Connect with us

Khazanah

Tazkiyatun Nafs, Terapi Jiwa yang Sakit

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Kondisi dunia saat ini yang tidak menentu telah mempengaruhi jiwa manusia. Bayang-bayang resesi ekonomi, penyebaran virus corona dan berbagai penyakit lainnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) serta tekanan antar hubungan manusia adalah beberapa penyebabnya. Banyak manusia yang kini dilanda depresi karena tekanan ekonomi, keluarga dan pekerjaan.

Tak sedikit berujung pada aksi kekerasan, baik kekerasan terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri (bunuh diri). Ayah membunuh anak, anak menganiaya orang tua, teman melukai teman, dan sejumlah aksi lain yang berujung pada penjara.

Kondisi ini bukanlah anomali pada sebuah zaman. Bukan pula kondisi normal pada diri manusia. Namun, dangat dipengaruhi oleh faktor jiwa yang kosong dari keimanan, penyerahan diri terhadap Allah sebagai sang pemberi hidup.

Lalu, bagaimana Islam memberikan tuntunan terhadap kondisi jiwa yang sakit tersebut?

Imam Al-Ghazali mendiagnosa jiwa seseorang dilihat dari beberapa gejala, seperti jiwa yang lemah. Yaitu jiwa yang mudah ditaklukan oleh rasa lapar, haus, kepanasan, kedinginan dan penderitaan. Akibatnya, jiwa mudah diliputi oleh rasa takut, cemas, khawatir dan sejenisnya. Dalam psikologis disebut gejala psikosomatis.

Menurut Al-Ghazali, penyembuhan penyakit jiwa ini harus dengan mengetahui penyebabnya. Dia mengatakan, “Ketahuilah bahwa semua akhlak yang buruk disembuhkan dengan ilmu dan amal. Penyembuhan tiap penyakit (atau jiwa) ialah dengan melawan penyebabnya. Untuk itu, kita harus meneliti dulu sebab-sebabnya.”

Penyembuhan jiwa melalui penghapusan sifat buruk dengan bantuan perbuatan amal dinamakan Al-Ghazali sebagai obat praktis (ilaj-al amali). Pengobatan ini memerlukan kesabaran yang tinggi. Inilah yang menjadi dasar Al-Ghazali menyebut bahwa penyembuhan bagi jiwa dengan akhlak buruk adalah kombinasi tiga hal: ilmu, amal dan sabar.

Dengan demikian, tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) selain sebagai pembinaan akhlak juga sebagai terapi (pengobatan).

(IMF/foto:kliksaja)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah