Connect with us

Ekonomi Islam

Memetakan Potensi Sengketa Aset Wakaf

Tertib administrasi adalah kunci. Melakukan penguatan kompetensi bagi  para pemangku jabatan perwakafan demi mencegah hilangnya objek wakaf. Tanah misalnya.

[TANGERANG, MASJIDUNA] —  Memetakan potensi terjadinya sengketa wakaf bagi instansi terkaitmenjadi keharusan. Apalagi praktik  wakaf di tanah air terus mengalami perkembangan signifikan. Itu sebabnya, Kementerian Agama mulai melakukan hal tersebut sebagai bagian mitigasi sengketa yang kerap timbul di masyarakat. Hal itu dilakukan karena banyak aset wakaf terseret dalam sengketa.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama, Kamaruddin Amin berpandangan, para pemangku perwakafan perlu menguasai seluk beluk pertanahan dan perwakafan. Soalnya  kerap kali terjadi masalah tanah wakaf berstatus sengketa, atau tanah wakaf berujung sengketa. Hal tersebut akibat ketidakpahaman terhadap persoalan pertanahan.

 “Tertib administrasi adalah kuncinya. Khususnya para kepala KUA, harus paham UU pertanahan dan regulasi perwakafan,”  ujarnya dalam ‘Meeting Forum Pengamanan Aset Wakaf’, Selasa (10/11) di Tangerang, Banten.

Dia mengingatkan, besarnya potensi wakaf berbanding lurus dengan besarnya potensi sengketa. Penyebabnya, meningkatnya valuasi aset wakaf. Nah karena itulah  tetrdapat berbagai celah administrasi menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak yang ingin mengambil alih demi keuntungan tertentu.

Lebih lanjut Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu berharap agar  para pejabat terkait agar melakukan pemetaan awal sebagai langkah pencegahan hilangnya aset wakaf. Caranya dengan melakukan penguatan kompetensi para pemangku jabatan perwakafan. Menurutnya, pengamanan aset wakaf menjadi prioritas pemerintah dalam menggenjot potensi wakaf.

Oleh karena itu, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag secara periodik melakukan pembekalan bagi para kepala KUA dan pejabat perwakafan. Yakni  melalui kegiatan meeting forum pengamanan aset wakaf.

[AHR/Kemenag/Ilustrasi:antara]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Ekonomi Islam