Khutbah Destruktif, Di Luar Masjid pun Pasti Ditolak

Masjiduna.com--Di tahun politik ini tak bisa dihindarkan agama pun seringkali dijadikan dalih. Karena itu, tidak heran banyak anjuran dan himbauan agar masjid tidak dijadikan tempat untuk berkampanye bahkan ada yang melarang khutbah politik.

Larangan khutbah berbau politik dialami oleh Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammaduyah M Jatim Nadjib Hamid MSi saat tablig akbar, Sabtu (9/3/2019). Menurut Nadjib, ia pernah didatangi polisi yang memberi tahu agar masjid tidak digunakan khotbah politik. ”Pak, bagaimana saya bisa menuruti perintah bapak, padahal di Alquran banyak sekali ayat-ayat politik?” jawab Nadjib  kepada polisi itu.

Ia mengambil contoh doa yang sehari-hari dibaca umat Islam Robbana hablana min azwajinaa qurrota a’yun wajaalna lilmuttaqiina imama. …jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman itu termasuk politik. Bagaimana tidak khutbah politik padahal doa umat adalah Allahumma malikal mulki tuktilmulka mantasya… yang jelas-jelas doa politik? Kalau khotbah yang destruktif nggak usah di masjid, di luar masjid saja pasti ditolak,” tegas alumnus pondok Persis ini.

Lantas dia menyitir surat al Hajj ayat 41 yang artinya orang-orang yang terusir itu, bila kami berikan kekuasaan, mereka mengerjakan shalat dan menunaikan zakat, menyeru kepada yang makruf dan mencegah kepada yang munkar. (imf/pwm)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *