Connect with us

Khazanah

Kisah Menjelang Kemerdekaan: Laskar Hizbullah

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Kemerdekaan Indonesia bisa dikatakan tidak terjadi dengan perencanaan matang. Para tokoh pemuda Indonesia dan pemimpin militer Jepang di Indonesia, tak ada yang bisa memastikan kapan Indonesia harus merdeka. Tapi harapan dan impian itu tidak pernah hilang.

Memasuki tahun 1945, ketika dunia dilanda perang dunia II, kondisi di tanah air pun ikut terpengaruh. Gejolak terbebas dari penjajahan terus meningkat.

Pada Januari 1945, terbentuklah Laskar Hizbullah. Laskar yang menerima pemuda berusia 16-25 tahun untuk dilatih dijadikan pasukan cadangan.

Sebulan kemudian, pelatihan pertama dilaksanakan di Cibarusah, Bekasi, yang diikuti 500 peserta dari seluruh Jawa.

Dalam buku “Jejak Laskar Hizbullah Jombang” karya Mochmmad Faisol, dikisahkan suasana pelatihan yang sebagian besar adalah para santri itu.

Setiap pagi, peserta mengikuti jadwal rutin yaitu salat subuh berjamaah. Kemudian sebelum apel dilaksanakan seluruh peserta membaca doa: “Rodlitubilahi robba, wabil Islamidina, wabi Muhammadin Nabiya warasula”. Ikrar dalam bentuk doa itu dibacakan serentak dengan suara keras. “Yang pasti peserta menolak melakukan seikerei (menghormat ke arah matahari terbit).” Demikian, seperti digambarkan buku tersebut yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng 2018.

Selama pelatihan, suasana terbilang serba darurat. Bahkan, banyak peserta yang terserang disentri sehingga harus berhenti makan nasi.

Latihan berakhir pada 20 Mei 1945. Peserta yang dinyatakan lulus berhak membentul laskar Hizbullah di daerah masing-masing. Surat keterangan lulus ditandatangani oleh KH Hasyim Asy’ari selaku ketua Masyumi. Di sinilah kecerdikan para pemimpin Masyumi. Meski laskar ini dibentuk atas perintah Jepang, tapi yang menandatangani justeru seorang pemimpin Masyumi yang juga pendiri Nahdlatul Ulama.

Surat keterangan tanda lulus pelatihan diberi tanda lafad “Laa ilaha ilallah” di bagian atas, tanda tangan ketua Masyumi dan tahun pengesahan 19 Mei 2605 (kalender Jepang untuk tahun 1945). Bendera laskar Hizbullah adalah bulan sabit dan bintang, yang juga identik dengan bendera Masyumi kala itu.

Dalam perjalanan Republik, laskar ini memberikan kontribusi besar terhadap perlawanan dari pihak penjajah seperti Jepang dan tentara sekutu. Bahkan ketika TNI (Tentara Nasional Indonesia) terbentuk, laskar ini pun meleburkan diri sebagai kekuatan pertahanan rakyat.

(IMF/foto: pesantren.id)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah