua ini telah ditakdirkan oleh Allah, dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang Dia kehendaki”. (Ingat!) “Sesungguhnya perkataan seandainya (nalar berbalik ke belakang) akan membuka (pintu talbis) intrik perbuatan setan”. (HR. Muslim No. 2664).

Sahabat!

Ambillah pelajaran-hikmah dari setiap pengalaman, dan hindarilah nalar talbis iblis dan spekulatif yang kebablasan menghakimi nasib buruk dengan kisah masa lalu. Allah pasti memiliki rahasia kebaikan dari setiap musibah, pengalaman buruk.

“Tidak selalu apa-apa yang kita inginkan adalah baik. Sebaliknya, tidak selamanya, hal-hal yang kita benci adalah buruk untuk kita”. Allah lebih mengerti segala yang baik dan buruk untuk kita. Berserah dirilah kepada Allah untuk memilihkan hal yang terbaik untuk kita.

[RAN/Internet]

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Hikmah