Connect with us

Khazanah

Qasidah Burdah, Kisah Dendam yang Berakhir Cinta

[JAKARTA, MASJIDUNA]–-Masyarakat Islam setidaknya mengenal dua versi Qasidah Burdah. Salah satu yang paling populer adalah karya Busairy yang terdiri atas 162 bait, 10 bait di antaranya tentang cinta kasih, 16 bait tentang hawa nafsu dan 30 bait tentang pujian kepada Nabi Muhammad.

Namun, ada satu kisah lain dari Qasidah Burdah yang digubah oleh penyair arab era jahiliyah, Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma. Ka’ab dikenal dengan sebutan penyair muhadramin (penyair zua zaman: jahiliah dan Islam).

Ka’ab adalah seorang pembenci Islam dan Nabi Muhammad. Dia hidup sezaman dengan Rasulullah dan melalui syair-syairnya dia selalu menjek-jelekkan Nabi Muhammad.

Hingga suatu ketika, setelah membuat syair, Ka’ab pun ketakutan sehingga bersembunyi untuk menghindari kemarahan para sahabat Nabi. Namun kakaknya yang bernama Bujair bin Zuhair berkirim surat kepadanya agar segera menemui Nabi dan minta maaf.

Lewat perantara Abu Bakar Shidiq, Ka’ab pun berhasil bertemu dengan Nabi dan meminta maaf atas sikapnya selama ini. Dan benar saja, Rasulullah pun memaafkan perilaku Ka’ab meski para sahabat tidak bisa bisa menerima. Tapi Rasulullah tetap meyakinkan para sahabat bahwa Ka’ab sudah selayaknya dimaafkan karena sudah bertobat dan minta maaf.

Sebagai bentuk penghargaan atas sikap Nabi yang lembut dan tidak pendendam itu, Ka’ab pun menuliskan Banat Su’ad (Wanita-wanita Bahagia). Qasidah ini terdiri dari 59 bait dan disebut juga Qasidah Burdah.

Salah satu bait dari Qaisdah Burdah ini berbunyi:

“Janganlah engkau menghukumku berdasar kata-kata para pengadu domba, padahal aku tidak bersalah, meski banyak di jadikan telah beredar banyak gosip.”

Penyebutan “Burdah” yang berarti baju kebesaran khalifah merujuk pada baju milik Nabi Muhammad yang diserhkan kepada Ka’ab. Tapi Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan membelinya seharga 200.000 dirhan dan kemudian dibeli lagi oleh Khalifah Abu Ja’far al Manshur dari dinasti Abbasiyah seharga 400.000 dirham. (IMF, sumber foto Pustaka Muhibbin )

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah