Connect with us

Politik Islam

Masyumi Reborn: Harapan yang Tak Pernah Pudar

[JAKARTA, MASJIDUNA]-–Memori masa lalu saat partai Islam ideologis Masyumi punya pengaruh, masih tertanam kuat saat ini. Tengok saja acara “Masyumi Reborn” yang digelar di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Sabtu (7/3/2020) yang dihadiri sejumlah undangan, sebagian besar mantan politisi dan alim ulama, seperti Sri Bintang Pamungkas (PPP), MS Kaban (PBB), Bachtiar Chamsyah (PPP) dan Eggy Sudjana (pengacara), Abdulah Hehamahua (mantan penasihat KPK), dan KH Cholil Ridwan (ulama).

Meski bukan deklarasi pendirian partai–disebut Badan Persiapan Usaha Pendirian Partai Islam Ideologis–namun aura semangat untuk mendirikan partai Islam jelas terasa. Sejumlah tokoh yang pernah tergabung dalam Masyumi seperti KH Hasyim Asyari, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo dan tentu saja Mohammad Natsir, fotonya terpampang di podium. Mereka sudah meninggal semua. Namun jejak dan kiprahnya dalam membesarkan Masyumi di tahun 50-an, masih dijadikan teladan.

Menurut Ketua Panitia Persiapan Pendirian Partai Islam Ideologis (P-4II) Ahmad Yani, acara silaturrahim nasional ini menjadi penting dan menentukan dalam dakwah politik Islam dan kelanjutan sejarah penting Masyumi dalam politik Indonesia. “Sebagai partai politik Islam yang telah menjadi legenda politik umat Islam, tentu kehadiran Masyumi adalah panggilan sejarah,”demikain kata Yani, yang kini bergabung di PBB.

Kata mantan politisi PPP ini, setidaknya ada tiga alasan penting kenapa harus Masyumi Reborn:

Pertama, untuk Membangkitkan Politik Islam. Kedua, untuk Mengikat Persatuan dan Kesatuan Umat dan ketiga untuk meluruskan kondisi perpolitikan Indonesia seperti dikatakan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo bahwa “partai sudah pragmatis”.

Namun, apakah rencana pendirian Masyumi, yang sudah terkubur lebih dari 50 tahun lalu itu masih memberi daya tarik masyarakat saat ini? Saat ini saja, ada empat partai Islam yang masuk parlemen, dan tidak ada yang berada dalam urutan tiga besar. Yaitu Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berada di posisi buncit dari sisi ambang batas parlemen. Nah, dari ruang sempit partai berbasis Islam itu, adakah harapan bagi Masyumi untuk merebut hati umat? Ini memang perjuangan yang sangat berat.

Bahkan Partai Bulan Bintang (PBB) yang merupakan “jiplakan” dari Masyumi tidak lolos ke parlemen.

Persoalan lain dari sisi branding, partai ini sudah terdengar samar-samar. Apalagi anak-anak muda yang lahir pada tahun 1990-2000 an, tampaknya tidak mengenal partai besutan Mohammad Natsir ini.

Tidak berarti perjuangan ini tidak membuahkan hasil. Saran dari Bachtiar Chamsyah yang menyebutkan tidak perlu ada kongres, cukup dengan mengundang alim ulama dalam memilih pemimpin dan pengurus partai partai, patut dipertimbangkan. “Jangan melakukan kongres. Kalau membuka ruang kongres, enggak lama nasibnya,” katanya.

Saran dari mantan staf khusus Wapres Prof Laode M Kamaluddin juga patut didengar. Kata Laode, kebangkitan Masyumi harus berbasiskan talenta agar bisa diterima di tengah generasi milenial. “Masyumi yang mau bangkit harus berbasis talenta. Jadi, dibutuhkan niat, keteladanan, dan talenta,” ujarnya.

Nah, selamat reborn Masyumi. Perjuangan masih panjang.

(IMF/foto:istimewa)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Politik Islam