Connect with us

Khazanah

Tradisi Nisfu Syaban di Jakarta, Di Tengah Corona

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Masjid Nurul Iman di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, sudah tiga kali tidak mengadakan salat Jumat. Di depan pagar tertera tulisan: “Salat Jumat Ditiadakan Sementara”. Pada tempat yang sama, tertera: “Mohon Bawa Sajadah Masing-masing”.

Semua itu terjadi karena pemerintah dan fatwa MUI sepakat bahwa kegiatan keagamaan selama wabah corona ditiadakan. Sebagai gantinya, ibadah dilakukan di rumah.

Hal itu kemungkinan akan berlanjut hingga memasuki Bulan Puasa. Dan saat malam pertengahan bulan Syaban, yaitu malam ini, Rabu (8/42020), tidak ada tanda-tanda corona akan mereda. Padahal, malam nisfu syaban bagi warga Betawi merupakan tradisi turun-temurun, meramaikan masjid dan mushola di mana-mana.

Sejak menjelang maghrib, para lelaki dewasa dan anak-anak sudah bergegas menuju masjid dan mushola sambil menentang botol tempat minuman. Botol berisi minuman itu akan ditaroh di tengah majelis, hingga akhir acara.

Acara biasanya dimulai dari sambutan dari ustad atau tokoh agama setempat tentang keutamaan malam nisfu syaban. Salah satunya tentang amalan selama setahun yang dikerjakan manusia.

Usai sambutan singkat, acara dimulai dengan membaca surat Yasin beramai-ramai sebanyak tiga kali. Lalu dilanjutkan dengan zikir dan doa dan diakhiri dengan salat Isya berjamaah.

Suasana masjid dan mushola akan ramai seperti salat taraweh. Air yang dibawa jamaah akan segera dibawa pulang untuk diminum di rumah.

Melalui malam nisfu syaban, seolah menjadi aba-aba bahwa Ramadhan semakin kuat terasa. Apalagi bagi masyarakat Betawi yang suka berkumpul, hal semakin meneguhkan bahwa mereka akan siap-siap menyambut datangnya bulan penuh barokah.

Namun, di tengah wabah corona yang belum reda. Suasana itu tampaknya tidak akan terjadi. Himbauan untuk tidak berkumpul lebih dari 5 orang di masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) adalah salah satu yang menjadi alasan. Apalagi, Kementerian Agama dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) pun sepakat bahwa taraweh sebaiknya di rumah.

Malam nisfu syaban yang biasanya ramai boleh jadi akan sepi. Semoga tradisi ini tidak lenyap dari ibu kota.

(IMF/foto:NUonline)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah