Connect with us

Sosok

Puisi “Rasanya Baru Kemarin” Jilid III dari Menag untuk Mbah Moen

[REMBANG, MASJDIUNA] – Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin membacakan puisi khusus dibuat untuk kepergian KH. Maimoen Zubair. Puisi tersebut dibaca saat peringatan 40 hari Mbah Moen di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Sabtu (14/9/2019) malam.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin membacakan puisi karyanya yang dibuat pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2019 itu khusus disampaikan saat peringatan 40 hari Mbah Moen. Sebelum membacakan puisinya itu, Lukman menyebutkan judul puisi yang ia bawakan adalah “Rasanya Baru Kemarin”.

Menariknya, puisi dengan judul yang sama pernah ia persembahkan untuk dua orang yang ia hormati yakni almarhum KH. Ahmad Toyfoer (ayahanda Arwani Thomafi) serta almarhum Taufik Kiemas (mantan Ketua MPR). Kali ini, untuk ketiga kalinya puisi dengan judul yang sama dipersembahkan untuk almarhum Mbah Moen.

“Saya tiga kali membuat puisi dengan judul “Rasanya Baru Kemarin”, saya buat khusus kepada sosok yang saya takdimi. Pertama kepada KH. Ahmad Toyefoer Lasem, kedua Pak Taufik Kiemas karena saya memiliki kesan sendiri dan ini kali ketiga menulis tulisan dengan judul “Rasanya Baru Kemarin”,” ujar Menag sebelum membacakan puisinya.

RASANYA BARU KEMARIN..

oleh: Lukman Hakim Saifuddin

Rasanya baru kemarin,
Kabar duka itu datang bertubi
Memenuhi grup-grup WA dan japri
Bertebaran banyak sekali
Di media online dan media sosial pun tak terkecuali

Rasanya baru kemarin,
Setelah subuhan itu terasa begitu lemas
Membaca kabar duka yg datang deras
Kuterbenam dalam bayang-bayangnya yg melintas bebas
Namun seketika datang dorongan untuk segera bergegas

Rasanya baru kemarin,
Pengemudi setiaku memacu mobilnya secepat dia bisa
Mengarungi lajur dan jalur jalanan kota
Berpacu dengan mentari pagi yang tak kunjung tampakkan sinarnya
Menuju RS An-Nur di Mekkah di daerah Al-Hijra

Rasanya baru kemarin,
Tiba di sana langsung dikerubuti jemaah haji kita
Kusibak kerumunan jemaah tuk mengenali yang bisa kutanya
Lalu dibawanya aku ke pintu yang ketat dijaga
Memasuki suatu ruang yang tak setiap orang bisa berada di dalamnya

Rasanya baru kemarin,
Dalam ruangan itu kusaksikan deretan laci-laci besi kekar
Bertingkat berjenjang berbanjar berjajar
Dan dalam deretan laci bagian tengah pada tingkatan dasar
Terbujur di sana dengan tenang Kiai Bangsa ulama besar

Rasanya baru kemarin,
Kuberlutut menatap wajah teduhnya
dengan mata basah dan bibir bergetar
Kutatap wajahnya tersenyum berbinar
Wajah yang begitu teduh pancarkan sinar
Doa kupanjatkan disertai istighfar

Rasanya baru kemarin,
Berbagai kalangan menghubungiku memberi saran
Beberapa kiai meminta jenazah dibawa ke Tanah Air untuk dimakamkan
Keluarga dan kerabat berharap di Ma’la dikebumikan
Kami lalu berbenah melaksanakan

Rasanya baru kemarin,
Gemuruh tahlil iringi jenazah dimasukkan ke ambulan
Menuju Al-Khalidiyah jenazah akan dimandikan
Ambulan berjalan perlahan di bawah mendung kesedihan awan
Langit menangis meneteskan rintik hujan

Rasanya baru kemarin,
Seusai memandikan jasadnya dengan gejolak hati
Sepenuh takdzim membaringkan di atas berlembar kain putih bersih untuk dikafani
Lalu kukecup kening wajahnya nan berseri
Duka nestapa terbasuh semerbak wangi

Rasanya baru kemarin,
Simbah kami semayamkan di Kantor Urusan Haji Daker Mekkah
Lalu kami hantarkan ke Masjidil Haram bersama jemaah yang melimpah
Tak terhitung tangan-tangan yang menengadah
Memohon Simbah berpulang husnul khatimah

Rasanya baru kemarin,
Pemakaman Jannatul Ma’la disesaki kerumunan orang
Sekerumunan menghadang
Meminta mensalatkan sehingga iringan keranda terhalang
Tak mudah setelahnya mencapai liang
Penta’ziyah berlomba sentuh keranda di tengah tahlil yang terus berkumandang

Rasanya baru kemarin,
Simbah dimakamkan di tempat yang beliau citakan
Tak ada bunga-bunga yang ditaburkan
Tiada air wewangian yang disiramkan
Namun bersusul-susulan doa yang dipanjatkan

Rasanya baru kemarin,
Simbah pergi meninggalkan kita semua
Namun apakah Simbah benar-benar meninggalkan kita?
Bukankah ajaran, wejangan, dan arahannya
Kan tetap dan terus mengada bersama menjaga kita?

Ragunan, 09-09-2019

Lukman dengan baik menuliskan dan membacakan puisinya itu hingga para jamaah peringatan 40 hari Mbah Moen terkesima mendengar kata demi kata yang disampaikan Lukman.

Di akhir kesempatan Lukman menyebutkan Mbah Moen secara fisik tidak lagi bersama-sama para santri dan pecintanya, namun nasihat dan wejangan kiai kharismatik itu tetap menjadi pedoman semuanya. “Semoga Allah memberikan kekuatan dalammenjalankan apa yang selama ini menjadi nasihat dan wejangan beliau,” tutup Lukman. [RAN]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok