Connect with us

Khazanah

Selama Zakat Dimaknai Rasa Kasihan, Tidak Akan Optimal

[JAKARTA, MASJIDUNA]— Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memperkirakan bahwa potensi zakat umat Islam pada tahun 2020 mencapai Rp230 triliun. Namun, yang terealisasi hanya sekira Rp8 triliun atau 3,5 persen saja.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa potensi zakat tidak akan optimal selama paradigma masyarakat terkait zakat hanya berupa perkara menggugurkan kewajiban.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa posisi zakat infak sedekah (ZIS), wakaf, hingga hadiah di dalam Islam masuk dalam kategori filantropi (memberikan hak), bukan dalam kategori Charity (sedekah). Sehingga, asas yang menggerakkan untuk berbuat baik adalah dominasi rasa cinta kepada sesama manusia dan kemanusiaan, bukan pada dominasi rasa kasihan.

“Selama filantropi masih dimaknai sebagai charity yang belas kasihan dan kemudian masih berkorelasi the powerful dan the powerless, antara donor dan penerima, antara muzakki dan mustahik, dan pemahaman bahwa posisi muzaki itu lebih tinggi dari mustahik itu, memang potensi untuk menghimpun seperti yang sering disebut itu tidak akan bisa terwujud,” katanya dalam webinar Pusat Studi Islam, Perempuan dan Pembangunan (PSIPP) Institute Ahmad Dahlan Jakarta, Sabtu (6/2/2021).

Rasa kasihan (charity) menjadi sebab tidak optimalnya penghimpunan ZIS karena umat hanya bergerak secara spontan sehingga tidak teratur jika tidak ada pemicunya. Sementara itu, pemahaman filantropi justru membangun kesadaran bahwa memberikan sebagian haknya adalah suatu kemestian.

(IMF/foto: muhammadiyah. or.id)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah