Connect with us

Sosok

Lupakan Valentine, Ingat 5 Ulama Ini Lahir Bulan Februari

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Memasuki bulan Februari, sebagian orang masih menghubungkannya dengan valentine’s day alias hari kasih sayang. Sayangnya, hari valentine seringkali diisi oleh kegiatan berbau maksiat.

Daripada mengenang hari valentine, alangkah bagusnya bila umat Islam mengenang sejumlah ulama yang lahir di bulan Pebruari. Setidaknya ada lima ulama besar yang lahir pada bulan ini.

Pertama, Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin Al-Bantani atau lebih dikenal dengan sebutan Abuya Dhimyati Al-Bantani. Ulama asal Pandeglang, Banten ini, merupakan salah satu guru para ulama di Pulau Jawa. Para santrinya yang berasal dari Jawa sering menyebutnya Mbah Dim. Dia lahir pada 7 Februari 1930, dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah yang juga merupakan murid dari Syeikh Tubagus Ahmad Bakri Purwakarta.

Pada tahun 1965 Abuya Dhimyati merintis sebuah pesantren di desa Cidahu, Pandeglang Banten. Salah satu santrinya adalah Habib Hasan bin Ja’far Assegaf yang sekarang ini menjadi pemimpin Majelis Nurul Mustafa di Jakarat.

Mbah Dhim meninggal pada tanggal 3 Oktober 2003, pada usia 73 tahun. Banyak masyarakat yang kehilangan atas wafatnya ulama kharismatis yang sering menolak bantuan dana dari pejabat ini.

Kedua, Imam besar masjidil Haram Prof. Dr. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Abdul aziz bin Muhammad as-sudais, atau yang lebih dikenal dengan nama Abdurrahman As-sudais. Dia lahir pada 10 pebruari 1960 di kota Bukairiyah, Provinsi Qasim. Nama Abdurrahman As-Sudais dikenal di tanah air lewat lantunan muratal-nya.

Tapi selain ahli qiraat, As-Sudais juga merupakan seorang akademisi. Dia lulus dengan predikat cumlaud saat menempuh studi magisternya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Arab Saudi.

Setelah rampung menempuh program magister, Abdurrahman As-sudais keudian melanjutkan program doctoral di Umm Al-Qura’ dan lulus dengan predikat Cumlaud. Ia mendapatkan gelar Profesor dalam bidang Ushul Fiqih atas penelitiannya mengenai permasalahan-permasalahan Ushul Fiqih yang terkait dengan dalil-dalil syar’I yang dipertentangkan Ibnu Qudamah Al-Azali.

Ulama Ketiga yang lahir Pebruari adalah KH Hasyim Asy’ari, yang lahir pada 14 Februari 1871. Mbah Hasyim, demikian para keturunan dan pengikutnya biasa menyapa, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ormas Islam terbesar di Indonesia.

Andil Mbah Hasyim kepada republik, selain mendirikan lembaga pendidikan keagamaan (Ponpes Tebuireng) juga ikut dalam proses kemerdekaan Indonesia. Pasalnya beliaulah yang mencetuskan fatwa Resolusi Jihad untuk melawan penjajah.

Ulama keempat adalah Muhammad Quraisy Shihab, yang lahir pada 16 Februari 1944. Salah satu bidang kajian yang dia tekuni adalah tafsir quran (salah satu karyanya “Tafsir Al Misbah”). Dia banyak menulis buku agama yang landasannya diambil dari quran dan sunah.

Selain pernah menjadi Rektor IAIN (sekarang UIN Syarif Hidayatulah), dia juga pernah menjadi menteri agama di era Presiden Soeharto. Baru-baru ini, ayah dari pembawa acara Nazwa Shihab ini mendapatkan penghargaan dari pemerintah Mesir untuk bidang seni dan ilmu pengetahuan.

Dan ulama kelima yang lahir pada bulan Pebruari adalah Buya Hamka atau nama lengkapnya Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah. Lahir pada 17 Pebruari 1908 di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun).

Hamka adalah sosok ulama, pejuang, politisi dan juga sastrawan. Dalam usia yang relatif muda sudah merantau ke tanah suci. Sepulang ke tanah air dia terjun sebagai wartawan dan penulis sekaligus guru agama.

Di masa Orde Baru, dia ditunjuk sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama. Selain aktif di MUI, pendiri Majalah Panji Masyarakat ini juga aktif sebagai anggota Muhammadiyah dan berdakwah di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pernah menganugerahkan gelar doktor honoris cause kepadanya. Salah satu karyanya yang paling fenomenal adalah “Tafsir Al-Azhar” (30 jilid) dan novel “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk “.

(IMF/foto:grid.id)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok