Connect with us

Khazanah

Enam Masjid Ini, Dapat Anda Jadikan Objek Wisata Religi

Setidaknya, menjadi cara dalam merefresh dan menambah kegitan positif.

Masjiduna.com, Jakarta – Bepergian ke tempat wisata bagi sebagian kalangan bertujuan menyegarkan pikiran. Namun, tempat wisata tak melulu bersifat hiburan. Boleh jadi, tempat wisata bersifat edukasi, ada pula yang bernuansa religi. Masjid, sebagai tempat ibadah bagi kalangan muslik, juga sebagai tempat wisata yang bernuansa edukatif dan religi.

Di banyak tempat wilayah Jakarta, masjid menjadi arena wisata religius, juga edukatif. Sebagai negara yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia, sudah barang tentu banyak masjid bertebaran di penjuru Nusantara. Arsitektur di kebanyakan masjid di  tanah nusantara memang menarik dibahas.

Kali ini, kabarmasjid bakal mengulas sejumlah masjid yang layak dijadikan wisata religi di Jakarta.

  1. Masjid Dian Al-Mahri

Masjid yang terletak di Jl. Meruyung, Limo Depok itu memiliki arsitektur bangunan bergaya Timur Tengah. Keindahan masjid yang dibangun sejak April 1999 silam ini diresmikan  31 Desember  2006.

Sejauh mata memandang, lima kubah masjid yang dilapisi emas 22 karat dianggap penanda rukun islam. Sedangkan enam menara yang menjulang tinggi penanda rukun iman. Demikian filosofi kubah dan menara di Masjid kubah ema situ.

Bangunan seluas 8000 meter itu berdiri di atas lahan 70 hektar. Luas, begitu kebanyakan orang bilang. Masjid yang didirikan oleh seorang pengusaha dermawan asal Banten bernama Hajjah Dian Juriah Maimun Al Rasyid, memiliki disain interior mewah.

Langit-langit masjid seolah awan yang bergelantungan sebagai atap masjid bila dilihat dari dalam. Tak hanya itu, bahan material interior masjid berasal dari beberapa negara. Tali lampu gantung misalnya, berasal dari negara Italia.

  1. Masjid Lao Tze

Bagi anda yang berdomisili dan melintas di bilangan Sawah Besar Jakarta Pusat, tak asing rasanya mendengar nama Masjid Lao Tze. Masjid yang kerap dijadikan tempat berkumpul komunitas Tionghoa yang mualaf.

Rupanya, penamaan Lautze mengadopsi dari nama jalan masjid berada. Yakni, Jalan Lautze No.87-89  Sawah Besar, Jakarta Pusat 10740. Masjid yang terletak di kawasan pecinan itu, kerap dijadikan kegiatan mualaf keturunan tionghoa.

Masyarakat yang ingin menjangkau itu masjid pun terbilang mudah. Sebab cukup dengan menumpang commuter line, kemudian turun di Stasiun Kereta Api Sawah Besar. Nah, 300 meter dari stasiun, anda sudah dapat menjangkau lokasi. Uniknya, masjid itu terletak di deretan rumah toko (ruko).

Dengan kata lain, masjid tersebut bagian dari ruko. Itu sebabnya nomor 87-89 menunjukan Masjid Lao Tze terdiri dari dua kavling ruko menjadi satu. Berbeda dengan kebanyakan masjid di nusantara,  Lao Tze  berdiri tanpa menara dan kubah.

  1. Masjid Ramlie Mushofa

Anda pasti sudah mengetahui Taj Mahal di negara India. Di Jakarta pun terdapat bangunan megah, layaknya Taj Mahal.  Masjid itu terletak di Jalan Danau Sunter Raya Selatan Blok I/10 No.12C – 14A, Sunter Jakarta Utara.

Kawasan Sunter Jakarta Utara, menjadi lokasi berdirinya Masjid Ramlee Mushofa. Tempat ibadah yang terletak berhadapan dengan Danau Sunter itu, memang gamblang terlihat fisiknya. Sebab bangunan berwarna putih itu diapit oleh bangunan mewah di bagian kanan dan kirinya.

Boleh jadi, Masjid Ramle Mushofa  layaknya ‘Taj Mahal’-nya Indonesia’. Tak saja menyerupai Taj Mahal, masjid tersebut memiliki arsitektur yang cukup menarik. Bila anda memasuki pelataran halaman, pagar berwarna hitam mesti dilewati.

Menginjakan kaki di pelataran, anda bakal melihat aksara tionghia, arab dan Indonesia di dinding  masjid. Lonceng besar pun tak ketinggalan bertengger di bagian atas masjid. Di lantai dua masjid, anda dapat melihat Danau Sunter yang terbentang bersih dari kejauhan.

