Connect with us

Khazanah

Hukum Meninggalkan Istri Paska Akad Nikah

Dibolehkan sepanjang memiliki tujuan yang benar. Seperti untuk mencari nafkah, hingga tuntutan pekerjaan.

[JAKARTA, MASJIDUNA] — Di antara perkara yang ditanyakan oleh sebagian masyarakat adalah mengenai hukum suami meninggalkan istrinya setelah melangsungkan akad nikah. Di masyarakat banyak ditemukan kasus seperti ini. Ada suami yang meninggalkan istrinya setelah akad karena hendak mencari nafkah, dan ada pula meninggalkan istrinya tanpa alasan dan kabar yang jelas. Sebenarnya, bagaimana hukum suami meninggalkan setelah akad?.

Meninggalkan istri setelah akad, jika hal itu dilakukan dengan tujuan yang benar dan untuk kepentingan tertentu, seperti untuk mencari nafkah, tuntutan pekerjaan, dan lainnya, maka hukumnya boleh. Tidak masalah bagi suami meninggalkan istrinya setelah akad jika ada kepentingan mendesak dan bukan untuk tujuan menyulitkan istrinya.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Buhuthi dalam kitab Kasyaf Al-Qana’ berikut:

Ketika suami melakukan safar atau perjalanan meninggalkan istrinya karena uzur atau ada hajat, maka hak gilir dan hubungan untuk istri menjadi gugur. Meskipun safarnya lama, karena uzur.
 
Namun jika meninggalkan istrinya tanpa tujuan dan alasan yang benar dan jelas, maka hukumnya adalah haram. Ini karena meninggalkan istri, apalagi setelah akad dan berstatus sebagai pengantin baru, akan membuat istrinya terluka dan menderita. Dalam Al-Quran, Allah menyuruh para suami untuk senantiasa membersamai istrinya dimana pun suami tinggal dan melarang para suami mempersulit istrinya dengan cara meninggalkan begitu saja tanpa ada tujuan dan alasan yang jelas dan benar.

Dalam surah Al-Talaq ayat 6, Allah berfirman sebagai berikut:

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.

Di dalam ayat yang lain, Allah juga melarang suami menganiaya istrinya dengan cara tidak ditalak namun ditinggalkan begitu saja. Berbuat zalim pada istri termasuk perkara yang di dalam Islam dan hukumnya adalah haram. Ini sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 231 berikut:
 
Janganlah kamu pertahankan mereka (para istri) untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.

Dengan demikian, meninggalkan istri setelah akad, jika dilakukan dengan tujuan dan alasan yang benar, maka hukumnya boleh. Sebaliknya, jika tidak ada tujuan dan alasan yang benar, maka hukumnya haram.

[Sumber:Bimasislam/ilustrasi:inilahkoran]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah