Connect with us

Pendidikan Islam

Viral Buku Aqidah Akhlak Diskreditkan Amaliyah Tahlil, Ini Klarifikasi Penerbit

[JAKARTA, MASJIDUNA] – Buku Kerja Siswa (BKS) untuk siswa Madrasah Tsanawiyah kelas VII mata pelajaran Aqidah Akhlak terbitan CV Gema Nusa, Klaten Jawa Tengah beberapa hari ini menimbulkan polemik. Pemicunya lantaran terdapat salah satu pertanyaan yang seolah mendiskreditkan amaliyah tahlil.

Buku Kerja Siswa (BKS) mata pelajaran Aqidah Akhlak beberapa hari terakhir ini memicu polemik di tengah masyarakat. Ini disebabkan salah satu pertanyaan yang terdapat di halaman 48 pertanyaan nomer 9 seolah mendiskreditkan amaliyah tahlil. “Bersikap hati-hati dalam bergaul dengan orang-orang yang tahlil termasuk diri prilaku”, demikian bunyi pertanyaannya. Pertanyaan itulah yang menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Untuk mengonfirmasi polemik isi BKS tersebut, MASJIDUNA menghubungi pemilik penerbit Gema Nusa, Muhammad Dzikron. Menurut dia, apa yang tertulis di buku terbitanna itu murni kesalahan ketik (typo) semata.

“Jadi penulis buku itu menyampaikan tulisannya dengan tulisan tangan. Sementara kami memiliki tenaga pengetik, editor dan korektor. Jadi ketika mengetik thalih, tertulisnya tahlil jadi itu typo. Sementara korektor dan editor tidak membaca sampai di situ. Jadi ini murni kesalahan pengetikan. Kita juga tahu setelah viral,” ujar Dzikron saat berbincang melalui saluran telepon, Selasa (5/11/2019).

Dzikron memastikan tulisan tersebut murni typo lantaran di tulisan di ringkasan yang tertulis Thalih bukan Tahlil . Ia mengatakan pihaknya telah mengajukan permohonan maaf melalui perwakilan ditributor buku. Menurut dia, itu murni kesalahan ketik. Menurut dia jika permohonan maaf ini dirasa belum cukup pihaknya akan menarik buku tersebut. “Tetapi permohonan maaf ini bisa dipahami, ya kami terima kasih,” ucap Dzikron.

Penerbit Gema Nusa, kata Dzikron, memastikan buku-buku terbitan penerbitnya sellau mengacu kurikulum dan silabus yang berasal dari Kementerian Agama. Upaya tersebut bertujuan agar buku yang diterbitkan tidak mengandung polemik. “Kami selalu mengacu kurikulum dan silabus dari Kemenag,” tandas Dzikron.

[RAN/Foto Istimewa]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Pendidikan Islam