  1. Masjid Istiqlal

Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengetahui keberadaan Masji Istiqlal. Selain sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Istiqlal didirikan atas prakarsa Presiden Sukarno. Masjid yang terletak di pusat Jakarta, memiliki arsitektur yang unik. Sebab perancang bangunan masjid merupakan non muslim. Ya, Frederich Silaban, seorang arsitek beragama protestan.

Bangunan yang pembangunannya membutuhkan waktu 17 tahun itu, diresmikan pada 1978 oleh Presiden Suharto. Anda sudah dapat membayangkan, Istiqlal mulai dibangun sejak 1969 di penghujung  pemerintahan Sukarno. Masjid tersebut memang unik. Bahkan memiliki filosofi.  Silaban merancang bangunan Masjid Istiqlal dengan konsep ‘Ketuhanan’. Yakni, gabungan dari nilai-nilai Islam dan nasionalisme.

Misalnya, bagian terbesar kubah Masjid Istiqlal ternyata berdiameter 45 meter. Hal itu melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia. Sedangkan lima lantai masjid, melambangkan Pancasila dan rukun Islam. Nah  kemudian, 12 pilar utama dalam masjid melambangkan lahirnya nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wassalam.

Tak hanya itu, begitu memasuki area masjid,  anda akan melihat beduk yang notabene terbesar di Indonesia. Sebagaimana diketahui, bedug menjadi benda khas budaya Islam di Indonesia. Berbeda di banyak masjid  negara-negara luar, tidak terdapat beduk. Sekalipun negara-negara timur tengah dan arab.

  1. Masjid Luar Batang

Bagi masyarakat yang kerap mengikuti majelis pengajian yang diasuh oleh kalangan habaib, tentu tak asing dengan makam seorang alim ulama, Habib Husein bin Abubakar  bin Abdillah Alaydrus. Masyarakat, lebih mengenal dengan ‘Habib Husein’. Beliau dikenal ulama dari Hadramaut Yaman, hijrah ke tanah Jawa menyebarkan agama Islam di abad 18.

Makam beliau terletak di era sebuah masjid yang dikenal dengan Jami Keramat Luar Batang. Masjid yang terletak di bilangan Penjaringan Jakarta Utara itu, dibangun oleh Habib Husein di era kolonial Belanda. Beliau wafat, 24 Juni 1756 dalam usia kurang dari 40 tahun. Dianggap sebagai seorang wali oleh pengikutnya, makam Habib Husein pun acapkali diziarahi oleh masyarakat dari berbagai tempat.

Lantas bagaimana asal nama Masjid ‘Luar Batang’?. Dahulu, konon kala Habib Husein wafat, hendak dimakamkan di wilayah Tanah Abang. Namun tetiba, jenazah Habib Husein tak ada di dalam keranda mayit atau biasa dikenal kurung batang. Terjadi sebanyak tiga kali. Walhasil, jamaah ketika itu bersepakat memakamkan jasad Habib Husein di area masjid yang kini dikenal dengan  Masjid Luar Batang.

Selain banyak masyarakat yang mengunjung Masjid Luar Batang, terdapat momen tertentu pula menjadi ajang kunjungan.  Seperti malam Maulid Nabi dan Malam Tahun Baru Hijriah.

  1. Masjid Cut Mutia

Bagi anda yang kerap melintas di bilangan menteng, tentu tak asing dengan masjid mayoritas berwarna berwarna putih. Cut Mutia, demikian nama itu masjid. Masjid Cut Mutia memang tidak berjauhan dengan Masjid Agung Sunda Kelapa. Memiliki sejarah keberadaa bangunan tersebut.

Selain peninggalan era kolonial Belanda, Masjid Cut Mutia ternyata pernah menjadi bangunan kantor biro arsitek negara kincir angin ketika menjajah tanah Nusantara. Tak hanya itu, bangunan yang ini dijadikan tempat ibadah itu, dahulu sempat menjadi kantor pos, dan kantor kereta api Belanda.

Beralih ke tangan Jepang, di periode 1942 hingga 1945, itu masjid menjadi kompetei angkatan laut Jepang. Di era pasca merebut kemerdekaan, itu masjid menjadi kantor urusan perumahan dan kantir urusan agama. Nah, ketika Jakarta dipimpinan oleh Gubernur Ali Sadikin, bangunan yang berganti-ganti peruntukannya akhirnya diresmikan menjadi Majid Cut Mutia, hingga kini.

Sejarah panjang keberadaan Masjid Cut Mutia menjadi nilai tersendiri bagi masyarakat. Nah bagi anda yang pernah sholat di Masjid Cut Mutia, suasana tenang dirasakan.

Nah, bagi anda yang berencana berwisata, cobalah memulai hal baru dengan mengunjungi masjid-masjid  di atas. Selamat berwisata religi…!!  [hdt]

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah