Connect with us

Sosok

Mengenang Haji Samanhudi, Pendiri Sarekat Dagang Islam

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Nama Haji Samanhudi sayup-sayup terdengar bila dibandingkan dengan nama-nama besar lain dalam bidang ekonomi Islam. Padahal, jasanya dalam menghimpun dan majukan para saudagara sangat besar.

Haji Samanhudi adalah pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) yang menjadi cikal bakal Sarekat Islam (SI), organisasi perjuangan melawan penjajah di bawah HOS Cokroaminoto.

Haji Samanhudi yang lahir di Karanganyar, Solo, 1868, mendirikan SDI untuk menghimpun dan menggerakan para pedagang pribumi, terutama para pedagang batik di Solo terhadao superioritas pedagang Tionghoa dan para bangsawan.

Organisasi ini pertama-tama diarahkan pada usaha untuk memperbaiki pedagang bumiputera dalam persaingannya dengan golongan pedagang Tionghoa.

Dalam waktu singkat, organisasi baru ini mendapatkan banyak pengikut. Salah satu daya tariknya adalah mendorong para pedagang meningkatkan kemampuan dan membuka wawasan kebangsaan tentang dominasi kaum penjajah. Itulah yang menyebabkan SDI berubah menjadi SI pada 11 November 1912, menjadi partai pribumi terbesar kala itu.

Selain pedagang, Haji Samanhudi adalah seorang penuntut ilmu. Ketika kecil dia belajar agama kepada Kiai Jojerno di Surabaya. Kemudian masuk sekolah rakyat 6 tahun di Solo ketika sudah berusia 13 tahun.

Memasuki masa remaja dia menjadi pedagang, meneruskan tradisi ayahnya Haji Muhammad Zein. Pada usia 19 tahun, dia membuka usaha batik sendiri yang cepat berkembang hingga ke Tulungagung, Purwokerto,Surabaya, Banyuwangi, Bandung dan Tarakan. Di Solo saja, pekerjanya mencapai lebih 200 pekerja. Dia terbilang orang kaya di Solo.

Tidak heran, banyak kegiatan SDI mulai dari kongres hingga operasional dia biayai sendiri. Namun akhirnya Haji Samanhudi jatuh miskin. Karena jasa-jasanya pemerintah memberikan uang pensiun Rp75 per bulan. Haji Samanhudi meninggal di Klaten pada 28 Desember 1956, beberapa saat setelah pulang dari Jakarta untuk mengucapkan terimakasih kepada pemerintah dan berziarah ke makam Haji Agus Salim (Ketua SI setelah HOS Cokroaminoto).

(IMF/foto: wikipedia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok