Connect with us

Khazanah

Renungan Buya Hamka: Memelihara Kesehatan Jiwa dan Badan

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Kelebihan ulama-ulama terdahulu dalam menyampaikan dakwah adalah kedalaman ilmu dan wawasan. Sebagian di antara mereka bahkan ada yang menuliskannya dalam bentuk buku atau artikel di majalah, baik dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah juga bahasa Arab.

Nah, salah satu ulama yang pandai menyampaikan dakwah dan gagasan dalam tulisan adalah Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Ketua MUI pertama (1975) yang kini sudah di alam baka.

Salah satu buah karyanya yang tetap dibaca sampai sekarang adalah “Tasawuf Modern”yang pertama kali diterbitkan pada 1939. Membaca buku ini, tak pernah kehilangan relevansi hingga sekarang.

Pada salah satu bagian dari buku tersebut, terdapat satu bab yang diberi judul “Kesehatan Jiwa dan Badan”.

Menurut Hamka, yang disebut sehat apabila jiwa dan badan keduanya sehat. “Kalau jiwa sehat, dengan sendirinya memancarkan bayangan kesehatan itu kepada mata, dari sana memancar nur yang gemilang, timbul dari sukma yang tiada sakit. Demikian juga kesehatan badan, membukakan pikiran mencerdaskkan akal, menyebabkan juga kebersihan jiwa.”

Menurut Hamka, ada lima perkara yang bisa menyebabkan manusia sehat jiwa dan badan atau lahir batin.

Pertama, bergaul dengan orang-orang budiman. Sebab pergaulan mempengaruhi otak. Kata Hamka, pergaulan membentuk kepercayaan dan keyakinan. “Sebab itu pilihlah teman duduk yang memberi faedah bagi jiwa kita,” katanya.

Kedua, membiasakan berpikir. Untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga, biasakanlah berpikir, walaupun kecil-kecilan. “Karena bila otak dibiarkan menganggur berpikir bisa pula ditimpa sakit, menjadi bingung. Kalau otak malas berpikir kita menjadi dungu,” katanya.

Ketiga, menahan syahwat dan amarah. Orang berakal tidak akan membangkitkan angan-angan nafsu, tidak mencari dan mengorek yang akan menimbulkan marah. “Melainkan dibiarkannya syahwat dan nafsu tinggal tenteram.”

Keempat, tadbir menimbang sebelum mengerjakan. Sebelum melakukan satu pekerjaan atau keputusan, maka timbang baik-baik akibatnya. “Kalau pernah terdorong mengerjakan pekerjaan yang tiada berfaedah, hendaklah hukum diri atas kesalahan itu,” kata Hamka.

Kelima, menyelidiki aib sendiri. Maksudnya, setiap orang hendaklah takut pada aib dirinya sendiri. Sebab, manusia pada dasarnya tidak mau direndahkan suka kemuliaan. “Tapi jarang orang yang tahu akan aibnya, dan tidak tahu akan aib diri, adalah aib yang sebesar-besarnya.”

(IMF/foto:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah