Connect with us

Hikmah

Mengapa Keledai Jinak Haram, Keledai Liar Halal? Begini Penjelasan Ulama

Oleh: H Asep Awaludin (Pengajar Pendidikan Agama Islam dan Ulumul Hadits di Wonogiri, Jawa Tengah)

[JAKARTA, MASJIDUNA]- Islam mengatur makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Salah satunya keledai yang diatur ketentuannya.

Rosululloh Saw Pemimpin yang Memperbolehkan Mengkonsumsi Keledai Liar (Keledai Hutan).

َوَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ رضي الله عنه ( -فِي قِصَّةِ اَلْحِمَارِ اَلْوَحْشِيِّ- فَأَكَلَ مِنْهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ); مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu anhu tentang kisah keledai hutan-: Lalu Nabi Shallallaahualaihi wa Sallam memakan sebagian darinya. Muttafaq Alaihi.

Dari penjelasan tersebut, maka keledai rumahan atau Keledai Jinak haram dimakan.
Mengapa haram dimakan? Benar, Ini disebabkan karena ada kebiasaan dari keledai rumahan yang menjijikkan, yaitu memakan kotoran binatang lain termasuk kotoran manusia.

Bagaimana dengan Keledai liar (Keledai hutan)? benar, pemahaman terbaliknya adalah apabila yang jinak dilarang, maka yang liar hidup di hutan adalah boleh. Ini berdasarkan riwayat hadits berikut:

Rosul SAW bersama para sahabat berangkat untuk menunaikan haji ke Makkah. Ketika mereka hendak berangkat, semua anggota rombongan itu telah mengenakan kain ihram kecuali Abu Qatadah.

Ketika mereka sedang berjalan, mereka melihat ada seeokor keledai liar. Maka Abu Qatadah menghampiri keledai itu lalu menyembelihnya yang sebagian dagingnya dibawa ke hadapan kami.

Baca Juga: Luqman Al Hakim, Lelaki Hitam Dalam Quran

Maka kami bawa sisa daging tersebut kepada Rasulullah Saw, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami sedang berihram sedangkan Abu Qatadah tidak. Lalu kami melihat ada keledai-keledai liar kemudian Abu Qatadah menangkapnya lalu menyembelihnya kemudian sebagian dagingnya dibawa kepada kami, lalu kami berhenti dan memakan dari daging tersebut.

Kemudian diantara kami ada yang berkata: “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan padahal kita sedang berihram?”. Lalu kami bawa sisa dagingnya itu kemari”. Beliau bertanya: “Apakah ada seseorang diantara kalian yang sedang berihram menyuruh Abu Qatadah untuk memburunya atau memberi isyarat kepadanya?”. Mereka menjawab: “Tidak ada”. Maka Beliau bersabda: “Makanlah sisa daging yang ada itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini sudah menjadi ijma’ Ulama (konsensus Ulama) bahwa mengonsumsi Daging keledai jinak diharamkan untuk dimakan dan daging keledai liar diperbolehkan, sebagaimana satu riwayat hadits waktu perang khoibar para sahabat menyembelih Kuda, bighal dan khimar (keledai).

Baca Juga:Kapan Bisa Pelihara Anjing? Mengapa Memakan Anjing Haram? Ini Jawabannya

Datanglah utusan Rasullah Saw memberitahukan bahwa daging keledai rumahan itu tidak boleh dimakan di karenakan najis. Daging Keledai najis karena keledai memakan kotoran manusia dan ini merupakan illat (cacat yang menjadi sebab) diharamkannya keledai.

Adanya najis yang terkandung pada daging keledai dan sesuatu yang najis itu haram untuk di makan.
Pesan Nabi Saw, “Apa saja yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma’fu)”.

Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun.” Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa. (Riwayat Hakim dan Bazzar).

Inilah indahnya aturan hukum Islam, membedakan halal dan haram dengan alasan yang tepat dan jelas, yaitu halalnya Keledai Liar (Keledai Hutan) karena makanannya adalah rumput dan daun-daunan, tidak memakan kotoran atau najis.

Semoga Alloh SWT senantiasa memberikan hidayah dan inayah-Nya kepada kita, keluarga kita, anak keturunan kita dan muslimin semuanya untuk dapat memahami mengapa keledai hutan dihalalkan dan Keledai rumahan diharamkan, aamiin ya robbal’aalamiin.

(IMF/foto:pixabay)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Hikmah